Rokok Penyebab Kemiskinan itu Mitos

Mungkin hanya di Indonesia yang menganggap rokok identik dengan kemiskinan. Bahwa kebanyakan orang merokok pasti miskin. Bahwa orang-orang yang miskin ini bisa beli rokok, tapi tak mampu bayar sekolah. Sudah tahu miskin, bukannya menabung malah beli rokok. Tambah miskinlah kalian para perokok. Cacat logika seperti ini banyak dialami orang-orang yang membenci rokok.

Tidak sedikit di antara teman-teman kita yang mengatakan kalau para perokok menabung, mungkin mereka bisa membeli rumah atau memiliki mobil. Kalau uang untuk membeli sebungkus rokok per-hari itu dialihkan untuk hal lain, mungkin perokok bisa naik haji. Sayangnya, hidup memang tidak sematematis itu. Tak semua hal bisa diukur dengan angka juga semata hitung-hitungan.

Banyak di antara masyarakat yang merokok mampu memiliki mobil ataupun rumah. Bahkan para petani tembakau yang katanya miskin itu juga tidak sedikit yang telah menunaikan ibadah haji. pun sebaliknya, tidak sedikit juga masyarakat yang tidak merokok tak mampu membeli rumah atau memiliki mobil. Jangankan untuk naik haji, untuk makan esok hari saja masih menjadi pertanyaan besar bagi sebagian masyarakat kita.

Bahwa kemiskinan masih lekat dengan kehidupan masyarakat adalah betul. Tapi memaksakan logika bahwa kemiskinan itu disebabkan rokok adalah sesuatu yang tak masuk akal.

Ketidakstabilan perekonomian, sempitnya lapangan kerja, dan ketidakmampuan negara mengontrol harga adalah beberapa hal utama yang membuat hidup banyak masyarakat Indonesia lekat dengan kemiskinan. Apalagi standar kemiskinan versi pemerintah dan Badan Pusat Statistik hanya menjadikan pendapatan dan pengeluaran sebagai indikator kemiskinan tanpa melihat kearifan sosial dan budaya masyarakat.

Toh, ketidakberpihakan kebijakan negara pada masyarakat kecil tetap menjadi faktor utama kemiskinan. Tak percaya, coba lihat besaran upah yang jangankan sejahtera, dihitung layak saja tidak bisa. Kebijakan terkait Kredit Perumahan Rakyat juga menjadi satu faktor kuat sulitnya masyarakat memiliki rumah.

Memang tidak bisa dinafikan kalau kebanyakan perokok adalah masyarakat miskin. Namun hal ini terjadi karena didorong tingginya angka kemiskinan yang ada di Indonesia. Bukan semata karena mereka merokok lantas jadi miskin.

Laporan-laporan mengenai inflasi yang disebabkan naiknya harga rokok tentu terlalu mengada-ngada. Jelas kenaikan harga sembakolah yang mendongkrak inflasi. Karena mau yang merokok ataupun tidak, kebutuhan akan sembako tetaplah yang utama. Dan karena kenaikan sembako inilah yang paling berdampak pada kehidupan masyarakat.

Memang dalam hidup, perhitungan yang matang itu penting. Tapi hidup tak melulu soal hitung-hitungan. Ada hal lain yang patut menjadi pertimbangan dalam hidup. Faktor kegembiraan yang didapatkan ketika kita berkumpul bersama teman-teman sembari menyesap kopi dan menghisap rokok pun perlu dipertimbangkan. Kalau hidup melulu soal hitung-hitungan, bisa jadi hidup kalian memang tidak bahagia hingga lebih senang membenci ketimbang mengasihi.

(Visited 226 times, 2 visits today)

Komentar

komentar

Categories: Opini

Tags: ,,,,