Berbanggalah atas Selera, Juga  Kretek Indonesia

De gustibus non est disputandum

Tidak jarang teman, sebut saja yang belum tercerahkan, menganggap kretek adalah (melulu) rokok non filter. Sejarahnya memang demikian, rokok kretek pada awalnya tidak menggunakan filter. Bahkan sampai kini masih pula distereokan bunyi gurauannya, “itu kan rokoknya aki-aki”, seturut itu pula, bunyi usang yang membilang kretek adalah rokoknya kelas profesi rendahan, masih saja berlaku.

Itulah fakta obyektif masyarakat pasca kolonial. Masyarakat korban politik belah bambu. Bawah diinjak atas diangkat. Kretek dituduh rokoknya kuli pelabuhan lah, tukang becak lah, dukun lah, dan masih seabreg tuduhan lain. Tidak perlu diperdebatkan memang, sebab hanya akan menuai kesia-siaan. Tetapi peran aktif mereka, orang-orang yang memperjuangkan hidup keluarganya serta andil pajaknya untuk Negara, janganlah dilecehkan lantaran merokoknya kretek.

Stereotype senada terjadi juga atas profesi orang-orang dari etnis tertentu. Misalnya, kalau pengacara mesti orang Batak sama tukang tambal ban, terus kalau tukang sandal cum tukang kredit orang Tasik. Ditambah basinya lagi tudingan, “pantes aja orang Betawi sih, males kerja, makanya tanahnya ludes.” Kan tailedig banget. Muka ganteng penulis opini ini dituduh muka antagonis. Muka preman pasar Senen, bajingaaaaan. Bahkan pernah di Jogja, dituduh muka anak Girli. Memang tidak keliru sepenuhnya, karena riwayat hidup serta irisan pergaulan saya juga. Ayolah, sama-sama punya tinja bau saja kok masih suka gitu sih, katanya don’t judge a book by the cover.

Kembali ke soal kretek, kenapa masih saja ada teman, yang mungkin bergurau maksudnya, dengan membilang, “ngaku kretek tapi rokoknya filter.” Kenapa coba ? Ya itu, bagian dari puak kurang baca, tapi banyak “ngopi”. Padahal tinggal ketik www.bukukretek.com buka buku Membunuh Indonesia. Ada bab yang memaparkan dengan jelas tentang apa itu kretek, serta dinamika sejarah-budayanya. Ayo dong kopinya diminum, jangan buat difoto-foto doang.

Nih, sedikit saya ulas riwayat filter pada rokok dari buku Ensiklopedia Kretek. Filter itu semacam gabus atau busa penyaring yang terbuat dari kertas kisut. Mulai populer dipakai pada tahun 1950-an, penggunaan filter pada kretek dilakukan oleh industri kretek Indonesia sebagai upaya menyikapi efek kampanye antitembakau. Yang bertujuan meminimalkan kadar tar (residu) dan nikotin. Dari dulu rezim standarisasi sudah memainkan politik dagangnya lewat pembatasan tar dan nikotin, atasnama kesehatan.

Serupa terjadi halnya pada nasib dunia literasi kita. Banyak karya (baca: produk intelektual) yang tidak bersepaham dengan rezim lantas dibatasi, tidak sedikit yang diberangus. Berusaha dihapus dari sejarah oleh rezim penguasa. Bahkan ada penyair yang dikriminalkan lantaran mengkritik sebuah buku, dengan tuduhan pencemaran namabaik. Bajingaaan !

Produk intelektual impor kerap diagung-agungkan demi mengkatrol superioritas nama, citra kelas, serta tujuan genit lainnya. Dalam kajian Bill Ashcroft, dkk., melalui bukunya The Empire Writes Back: Theory and Practice in Post-colonial Literatures, dinyatakan, masyarakat bekas jajahan sibuk membenamkan diri dalam budaya impor. Mereka berharap bisa lebih Inggris (Barat) ketimbang orang Inggris (Barat) itu sendiri. Di era pasca kolonial sikap hidup semacam itu terus direproduksi dengan sadar, lewat berbagai alat pelaris. Tak terkecuali pada kretek, modal asing masif memainkan politik dagangnya, dengan memelihara inferioritas bangsa bekas jajahan. Salah satu contohnya, sepetik kisah, ketika pernah ada seorang teman merasa malu mengkonsumsi kretek kegemarannya di depan bapak pacarnya. Lantas memaksa diri untuk punya rokok putih di kantong, demi dianggap pemuda berkelas. “Jujur itu lebih berkelas ketimbang ngutang, Rud.” Sindir saya dulu, zaman Slash gitaris GnR jadi idola pemuda tahun segitu. Terus sewaktu rokok itu habis, bungkusnya masih dia simpan pula, “buat nanti diisi kretek ketengan, Jib.” Wuahaha, cerdik juga dia.

Balik lagi, gabus pada kretek yang juga digunakan pada rokok putih itu pertama kali diciptakan Boris Aivaz pada tahun 1925. Ini adalah salah satu sebagian kecil bahan pada kretek yang masih berstatus impor. Keliru belaka orang yang mengacu filter sebagai pembeda rokok kretek dengan rokok putih (rokok tanpa cengkeh). Sampai di sini paham ?

Baiklah, menyoal lagi stereotype kretek non filter yang dikaitkan dengan kelas pekerja tertentu. Kudet (kurang up date) banget ya orang yang mengidap stereotype gitu. Ingat kan Haji Agus Salim, yang dijuluki The Grand Old Man. Yang asap kretek kegemarannya itu pernah membuat cair suasana hati Pangeran Philip pada suatu perhelatan, kala penobatan ratu Elizabeth II di Inggris (1953). Beliau adalah Menteri Luar Negri pada kabinet presidentil (1950). Beberapa tahun ke belakang, seorang Selena Gomez bahkan tak ragu membawa rokok kretek buatan Indonesia.

Jauh sebelum Haji Agus Salim, siapa tak kenal Diponegoro, yang pernah bikin pihak Belanda mengalami kerugian tak kurang 15.000 tentara dan 20 juta Gulden, pada perang tahun 1925-1930 yang dikenal sebagai Perang Jawa. Kebiasan Diponegoro selalu menghisap rokok Jawa, yang juga dikenal sebagai rokok klobot.

Demikian pun kita, biar kata orang kuli pelabuhan, tukang becak, kondektur, juru parkir, adalah juga pejuang, bahkan pahlawan bagi keluarga serta kemakmuran bangsa. Intinya tak ada yang patut diperdebatkan menyangkut selera. Maka berbanggalah kita yang masih berselera dengan rokok buatan bangsa sendiri.

(Visited 393 times, 1 visits today)

Komentar

komentar

Categories: Opini