Beban Berat Petani Tembakau di Kala Ramadan

Memasuki musim tanam tembakau tahun ini, tidak semua petani tembakau menyambutnya dengan riang gembira. Pasalnya, musim tanam tahun ini datang berbarengan dengan masa awal ajaran sekolah dan datangnya bulan ramadan serta lebaran. Menyambut ketiga hal tersebut secara bersamaan tentu bukan perkara mudah bagi mereka.

Untuk modal tanam saja mereka harus mengeluarkan biaya puluhan juta. Tentu saja beban pemeliharaan yang besar itu akan terus dikeluarkan hingga menyambut akhir masa panen. Sementara beban lainnya dari awal tahun ajaran sekolah dan lebaran juga harus mereka pikirkan.

Bagi masyarakat Indonesia, khususnya yang merayakan Hari Raya Idul Fitri, lebaran adalah salah satu perayaan penting yang membutuhkan uang yang tidak sedikit. Beban biaya akan dikeluarkan untuk membuat banyak makanan bagi para tamu dan keluarga besar, membeli pakaian baru, hingga memberi ‘angpau’ pada sanak keluarga harus dipersiapkan.

Sementara itu, tahun ajaran sekolah yang datang tidak lama setelah lebaran juga menuntut seragam sekolah baru, sepatu baru, juga buku dan alat tulis yang juga baru. Itu belum tambahan biaya masuk sekolah dan biaya bulanannya.

Karena itulah, tidak sedikit petani tembakau yang merasa gelisah. Apalagi bantuan modal adalah hal yang cukup sulit mereka dapatkan, mengingat bank-bank teramat sulit mengeluarkan modal untuk mereka.

Padahal jika kita mengacu pada peraturan mengenai Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBH CHT), maka pemasukan daerah dari dana cukai tersebut harus dialokasikan kepada para petani tembakau. Bukan hanya berupa modal dan bantuan untuk masa awal tanam, tapi juga untuk peningkatan teknologi pertanian.

Sayangnya, hal ini tidak banyak didapatkan para petani. Dinas pertanian daerah mungkin memberikan sedikit bantuan berupa bibit tembakau yang akan ditanam, namun beban besar pemeliharaan tetap saja harus ditanggung para petani. Sementara itu, pemerintah daerah yang menikmati anggaran dana bagi hasil cukai tersebut tidak memberi bantuan setelah bantuan bibit di awal masa tanam.

Persoalan semacam ini jamak terjadi di banyak daerah. Padahal, jika mereka melewatkan masa tanam tembakau otomatis akan membuat mereka merugi karena pendapatan dari tembakau terbilang signifikan bagi mereka untuk bertahan hidup. Selain itu, jika mereka harus meminjam ke tengkulak, otomatis bunga pinjaman akan tinggi dan tetap membebani mereka.

Karena itulah, pemerintah baik di daerah maupun pusat harus lebih memperhatikan nasib para petani tembakau. Jangan sampai mereka melewatkan masa tanam yang artinya memperberat beban hidup mereka. Berikanlah bantuan modal, mintalah bank-bank yang ada untuk memberikan kredit ringan untuk produksi mereka. Jangan melulu hanya mau menikmati pemasukan dari tembakau tapi tidak mau memperhatikan nasib petani dan industrinya.