Kamboja, Pasar Ekspor Tembakau Sumatera Utara

Sumber Foto: Historia

Tembakau dari Indonesia adalah salah satu tembakau terbaik di dunia. Di indonesia, ada satu jenis tembakau yang harganya mencapai Rp 1 juta perkilo bernama srintil. Pun di Indonesia, ada tembakau deli yang biasa digunakan untuk membuat cerutu, dan menjadi salah satu tembakau terbaik untuk itu.

Jika selama ini urusan tembakau yang kerap digembar-gemborkan kelompok anti tembakau adalah perkara impor yang membesar dan dianggap merugikan petani, maka mereka perlu memahami bagaimana tembakau dari Sumatera Utara ini menjadi primadona di pasar dunia. Pasar tembakau ini memang berada di banyak negara setelah dibawa terlebih dahulu ke Jerman untuk dilelang.

Bahkan, ketika lelang tembakau di Jerman itu dihentikan, tembakau dari Sumatera Utara tetap memiliki pasar dan masih menyumbang devisa yang tidak sedikit bagi daerahnya. Total, pada Januari-Februari 2016, nilai ekspor total tembakau Sumut mencapai USD58,590 juta dolar AS atau naik dari periode sama 2015 yang masih USD49, 031 juta.

Kini, pasar terbesar bagi tembakau sumut adalah Kamboja. Mereka menjadi pasar terbesar bagi ekspor tembakau sumatera utara setelah lelang tersebut dihentikan. Setelah Kamboja, tembakau sumut juga diekspor ke Thailand dan Vietnam. Sederhananya, setelah lelang dihentikan pengiriman tembakau langsung ditujukan pada negara pembeli.

Hal seperti ini amat jarang diketahui publik karena kebanyakan isu yang berkembang soal tembakau hanya menyasar pada persoalan kesehatan dan impor tembakau. Dan kebanyakan isu ini justru dibuat oleh kelompok anti tembakau. Padahal, ekspor tembakau Indonesia di pasar di dunia terhitung lumayan menghasilkan bagi negara dan para petani.

Seandainya pemerintah lebih memperhatikan keadaan para petani, bukan tidak mungkin keuntungan yang didapat dari sektor tembakau akan semakin meningkat. Bukan cuma menggantungkan pendapatan negara dari cukai dan pajak, tapi juga dari penerimaan akibat ekspor yang meningkat.