Siapa Gembira Harga Rokok Naik Tinggi?

Semakin maraknya isu kenaikan harga rokok menjadi Rp 50 ribu perbungkus membuat masyarakat terbelah. Ada yang setuju dengan isu ini, banyak juga yang menolak. Kebanyakan, yang mendukung adalah masyarakat yang tidak merokok. Sementara para perokok jelas menolaknya.

Diluar kedua kubu yang pro dan kontra ini, ada satu pihak yang jelas bergembira dengan hebohnya isu ini. Maklum, kelompok ini adalah yang pertama-tama menyebarkan isu ini. Kemudian menjadi heboh dan membuat masyarakat terpecah. Ini jelas menggembirakan untuk mereka. Karena target mereka tercapai, isu ini naik dan diwacanakan banyak pihak.

Kelompok yang mendaku membela kepentingan masyarakat ini tidak mau ambil pusing dengan perdebatan yang ada. Yang pasti, harga sebungkus rokok yang akan lima puluh ribu itu adalah kabar gembira untuk mereka, para moralis kesehatan penentang rokok. Ketika rokok menjadi begitu mahal, industri akan goyah. Lalu tercapailah target mereka untuk mengendalikan perdagangan tembakau.

Sementara mereka bergembira, para petani tembakau menjadi pusing. Mereka yang sangat sehat hidupnya karena gerak tubuh untuk bercocok tanam tembakau mulai berdatangan kerumah sakit. Beli obat murah aspirin. Stresskarena sebentar lagi industri besar tembakau asing serta regulasi harga tembakau menghantui malam-malam mereka.

Lalu di belakang mereka mengikuti para buruh pabrik rokok yang antri BPJS. Anak-anak mereka menjadi sakit dan kekurangan gizi karena bapak-ibunya diberhentikan pabrik. Mereka antri BPJS yang katanya merugi karena ulah para perokok. Dan nantinya, mereka tetap antri di BPJS yang masih merugi karena ketidakbecusan manajemen kesehatan negara ini.

Antrean BPJS ini kemudian membuat pemerintah menjadi pusing. Katanya menaikan harga rokok menjadi amat mahal akan mengurangi jumlah perokok. Katanya mengurangi jumlah perokok bisa membuat BPJS menjadi baik-baik saja. Kenyataannya, tidak ada yang baik-baik saja di BPJS. Dan negara ikut-ikutan tidak baik karena hilangnya pemasukan besar dari cukai tembakau.

Harga rokok naik begitu tinggi, hingga tidak mampu dibeli masyarakat. Jumlah perokok berkurang, tapi statistik penyakit-penyakit tetap saja tinggi. Katanya dapat tambahan dana kesehatan dari uang rokok yang mahal ini, tapi penerimaan cukai tembakau malah anjlok. Jutaan buruh pabrik rokok kehilangan pekerjaan, petani dan lainnya kehilangan penghidupan.

Lantas, masihkah kita bisa bergembira dengan keadaan seperti itu? Rasa-rasanya tidak.