Cengkeh dan kretek

Sejak dulu, Indonesia terkenal sebagai negeri penghasil rempah-rempah. Saking terkenalnya bangsa kolonial hadir untuk menguasai rempah-rempah. Salah satu yang paling dicari dari jenis rempah tersebut adalah cengkeh, tanaman endemik asli Indonesia. Cengkeh yang pada masa kolonialisme sempat menjadi primadona, juga pernah mengalami masa suram. Dan pada masa suram tersebut, industri kretek nasionallah yang menjadi penyelamat.

Setelah berabad-abad lamanya bangsa Eropa melacak jejak pelayaran menuju Nusantara, sumber dari rempah-rempah yang laris-manis diperdagangkan di Eropa. Barulah pada abad ke-16 bangsa Eropa menjajaki tanah Nusantara dan mulai mengangkut cengkeh ke Eropa secara langsung.

Cengkeh yang memiliki segudang manfaat, terutama untuk pengawet makanan dan kesehatan, menjadi primadona dan memiliki harga jual yang tinggi, selain juga karena ongkos pengirimannya yang memerlukan biaya besar. Cengkeh kemudian diminati sebagai komoditas dengan permintaan pasar yang tinggi di pasar mancanegara.

Namun fase kejayaan cengkeh di pasar pernah mengalami masa suram. Terutama ketika mesin pendingin ditemukan dan obat-obatan berbahan kimia mulai menggeser cengkeh dari pasar. Pada masa suram cengkeh tersebut, harga jual cengkeh turun drastis, ladang-ladang cengkeh mulai ditinggalkan, dan permintaan pasar akan cengkeh mulai sepi peminat.

Memasuki abad 19, ketika formulasi kretek ditemukan oleh Haji Djamhari, cengkeh di Indonesia menjadi primadona setelah dicampur ke dalam kretek. Perkembangan industri kretek yang semakin pesat pada abad 20 membuat produksi cengkeh nasional serapannya dimaksimalkan oleh industri kretek nasional.

Saat kembali bergairahnya cengkeh dalam serapan pasar nasional, para petani cengkeh mulai kembali ke ladang-ladang untuk menanam kembali cengkeh. Harga jual cengkeh pun mengalami peningkatan pasca lesunya pasar mancanegara dalam menyerap komoditas cengkeh. Tak hanya itu, dengan semakin berkembangnya industri kretek nasional, gairah ekonomi nasional pun turut bergairah, terbukti dengan tetap bertahannya industri kretek dari situasi krisis ekonomi.

Produksi cengkeh nasional hingga saat ini berjalan stabil, meskipun sempat mengalami fluktuasi dan ketidakpastian nasib yang sering kali diakibatkan kebijakan politik yang justru tidak menguntungkan komoditas cengkeh. Namun dengan terserapnya cengkeh ke dalam industri kretek, selalu menjadi penyelamat cengkeh untuk senantiasa diserap dalam pasar nasional.

Dapat dilihat dari perkembangan industri rokok kretek pasca krisis ekonomi (1998) berdampak pada meningkatnya kebutuhan cengkeh serta mulai membaiknya harga jual cengkeh. Hal ini menyebabkan petani di beberapa daerah mulai tertarik untuk melakukan peremajaan tanaman cengkeh yang rusak/mati sehingga menginjak tahun 2001 mulai tampak adanya perluasan areal meskipun pertumbuhannya masih sangat lambat. Selama periode 1998 – 2013 total luas areal cengkeh meningkat yaitu sebesar 0,48 % per tahun.

Serapan pasar terhadap cengkeh selama tahun 1993 – 2013, berdasarkan hasil Survei Sosial Ekonomi Nasional (SUSENAS) oleh BPS masih sangat stabil yaitu 0,05 kg/kapita/tahun, dan menurut Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan, hampir 80-90% produksi cengkeh dipergunakan untuk memenuhi kebutuhan industri rokok sementara sisanya dipergunakan untuk farmasi, kosmetik dan rempah-rempah.

Dalam lima tahun terakhir ini, cengkeh dalam segi harga jual masih menjadi hal yang menarik bagi petani. Dikarenakan harga cengkeh tergolong tinggi dan penyerapan dari pasar nasional relatif stabil. Saat ini harga cengkeh bisa mencapai Rp120.000 per kilo dengan kadar air sekitar 5 persen atau sama dengan harga cengkeh di pasar ekspor.

Untuk saat ini kebutuhan cengkeh nasional mencapai 110.000 ton per tahun. Dengan persentase 93 persen produksi cengkeh diserap pabrik rokok dan sisanya untuk kebutuhan kosmetik dan rempah. Maka memang dari tahun ke tahunnya industri kretek satu-satunya industri yang menyelamatkan produksi cengkeh nasional agar diserap oleh pasar.

Perhatian pemerintah dan masyarakat terhadap cengkeh sangat minim. Cengkeh hanya menjadi buah bibir akan kejayaan bangsa Indonesia yang dituturkan dalam cerita sejarah. Namun luput dari perhatian untuk terus hidupnya produksi di Indonesia.

Bahkan jika ditanya bentuk dan rupa cengkeh pun, kebanyakan dari masyarakat Indonesia belum pernah melihat dan mengetahuinya. Berterima kasihlah kepada kretek yang masih mau menghadirkan cengkeh dalam konsumsi masyarakat Indonesia. Setelah berabad-abad lamanya cengkeh dimonopoli oleh bangsa lain, dan jika bukan karena kretek yang masih menghidupi cengkeh untuk kepentingan nasional, lalu siapa lagi? Kan enggak mungkin cuma jadi koleksi sejarah saja.