Mohamad Sobary: Merokok itu Political Event

“Saya mau menulis novel karena saya sudah memutuskan pensiun dini,” kata Mohamad Sobary berkisah di hadapan hadirin diskusi buku terbarunya, Perlawanan Politik dan Puitik Petani Tembakau Temanggung, di University Club Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, 26 Agustus 2016.

“Dari novel itu, bayangan saya—itu saya ngomong ke penerbit—saya nanti naik tempat tidur itu kesetan duit, lalu nanti di tempat tidur itu bantalan duit. Pokoknya itu. Cita-cita saya itu. Jangan salah, saya punya list, sekitar sepuluh tema… yang tidak saya garap-garap.”

Peserta langsung geeer.

“Jadi waktu saya mau menulis novel, saya sudah tahu, tidak akan ada hubungannya dengan dunia akademik. Talak tiga semua dengan dunia akademik itu.”

“Tiba-tiba UI (Universitas Indonesia) itu menyuruh saya, ‘Tulislah disertasi.’ ‘Untuk?’ Saya tanya begitu. Gunanya apa? Tambah pinter? Tambah kaya? Dua-duanya dugaan saya enggak.”

Namun, ia akhirnya melakukannya sebagai bentuk komitmennya terhadap perjuangan petani tembakau. Menulis disertasi, menempuh studi doktoral di alma mater yang memberinya gelar doktorandus. Keputusan itu diambil di usia ke-59, di tahun 2011. Tiga tahun setelah ia memutuskan pensiun dini sebagai pegawai negeri sipil di Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI). Disertasi tersebut kemudian diterbitkan oleh Kepustakaan Populer Gramedia pada Juli 2016 dengan judul Perlawanan Politik dan Puitik Petani Tembakau Temanggung.

Ingin menulis novel, yang jadi justru disertasi. Nyeleneh. Khas Kang Sobary—begitu ia kerap disapa.

Selama tiga tahun—waktu yang UI berikan untuknya menyelesaikan studi doktoral—ia tidak mengikuti kuliah di kelas. Mahasiswa istimewa, yang bisa jadi lebih pandai dari dosennya.

Penelitian disertasi ini juga sekaligus penelitian bagi calon novelnya, yang masih ia rencanakan akan tulis. Ia memilih petani tembakau Temanggung karena baginya tak ada tema lain yang lebih menarik.

“Sekalipun saya mau menulis novel, itu tidak boleh novel yang tidak ada ideologi nasionalisnya. Harus ada. Supaya agak rame, supaya ada bobot sedikit.

“Dan saya sudah tahu judulnya, sudah saya olah. Dahsyat sekali menurut generasi saya. Judulnya itu Palagan. Tapi, saya konsultasikan dulu sama filsuf… anak saya sendiri.”

Penonton kembali geeer.

“‘Eh kalau Bapak menulis Palagan, itu bagaimana menjualnya? Generasi saya enggak akan tertarik. Gini, Bapak terjemahkan, The Battle Field.’ Ah… kalo itu matching. Jadi Palagan: The Battle Field. Ini saya buang [sambil menunjuk buku disertasinya]. Ini masa lalu. Masa depan saya Palagan: The Battle Field. Bahannya sama, tetapi saya olah dengan cara yang berbeda. Saya tidak tertarik dengan bahan lain karena yang lain tidak menarik sama sekali.”

Ia berkata begitu, meremehkan bukunya yang saat itu tengah didiskusikan, dengan semangat bercanda yang keterlaluan. Padahal beberapa saat lalu, dua pembedah baru saja memuji habis-habisan buku tersebut. Saleh Abdullah bahkan menyebut buku disertasinya tersebut harus menjadi acuan bagi aktivis NGO dalam merefleksikan visi NGO di Indonesia pasca-Reformasi. Sobary memang nyeleneh.

Di balik selorohnya mengenai novel dan disertasi sebagai masa lalu, pilihannya pada petani tembakau punya latar yang amat serius. Seserius pilihannya untuk mulai merokok di usia senja, 58 tahun.

“Keluarga saya marah ketika saya merokok.”

Baginya, merokok adalah peristiwa politik (political event). Kretek yang ia isap adalah divine kretek temuan Profesor Sutiman.

Dalam tulisannya yang beredar di Internet berjudul “Ideologi di Balik Rokokku”, ia menjelaskan alasan di balik keputusannya untuk merokok. Penyebabnya ialah Nicotine War karangan Wanda Hamilton yang membuatnya tahu bahwa gerakan anti-rokok adalah instrumen perang bisnis yang tidak adil, bagian dari usaha kapitalis asing untuk menguasai bisnis kretek Indonesia. Salah satu caranya lewat klaim-klaim kesehatan.

Pilihan untuk merokok satu paket dengan keberpihakannya kepada petani tembakau, yang setahun kemudian ia pilih sebagai subjek disertasinya.

Dalam Perlawanan Politik dan Puitik Petani Tembakau Temanggung, Sobary menginterpretasi ekspresi-ekspresi perlawanan petani dalam berbagai ritual tradisi, seperti tari, tumpeng, dan tembang. Ia mengacu pada pandangan Victor Turner, pakar simbolisme dalam ritual.

Ia berpendapat, seorang ilmuwan harus berpihak dan memiliki komitmen sosial. Dalam hal ini, ia punya kritik terhadap Antropologi.

“Antropologi itu sibuk melakukan ritus akademik. Ritus untuk ritus. Yaitu apa? Partisipasi, observasi. Sudah. Dunia selesai kalau sudah partisipasi dan observasi. Rampung. Sudah memenuhi target akademik.

“Tapi, saya telusuri, partisipasi dan observasi akademik tidak bersentuhan dengan apa-apa selain dengan dirinya sendiri, kebodohannya sendiri, risetnya sendiri, dia pulang membawa hasil penelitian dan membuat dirinya termasyhur. Orang yang diriset tetap saja menderita.

“Kalau Anda jadi antropolog sudah jujur mencatat sebaik-baiknya, tapi Anda tidak komitmen terhadap hidup, ya Anda hanya ilmuwan yang tidak memihak, Anda hanya ilmuwan yang netral, dan netral itu bukan  gambaran obyektivitas dalam ilmu pengetahuan. Netral itu dalam dunia nyata saat ini keterkutukan. Netral terkutuk. Hidup harus memihak.”