Perempuan dan Sentimen Berlebihan

Sudah jamak di kalangan perempuan ‘baik-baik’ bahwa sebatang rokok bagi perempuan merupakan hal yang tidak lumrah. Bahkan rokok akan selalu mereka asosiasikan dengan kata nakal dan berkembang hingga menyudutkan perempuan perokok sebagai perempuan lacur.

Padahal, apakah mereka sudah menelisik lebih jauh kehidupan pribadinya? Jangan-jangan perempuan perokok itu justru pejuang kemanusiaan, pengusaha sukses, inspirator, dan lain sebagainya.

Sinisme tersebut diperkuat dengan respon yang mereka pertontonkan ketika melihat kaum mereka  merokok terang-terangan. Seperti pengalaman saya. Terlebih dengan penampilan saya yang mengenakan kerudung yang sejak taman kanak-kanak meski belum konsisten seperti perempuan-perempuan kekinian dengan jilbab syar’inya . Aih, saya jadi teringat perempuan-perempuan tempo dulu yang diabadikan di atas kanvas maupun buku-buku sejarah. Sederhana dengan balutan selendang melingkar di kepala.

Nah, yang menimpa saya ini sungguh memilukan hati. Komentar miring pun akhirnya meluncur.

“Kok sekarang kamu gini?” atau “Mana ada rokok menyehatkan!”

Rentetan kalimat itu membekas, mengoyak, dan menimbulkan perlawanan batin karena yang membilang kawan sendiri. Begitu mudahnya label dalam balutan keheranan itu disematkan. Bukankah manusia akan terus menemukan hal baru dalam hidupnya lalu cara pandangnya turut terbarukan. Saya ragu perempuan ‘baik-baik’ pernah menyempatkan membaca sejarah panjang rokok, merenungi nasib petani-petani tembakau dan cengkeh, atau berusaha mempertahankan kedaulatan yang dirongrong bengisnya kekuasaan.

Ide tentang bahaya merokok sudah terlanjur solid di pikiran sehingga sejarah panjang racikan tembakau dan cengkeh belum menggugah alam pemikiran. Saya juga ragu perempuan ‘baik-baik’ pernah menemukan arti pemandangan perempuan senja meracik, melinting, dan menikmati sebatang rokok di pelosok negeri.

Padahal bagi perempuan-perempuan senja, rokok adalah perihal perjuangan hidup dan kehidupan semasa penjajahan bahkan sampai era teknologi macam sekarang datang. Justru decak kagum semestinya disuarakan, mengingat mereka tidak mudah begitu percaya pada bualan iklan dan tetap menjadi perempuan berpikiran merdeka.