Asap Rokok, Perabot Rumah, dan Argumen Ngawur Antirokok

Orang Merokok

Asap rokok yang menempel pada perabotan rumah tangga dituding sebagai penyebab timbulnya penyakit pernapasan. Padahal, jika kita cermati secara bijak, banyak sekali faktor penyebab penyakit pernapasan di lingkungan rumah. Mulai dari kurangnya sinar matahari yang masuk ke dalam rumah, perabotan rumah tangga yang abai untuk dirawat, hingga cat tembok di rumah pun berpengaruh terhadap kesehatan pernapasan penghuninya. Maka, tidak adil rasanya jika tiba-tiba mengkambing-hitamkan aktivitas merokok.

Dari mana sih asalnya tudingan tersebut? Sudah pasti datangnya dari aktivis antirokok. Mereka berpendapat, ada dua kelompok orang yang berisiko tercemar asap rokok. Apa saja kelompoknya? Pertama, orang yang menghirup zat berbahaya dari benda yang sudah tercemar oleh asap rokok. Kedua, orang yang menghirup asap dari perokok walaupun ia sendiri tak merokok. Kelompok kedua ini biasanya disebut orang yang tidak merokok. Pendapat tersebut kemudian dikembangkan hingga perabot rumah tangga juga menjadi pengantar sisa nikotin ke dalam tubuh.

Sebenarnya, sudah terdapat penelitian bantahan yang berasal dari laporan British Medical Journal tahun 2003 terkait argumen paparan asap rokok kepada orang lain. Bahwa tidak ditemukannya hubungan statistik yang signifikan antara paparan orang yang tidak merokok dan penyakit pernapasan.

Jika melihat pada persoalan tudingan sisa asap rokok yang menempel ke perabotan rumah tangga menimbulkan penyakit pernapasan, hal tersebut jangan diamini terburu-buru. Lihatlah apakah rumah tersebut sudah memenuhi kriteria rumah yang sehat? Rumah yang sehat memiliki pencahayaan sinar matahari yang baik. Pencahayaan alami diperoleh dengan masuknya sinar matahari ke dalam ruangan melalui jendela, celah-celah dan bagian-bagian bangunan yang terbuka.

Cahaya matahari berguna untuk penerangan dan juga dapat mengurangi kelembaban ruang, mengusir nyamuk, membunuh kuman penyakit tertentu seperti TBC, influenza, penyakit mata dan lain-lain. Kalau berpatok kepada standar ribetnya WHO, kebutuhan standar minimum cahaya alam yang memenuhi syarat kesehatan untuk kamar keluarga dan tidur dalam rumah adalah 60 – 120 lux.

Faktor pencahayaan ini sangat penting, sebab akan memengaruhi kadar kelembaban sebuah rumah. Menurut Direktorat Pengembangan Kawasan Permukiman, jika kelembaban sebuah rumah tinggi, maka dampaknya adalah berkembang biaknya jamur yang kemudian bersama dengan tungau dan debu sering menyebabkan masalah pernapasan seperti asma, alergi dan batuk.

Sementara jika tingkat kelembapan rendah, cenderung akan mengalami udara kering di dalam rumah. Sama halnya dengan udara lembap yang sangat tinggi, udara kering juga dapat menyebabkan masalah kesehatan yang terkait seperti kulit kering, bibir pecah-pecah, dan lain-lain. Penghuni rumah juga akan mengalami kesulitan bernafas atau mendapatkan sakit tenggorokan selama pagi dan malam hari di saat musim angin.

Belum cukup sampai di sini, untuk memastikan penyebab penyakit pernapasan di lingkungan sekitar rumah. Perkara kebersihan perabotan rumah tangga juga harus diperhatikan. Sebab, setiap perabotan rumah tangga memang diproduksi dengan campuran bahan kimia. Memang apa sih yang enggak ada bahan kimianya di dunia ini?

Para antirokok seharusnya tak perlu repot bilang sisa asap rokok berdampak pada penyakit pernapasan, sedari kita membeli perabotan rumah tangga pun risiko memiliki penyakit pernapasan sudah kita tanggung.

Jadi, rumah yang steril dari asap rokok pun punya risiko akan hal itu. Maka dari itu rutinitas membersihkan perabot rumah tangga adalah hal yang tak kalah pentingnya dari pencahayaan sinar matahari. Sebab dapat mengurangi bakteri dan kuman yang menempel pada perabotan rumah tangga.

Nah, hal terakhir yang perlu diperhatikan adalah cat tembok rumah. Sudah banyak penelitian yang mengatakan bahwa cat tembok rumah memiliki kandungan zat kimia yang dapat menyebabkan gangguan kesehatan. Salah satunya adalah kandungan zat formaldehida. Senyawa kimia formaldehida (juga disebut metanol, atau formalin) merupakan zat aldehida dengan rumus kimia H2CO, yang berbentuknya gas, atau cair yang dikenal sebagai formalin, atau padatan yang dikenal sebagai paraformaldehyde atau trioxane.

Zat tersebut merupakan salah satu polutan dalam ruangan yang sering ditemukan karena resin formaldehida dapat melepaskan formaldehida pelan-pelan. Apabila kadar di udara lebih dari 0,1 mg/kg, formaldehida yang terisap bisa menyebabkan iritasi kepala dan membran mukosa, yang menyebabkan keluarnya air mata, pusing, tenggorokan serasa terbakar, serta kegerahan.

Terdapat sebuah studi yang menunjukkan formaldehida dalam kadar yang berlebih bisa menimbulkan kanker.  Jika terpapar formaldehida dalam jumlah banyak semisal terminum, asam format yang terkandung bisa meningkatkan keasaman darah, membuat tarikan napas menjadi pendek, hipotermia, koma, bahkan sampai kematian. Beberapa hal tersebut tentu setiap saat berada di sekitar rumah kita. Lucunya, mengapa ini tidak menjadi perhatian orang-orang yang mengaku peduli kesehatan tersebut?

Sejatinya antirokok tidak pernah memiliki kepedulian yang tinggi terhadap kesehatan masyarakat karena yang mereka pikirkan adalah bagaimana merumuskan kampanye anti-rokok dapat masuk ke dalam logika masyarakat. Asal penderma senang, kampanye mengkambing-hitamkan rokok bakal terus berjalan.