Tanggapan Seorang Perokok atas Kampanye Nyeleneh Antirokok

Belum lama ini terdapat sebuah postingan di Facebook yang berisikan kampanye seorang antirokok bernama dr. Raehanul Bahraen tentang logika merokok. Dalam postingannya, dijabarkan jawaban-jawaban atas logika merokok yang dianggap ‘nyeleneh’. Jika kita membaca postingan tersebut, tentunya kita akan terkekeh-kekeh sendiri melihat jawaban sekaliber dokter yang sebenarnya juga tak kalah ‘nyeleneh’. Sebenarnya saya mengharapkan ia bisa memberikan jawaban meyakinkan penuh data dengan rumus kimia dan rumus kesehatan lainnya. Tetapi ternyata tak sesuai ekspektasi akademis saintifik saya.

Untuk bung dr. Raehanul Bahraen dan kaum penebar kebencian terhadap kretek lainnya, izinkan saya mengotak-atik logika jawaban Anda sekalian pada postingan Facebook yang di like 2,8k orang tersebut.

Pertama, bung menjawab soal logika bahwa “rokok sama bahayanya dengan asap kendaraan dan dihirup juga, apa bedanya dengan gula yang juga berbahaya menyebabkan diabetes”. Sebelum mengotak-atik jawaban bung yang ‘nyeleneh’ itu, logika di atas sebenarnya sudah tidak beres. Yang mana logika tersebut dengan ngawurnya menyatakan bahwa rokok sama bahayanya dengan asap kendaraan dan dihirup juga. Pertanyaannya benarkah rokok sama bahayanya dengan asap kendaraan?

Wah begini bung, WHO pernah menyatakan bahwa polusi udara akibat kendaraan bermotor menjadi pembunuh nomor 3 di dunia. Membandingkan rokok dan asap kendaraan saja sudah sangat tidak masuk logika. Bagaimana bisa asap rokok yang tidak menghasilkan CO membahayakan bagi tubuh diperbandingkan dengan asap kendaraan yang bersifat deterministic dan berbahaya bagi tubuh? Sudah terlihat dari sini bahwa logika tersebut adalah hasil dari pikiran bodoh yang terlahir entah dari siapa orang bodohnya.

Belum lagi jawaban yang ‘nyeleneh’ dari sang dokter tersebut yang menyatakan bahwa perbandingan asap rokok dengan asap kendaraan tidak tepat. Aduh, sudah tahu logika soal asap rokok dan asap kendaraan tidak tepat, terus kenapa dijawab lagi bahwa itu tidak tepat. Seakan-akan logika di atas sengaja dibuat tidak tepat dan jawaban dari si dokter ingin menambahkan ketidaktepatan tersebut. Padahal ketidaktepatan logika di atas saja sudah ngawur, berarti si dokter ini sebenarnya menambahkan ke-ngawuran dari logika di atas.

Demikian pun dengan membandingkan gula yang juga berbahaya menyebabkan diabetes. Si dokter menjawab bahwa minum gula banyak-banyak tidak membahayakan orang lain dan tidak mengganggu. Wah benarkah demikian? Saya yang enggak belajar kesehatan secara mendalam saja kok tahu ya bahwa minum gula banyak-banyak itu jelas berdampak pada kesehatan.

Begini loh dok, yang saya tahu diabetes itu merupakan suatu kondisi di mana kadar gula atau glukosa dalam darah tinggi. Nah soal konsumsi gula yang banyak-banyak tidak membahayakan itu, rasanya jawaban Anda harus dipertanggungjawabkan. Sebab dalam seorang peneliti di sebuah laporan riset yang diterbitkan dalam Mayo Clinic Proceedings mengatakan bahwa “Kalori dalam gula jauh lebih berbahaya”.

James J. DiNicolantonio, seorang ilmuwan penelitian kardiovaskular di Saint Luke Mid America Heart Institute juga menunjukkan kebenaran studi bahwa gula adalah penyebab diabetes. Dalam studi tentang gula penyebab diabetes dikatakan bahwa kebiasaan mengasup gula akan menyebabkan penimbunan lemak berbahaya pada bagian perut. Timbunan lemak viseral di bagian perut adalah  penanda bagi kondisi kesehatan yang buruk, seperti masalah peradangan dan tekanan darah tinggi.

Jika jawaban si dokter terlihat menyepelekan efek gula bagi tubuh, data International Diabetes Federation (IDF) menunjukkan, jumlah penyandang diabetes di Indonesia diperkirakan sebesar 10 juta dengan menempati urutan ketujuh tertinggi di dunia. Nah loh, habis ini jangan-jangan si dokter sama antirokok malah menuding rokok penyebab diabetes lagi. Alamak, kalau sudah begitu matilah ilmu pengetahuan kita.

Kedua, bung dokter ini menjawab logika soal rokok atau tidak merokok, pasti mati juga. Jawaban ‘nyeleneh’ dari bung dokter begini: minum racun atau tidak minum racun, pasti mati juga. Saya bingung, kenapa bung dokter menjawab logika tersebut dengan minum racun? Padahal sangat jelas bahwa rokok adalah produk legal yang boleh diperjual-belikan, yang artinya produk tersebut boleh dikonsumsi oleh masyarakat. Sedangkan racun itu dikonsumsi bukan untuk diminum. Ada produk racun yang legal diperjual-belikan, seperti obat cair serangga (yang katanya sering dipakai untuk bunuh diri), tapi penggunaannya bukan untuk diminum, kalau buat diminum siapa yang mau beli.

Jadi soal merokok dan minum racun tidak ada hubungannya sama sekali. Jawaban si dokter jelas sangat bermaksud ingin mengait-ngaitkan antara rokok dan racun. Wah enggak apple to apple dong itu namanya. Padahal logika merokok atau tidak merokok kan sama saja seperti istilah “makan enggak makan yang penting kumpul” yang mana itu adalah istilah untuk mencandai seseorang ketika terlalu serius menyikapi sesuatu, maka istilah-istilah guyonan tersebut akan muncul. Nah logika ini tidak perlu dijawab sebenarnya, karena memang ditujukan untuk mencandai para anti-rokok yang terlalu serius menyikapi rokok dan aktivitas merokoknya, kenapa mesti dicandai seperti itu? Ya karena memang enggak perlu serius-serius, wong argumen anti-rokoknya saja ngawur terus sih.

Ketiga, bung dokter ini menjawab pertanyaan ‘Merokok kan hak kita, siapa yang mau melarang, ini tubuh saya, apa peduli kalian?’ Jawaban si dokter : Kalau demikian jangan merokok di depan umum, di angkot di ruangan, karena mengganggu yang lain, kalau bisa asapnya ditelan jangan dikeluarkan.

Kalau untuk yang ini saya tidak mau panjang lebar mengkritisinya. Sebab, memang antara pertanyaan dan jawaban sudah enggak nyambung. Sudah enggak nyambung, enggak bijak pula jawabannya. Jika ada pertanyaan seperti itu, sebab-akibatnya dikarenakan tidak bijaknya anti-rokok dalam berkampanye. Asal tuding tanpa data, mengkambing-hitamkan rokok dan aktivitas merokok secara membabi-buta, hingga sering kali juga menebar fitnah dan kebencian.

Merokok adalah aktivitas yang legal di Indonesia. Maka merokok adalah bagian dari hak seseorang. Sudahkah hak perokok dipenuhi? Perokok hanya butuh ruang merokok yang layak seperti yang tertera dalam Putusan Mahkamah Konstitusi nomor 57 tahun 2011 tentang bagi tempat kerja, tempat umum, dan tempat lainnya menyediakan tempat khusus untuk merokok. Nah sudahkan hak tersebut dipenuhi? Kalau belum, jangan memberikan jawaban seenak jidat sendiri. Lebih baik diam jika Anda tidak tahu. Sebab sekarang ini banyak orang bodoh yang doyan bicara, dahsyatnya lagi pembicaraan tersebut diamini oleh banyak orang. Buktinya, postingan bung dokter di like 2,8k. Matilah akal sehat kita.

(Visited 385 times, 3 visits today)

Komentar

komentar

Categories: Opini

Tags: ,,