Boleh Merokok yang Penting Tahu DIri

Sebagai apoteker, aku sering dijejali dengan informasi tentang bahaya merokok. Bahkan tempatku kuliah dulu setiap tahunnya selalu mengadakan kampanye anti rokok. Walaupun mereka juga gencar mengadakan penelitian tentang nikotin yang berpotensi sebagai obat.

Aku bukan perokok tapi aku juga tidak anti dengan perokok. Sebagian besar laki-laki di lingkunganku adalah perokok. Namun mereka adalah perokok yang tau diri. Mereka merokok di luar rumah atau di kamar mereka. Mereka tetap berpuasa dan tidak merokok selama bulan Ramadan, bahkan mereka mengganti baju mereka yang berbau asap rokok bila mau dekat-dekat dengan bayi.

Buatku, yang bukan perokok dan kadang pusing jika mencium bau rokok yang terlalu pekat, mereka patut dihargai. Aku bahkan merasa kasihan pada perokok saat munculnya wacana peraturan yang menyatakan bahwa perokok tidak mendapat jaminan kesehatan program JKN. Peraturan ini menjadikan perokok sebagai warga anak tiri. Mereka nggak ngapa-ngapain kok. Kan sama saja dengan aku yang kecanduan permen karet.

Namun kemudian, aku bertemu dengan seorang perokok yang tidak tahu tempat.

Di suatu bulan puasa, seorang tamu datang ke klinik untuk menemui manajer. Dengan santainya dia menyulut rokoknya di ruang tamu klinik. Hal itu kemudian membuat kami yang bekerja di klinik tersebut bisik-bisik.

“Tamunya manajer ni orang apa sih? Merokok gitu di klinik, pas orang lain puasa lagi…” gumam si dokter. “Emang enak gitu merokok padahal si manajer puasa?”

“Dokter emang nggak merokok?” tanyaku pada Pak Dokter itu. Tidak sedikit kok dokter yang juga perokok.

“Ih, saya mah merokok tapi tahu tempat. Emang kamu pernah liat saya merokok di klinik? Hari biasa aja nggak apa lagi bulan puasa.” Jawab si dokter. “Lagian saya juga kalo mau merokok permisi dulu. Kalo temennya nggak merokok saya juga sungkan mau merokok.”

“Mungkin dia udah permisi dan si manajer bilang nggak apa kali…” kataku mencoba berpikiran positif.

“Ah, tetep aja. Di klinik kok merokok. Perokok kayak gitu yang bikin perokok pada dimusuhin,” ujar Pak dokter.

Sebetulnya untuk menjadi perokok yang tidak dimusuhi hanya perlu tahu tempat dan waktu. Pada Peraturan Pemerintah Nomor 109 tahun 2012 dinyatakan bahwa tempat umum, sarana kesehatan, tempat kerja, tempat yang secara spesifik sebagai tempat proses belajar mengajar, arena kegiatan anak, tempat ibadah, dan angkutan umum dinyatakan sebagai kawasan tanpa rokok. Sehingga, jangan merokok di tempat-tempat tersebut.

Selain tahu tempat yang diperbolehkan dan tidak diperbolehkan merokok, perokok perlu tahu tempat sampah. Jangan merokok kemudian sisa abu dan puntung rokoknya dibuang ke sembarang tempat. Kadang yang membuat orang kesal dengan perokok adalah perokok tersebut membuang sisa abu dan puntung rokok sesuka hatinya. Padahal abu dan puntung rokok tersebut berhak mendapat tempat kan?

Perokok juga perlu tahu waktu. Bukan ketika orang sedang berpuasa dia merokok. Di depan orang yang sedang berpuasa itu pula merokoknya. Itu akan membuat perokok dicap tidak tahu diri.

(Visited 437 times, 7 visits today)

Komentar

komentar

Categories: Opini