Ahok, Susi, dan Bahasa Lenong tentang Rokok

Sumber Gambar: Kompas.com

“Bu Susi kan buka tas, dia ngeluarin tisu, biasanya kan ngeluarin rokok. Eh gue bilang, ‘Lu enggak boleh ngerokok ya’. Saya mau becandain saja,” kata Ahok di Balai Kota, Rabu petang.

Lontaran Ahok yang disebutnya sebagai candaan itu memang bukan sesuatu yang aneh bagi umumnya warga Jakarta. Dianggap aneh pun tak keliru juga sih, bukankah kita masing-masing telah didewasakan oleh kemajemukan persepsi sebagaimana Indonesia dengan kekayaan tradisi dan budayanya. Nah Gubernur DKI yang dikenal ceplas-ceplos ini, memang gaya bahasanya terbilang senada dengan gaya humor masyarakat Betawi saat berguyub ria dengan sesamanya.

Sebagai orang panggung, saya melihat ini semacam bahasa kreatif dari dunia lenong. Dimana ping-pong (dialog) antar pelakon berlangsung spontan, tanpa tendensi apalah apalah. Menilik bahwa komunikasi adalah drama (Keneth Burke), dimana bahasa dipandang sebagai suatu respon strategis manusia terhadap suatu situasi tertentu yang dihadapinya. Dari situ jelas tersirat kesadaran casting dan blocking yang terjalin elok antara Ahok dan Bu Susi. Kalau pun ada yang menganggap itu sebagai bagian dari bahasa politik tertentu, ya itu sah-sah saja.

Mungkin bagi yang tidak terbiasa dengan candaan orang Betawi ala Ahok bakal lekas terjangkit baper, lantas minggat mencari tembok ratapan. Tak ada tembok ratapan, wall facebook pun jadi. Emangnya Ahok orang Betawi ? Yaelah, Bro…Artis yang ada di televisi bergaya ceplas-ceplos ala Betawian juga tidak semua orang Betawi tuh. Terus dicandai seperti itu lantas Bu Susi ngambek, ya tidak juga.

Justru ciamiknya, Bu Susi yang dikenal “Rambo” dalam menyikapi para perampok kekayaan laut kita, dengan gaya yang tak jauh beda, lantas menimpali dengan lontaran, “eh lu gubernur bikin gue susah ngerokok lu satu Jakarta.” Selain timpalan itu diacungi pula kepalan tangan ke arah Ahok, yang istilah Betawi-nya diacungi bogem. Wadezig.

Kalau saja Bu Susi mengidap keunyuan remaja puber yang lebay menafsir bahasa “lenong”, boleh jadi gestur kiss bye dan kedap-kedip mata genit yang akan dilayangkannya ke Ahok. Ya kalee… Rambo berdarah Jawa yang mahir berbahasa Sunda dan bahasa Jerman ini seunyu ABG cabe-cabean. Dan tak mungkin juga lantas Bu Susi angkat selop untuk (seakan-akan) dilempar ke arah Ahok. Emangnya Ahok makhluk apakah gitu. Nah, dari sisi itu bisa ditengarai dong, apa itu kesadaran casting dan blocking. Sadar posisi sadar bersikap.

Lalu apa kesimpulan yang bisa dipetik dari peristiwa candaan itu. Dari kaca pandang makhluk lenong seperti saya, ada dua hal menarik yang bisa dipetik dari peristiwa “lenong” itu. Pertama adanya stereotype terhadap perokok atas segala tindak tanduknya. Dan yang ke dua, ada siratan pesan (muatan yang dikandung dalam kritik) dari timpalan Bu Susi. Bahwa perokok selama ini diposisikan sebagai konsumen yang dirugikan oleh pamong pengambil keputusan, yang terkesan ingin taat dalam penerapan aturan. Namun di lain sisi malah menyepelekan aturan penyempurnanya. Apa itu aturan penyempurnanya ?

Ya, kalau perokok dilarang merokok sembarangan, sudah semestinya disediakan ruang merokok yang manusiawi untuk memenuhi hak para perokok. Tentu supaya perokok tidak merasa dibikin susah. Penyediaan ruang-ruang, atau pun tempat-tempat yang ditetapkan untuk perokok merupakan public good yang tak bisa dianggap sepele. Yang sebetulnya bisa dibangun dari serapan pendapatan daerah, semisal pemasukan dari reklame iklan rokok.

Hak atas ekspresi budaya (baca: merokok) itu di beberapa negara lain, seperti Jepang dan Singapura, betul-betul jadi perhatian Pemerintahnya. Sehingga tidak ada lagi pihak yang merasa dibikin susah, baik perokok maupun non, masing-masing memiliki kesadaran atas haknya. Seturut putusan Putusan MK No. 57/PUU-IX/2011 atas UU Kesehatan No.36/2009, jika putusan itu sungguh-sungguh dilaksanakan dengan baik, sebab pengadaan ruang merokok adalah bagian dari hak konsumen atas produk legal yang dikonsumsinya. Maka celetukan bernada kritik seperti yang Bu Susi lontarkan di atas jelas salah alamat. Bukan gitu, Pak Ahok ?