Perempuan Juga (berhak) Merokok

Hidup di Indonesia sebagai perempuan dan perokok adalah sebuah dilema. Pertama kami adalah perempuan, kedua kami juga perokok. Pada generasi ibu-ibu kami, kami diberitahu bahwa perempuan yang merokok adalah tabu, perempuan yang merokok adalah pelacur, perempuan yang merokok adalah perempuan yang tidak baik. Maka dari itu ketika kami merokok di depan umum, semua orang memandang kami dengan sebelah mata.

Ketika seorang laki-laki merokok di Indonesia, hal ini dipandang lumrah dan dipandang sebagai bagian dari kehidupan sosial dan budaya kami. Perempuan yang merokok tidak memiliki tempatnya dalam tatanan sosial kami. Perempuan yang merokok dianggap aneh, dianggap nyeleneh. Padahal kebanyakan dari produksi kretek di negara kami, semua dilinting satu per satu oleh tangan buruh rokok kretek yang cekatan dan hampir semuanya perempuan.

Namun di generasi nenek-nenek kami, banyak perempuan yang merokok. Mereka merokok karena merokok adalah sebuah pilihan. Mereka merokok karena itu adalah bagian dari budaya mereka. Mereka tidak terbebani denganpencitraan mengenai rokok dan perempuan. Mereka tidak dicekoki dengan PEREMPUAN BERBICARA KRETEK nilai-nilai bias yang sempit akan kebaikan dan keburukan di balik kebiasaan merokok. Merokok bagi mereka adalah sebuah pilihan yang natural.

Selain cerita versi Haji Djamahari, salah satu cerita lainnya adalah bahwa rokok kretek pertama kali diracik oleh seorang perempuan bernama Mbok Nasilah pada tahun 1870-an di Kudus, ia mencampur tembakau dengan cengkeh dan membungkusnya dengan daun jagung kering (kelobot). Niat pertamanya menyediakan rokok kelobot adalah untuk mengurangi kebiasaan nginang (mengunyah sirih) yang mengotori warungnya. Racikannya disukai oleh para pelanggannya. Salah satunya adalah Nitisemito yang kemudian menikahi Mbok Nasilah. Pasangan suami istri ini kemudian bersama-sama mengembangkan racikan Mbok Nasilah hingga menjadi salah satu industri kretek pertama di Kudus, Bal Tiga pada 1914.

Sampai hari ini industri rokok kretek menyumbangkan penghasilan terbesar untuk perekonomian negara ini. Industri rokok kretek menjadi tumpuan banyak keluarga dan khususnya dengan kepala keluarga perempuan. Tenaga yang terlibat langsung dengan industri kretek sebesar 6,1 juta orang. Adalah tidak adil jika hanya menilai kebiasaan merokok kretek sebagai sesuatu yang tidak baik semata, ketika industri rokok nasional adalah tumpuan roda perekonomian bangsa. Tumpuan begitu banyak orang. Kita juga harus mulai menyadari peran perempuan dalam sejarah perkembangan rokok kretek di Indonesia menempati posisi yang cukup vital.

Persoalan pilihan konsumsi rokok harusnya berdasarkan hak mendasar seseorang ketika memutuskan untuk mengkonsumsi sesuatu dan persoalan ini terlepas dari gender. Menjadi perempuan di Indonesia seolah-olah kita tidak memiliki kebebasan bahkan untuk memilih sesuatu yang merupakan hal yang biasa saja bagi laki-laki. Saya terganggu dengan pencitraan perempuan merokok dalam generasi saya, ketika di generasi nenek saya hal itu adalah hal-hal yang biasa aja. Saya pun lelah dengan pencitraan perempuan yang tipikal berkembang di masyarakat. Beban-beban yang harus kami tanggung seolah berlipat ganda. Banyak dari kami menjadi tumpuan keluarga, banyak dari kami harus memilih antara keluarga atau karir, banyak dari kami harus tampil sempurna. Kami harus serba bisa dalam berbagai hal, dan hal kecil seperti merokok bisa begitu saja menjatuhkan seluruh citra kami di mata masyarakat.

Saya mencoba merunut lagi pada pemosisian perempuan dalam sejarah politik negara ini. Saya mencoba mencari lagi sosok-sosok perempuan yang begitu beragam dan mengagumkan. Bukan produk massal yang kesemuanya seragam, semuanya sama dan membosankan. Kami mual dengan standar kecantikan perempuan berkulit putih, berambut panjang lurus dan selalu tersenyum seolah segalanya akan selalu baik-baik saja seperti yang tampil setiap sekian menit di saluran televisi nasional. Kami, perempuan, punya kehidupan yang lebih dari hanya semua itu. Kami berhak menentukan diri kami sendiri.

Saya banyak menemukan sosok-sosok yang menarik dari perempuan yang memilih merokok. Bagi generasi saya, sepertinya merokok identik dengan simbol pemberontakan. Kami lelah untuk berakting sebagai anak-anak manis, kami adalah anak-anak jaman yang menuntut perubahan. Runtuhnya Orde Baru adalah salah satu momen perubahan yang cukup besar dalam hidup kami semua. Saya pikir pada akhirnya momen ini menuntut perubahan yang besar dalam pola pikir kehidupan kami sehari-hari.

Banyak dari masyarakat kita yang langsung memandang miring perempuan yang merokok. Mereka tidak pernah mempertanyakan semua hal yang terjadi di balik perempuan yang memilih merokok. Mereka hanya berpikir bahwa itu adalah sesuatu yang tidak pantas dan tidak lebih dari itu. Padahal banyak hal dapat digali dari seorang perempuan yang memilih untuk merokok. Dalam tekanan kultural yang memandang negatif perempuan yang merokok, merokok di depan umum bagi seorang perempuan membutuhkan tingkat keberanian yang lebih.

Maka dari itu saya menemukan banyak perempuan yang berani dengan identitas mereka sendiri, banyak yang menyatakan bahwa merokok baginya adalah sebuah simbol pemberontakan dan pembebasan. Banyak dari mereka menyatakan bahwa mereka memiliki kebutuhan yang sama dengan para laki-laki. Bahwa merokok menenangkan mereka dan menjadi bagian dari pilihan hidup mereka. Kebanyakan dari mereka masa bodoh dengan pencitraan negatif dan mereka hanya menganggap anggapan-anggapan miring itu sebagai sesuatu yang tidak penting.

Pencitraan mengenai perempuan yang baik di Indonesia pernah sangat dipengaruhi oleh negara. Pada masa Orde Baru, perempuan tak boleh lagi berkumpul, berorganisasi, berdiskusi dan memperjuangkan haknya sendiri. Berpolitik bagi perempuan menjadi tabu. Berpolitik sama dengan cap seorang Gerwani, yang telah menjadi hantu menakutkan dalam ingatan sejarah bangsa ini. Politik telah menjadi wilayah di mana perempuan sepenuhnya dipinggirkan. Peran aktifnya dengan sistematis dihilangkan dan tidak lagi memiliki peranan dalam menentukan kebijakan.

Perempuan di Indonesia telah kehilangan haknya untuk bicara, untuk bersuara bagi diri mereka sendiri, bahkan kehilangan kemampuan untuk menentukan apa yang baik bagi diri mereka sendiri. Saat ini perempuan menjadi bulan-bulanan bagi politik pencitraan global. Nilai-nilai standar mengenai perempuan seolah-olah hendak distandarkan dalam target konsumsi perusahaan-perusahaan multinasional.

Perempuan Indonesia tidak lagi bangga dengan kecantikan natural yang dimilikinya. Tidak lagi bangga dengan keberagaman yang mereka miliki. Kesadaran bahwa mereka terdiri dari berbagai suku, memiliki kecakapan bahasa yang berbeda, memiliki susunan genetika yang berbeda dan secara kultural juga berbeda telah terkikis oleh arus global. Seolah-olah semua standar kecantikan perempuan ditentukan oleh yang tersaji di televisi. Standar kehidupan juga ditentukan oleh bentuk konsumsi yang ditawarkan oleh televisi, walaupun mereka tidak membutuhkannya. Tanpa bentukan dan dasar pemikiran kritis, serangan-serangan ini menjadi sesuatu yang fatal dalam perkembangan masyarakat kita.

Celakanya lagi peran perempuan menentukan pembentukan keluarga. Perempuan menempati posisi yang sangat vital dalam pembentukan mental generasi-generasi baru tanpa edukasi dan kesadaran yang cukup, ketika perempuan tidak sanggup menyaring serangan-serangan budaya konsumtif global, seluruh pembentukan nilai dasar dalam keluarga akan terancam. Generasi yang tumbuh hanya akan menjadi pengkonsumsi dan kehilangan daya kreatif kehidupan mereka. Masyarakat kita akan tumbuh menjadi masyarakat yang semakin instan, menerima mentah-mentah apa yang dicekoki kepada mereka dan tumbuh menjadi orang-orang yang sungguh picik.

Dalam persoalan kretek, serangan kampanye anti tembakau menyerang target mereka pada perempuan dan anak-anak. Sedangkan studi-studi mengenai fakta-fakta kesehatan belum sepenuhnya dapat dibuktikan kebenarannya. Studi-studi ini masih didominasi dengan banyak kepentingan dari industri farmasi dan pendanaannya difasilitasi oleh perusahaan-perusahaan yang berkepentingan. Maka dari itu kita harus menjadi lebih kritis dalam mempelajari fakta-fakta yang muncul di lapangan, mencari dan melakukan studi tandingan. Ada etika-etika tertentu dalam kebiasaan merokok, namun bukan berarti seorang perokok patut diperlakukan seperti seorang pesakitan dan tidak manusiawi. Pilihan tetap berada dalam tempatnya dan bukan menjadi ajang pengucilan yang membabi buta.

Perempuan juga berhak merokok tanpa harus dinilai dengan buruk. Hal ini sungguh mendasar untuk masyarakat kita agar menjadi lebih kritis dalam segala sesuatu. Masyarakat kita harus belajar untuk tumbuh dalam cara berpikir yang hanya hitam putih dan tidak berdasarkan hanya asumsi dangkal semata. Kita harus mau melihat lebih jauh sebuah persoalan dan tidak langsung menilainya baik atau buruk begitu saja. Dengan memiliki kesadaran akan adanya proses perjalanan sejarah mengenai peran perempuan dan juga sejarah mengenai kretek, kita tidak akan begitu saja mencap segala sesuatu.

Kebiasaan mencap ini pernah menemui titik fatalnya pada periode awal kekuasaan Orde Baru. Jutaan orang meninggal dan hilang hanya karena cap komunis. Negeri kita tumbuh dengan trauma politik yang amat besar. Kebiasaan ini harus kita hilangkan. Kita harus berani berpikir kritis dan melihat melampaui persoalan hanya sebatang rokok kretek. Di dalamnya banyak sekali nilai-nilai kultural, sosial dan ekonomi. Belum lagi persoalan kepentingan perpolitikan ekonomi global yang harus kita pahami dengan baik untuk menjadi bangsa yang maju dan tidak lagi mau dibodohi dengan jargon-jargon liberalisasi perdagangan bebas.

Saya memimpikan suatu hari yang lebih tenang bagi saya untuk merokok tanpa adanya lagi picingan mata yang memandang sebelah mata, melainkan diskusi-diskusi kritis yang menghasilkan solusi-solusi kreatif dalam kehidupan masa depan bangsa ini.

*Tulisan karya Astrid Reza ini diambil dari buku Perempuan Bicara Kretek