merokok
merokok

Seringnya tudingan bahwa rokok dan paparan asap rokok memberi dampak buruk bagi kesehatan, bahkan diperparah dengan mengaitkan dampaknya terhadap genetik. Sehingga anak keturunan perokok digadang-gadang mengalami cacat bawaan. Hal itu yang pernah dilontarkan Menteri Kesehatan Nila Moeloek pada kesempatan lalu dalam memperigati Hari Kelainan Bawaan Sedunia. Dari pernyataan tersebut secara tidak langsung kita (perokok) dituding telah melakukan satu bentuk genosida terhadap keturunan sendiri. Ini jelas tafsir yang menyesatkan.

Senada pula yang dipaparkan pakar gizi Dr dr Tan Shot Yen, M.Hum, bahwa asap karbon monoksida dari asap rokok akan sangat mudah terikat dengan sel darah merah, berpengaruh besar mencemari oksigen yang dialirkan darah. Entah kenapa pakar semacam mereka justru bungkam terhadap fakta lain di luar rokok, yakni fakta kerusakan lingkungan, terutama dari meningkatnya populasi kendaraan bermotor serta gas rumah kaca yang ditimbulkan dari penggunaan lemari pendingin dan pendingin ruangan (AC), serta perkakas modern lainnya. Pernyataan Ibu Menkes dan ahli gizi itu tentu memicu pertanyaan kritis di benak kita.

Berdasar data tahun 2014 saja 70% polutan CO (karbon monoksida), SO2 (sulfur dioksida), CO2 (karbon dioksida) dan MO (molibdenum) dari asap kendaraan bermotor saja telah mencemari udara perkotaan, jelas-jelas mengganggu kebutuhan kita akan udara bersih. Belum lagi 30%-nya yang  berasal dari sumber tidak bergerak, seperti pabrik. Bukankah kluorofluorokarbon dari lemari pendingin turut menyumbang kerusakan atmosfer dan lapisan ozon? Tentulah itu berdampak terhadap  suhu dan mutu udara yang kita konsumsi.

Ditambah lagi jika kita mau soroti produk konsumsi lain, semisal terdapatnya senyawa organik volatil, perisa sintetis, juga junk food dan kemasannya. Dimana perisa sintetis pada junk food sendiri berpotensi memicu berkembangnya mikroba. Berbeda dengan antimikroba yang berasal dari perisa alami, yang itu terdapat pada cengkeh, atau ekstrak rempah lainnya.

Perlu diketahui bahwa mikroba patogen yang sering mengontaminasi makanan di antaranya adalah Bacillus cereusSalmonella sp, dan Staphyloccus aureus. Bukankah produk lain yang dikonsumsi juga punya andil yang secara akumulatif memicu momok kanker dan sebagainya?

Hal-hal semacam itu kenapa tidak dibeberkan oleh keduanya, yang sejatinya kita ketahui mereka cukup otoritatif untuk mengungkap momok dalam kesehatan. Menyoal kelainan bawaan yang dikarenakan rokok itu adalah suatu premis yang kelewat ngawur. Misalnya pada ibu penderita obesitas dan diabetes yang juga berpeluang melahirkan anak berkelainan. Apakah dua penyakit itu juga disebabkan rokok? Hal ini bukan berarti rokok tidak memiliki risiko lho ya, Bu.

Namun ada juga orang tua yang tidak merokok dititipi Tuhan anugerah istimewa berupa anak yang memiliki kelainan. Justru tidak menyalahkan perokok. Yang artinya faktor tunggal kelainan bawaan pada anak bukanlah melulu karena orangtuanya merokok. Jika memang mutlak demikian, mestinya itu berlaku pula pada kemampuan fungsi saraf otak Tulus Abadi dong, kan dulu bapaknya perokok. 

Jika bukan karena sesat pikir yang dikatakan Menteri Kesehatan, tentulah anak-anak Presiden RI pertama telah mengalami kelainan bawaan, tapi nyatanya toh mereka adalah sosok-sosok berprestasi dan dikenal berkat keahliannya masing-masing. Jika memang rokok adalah satu-satunya penyebab kelainan bawaan, keturunan Haji Agus Salim maupun keturunan Panglima Besar Soedirman berhak untuk tersinggung. Dan bisa kita bayangkan berapa banyak anak yang mengalami kelainan bawaan, sementara di Indonesia ada sekitar 60an juta perokok lho, Bu.

Keturunan perokok yang mengalami kelainan tentu jauh lebih banyak, tapi faktanya tidak begitu. Ah, sudahlah Bu, berhentilah bermain-main dengan karangan bebas untuk mendiskreditkan rokok dan perokok. Kami berusaha menjaga pola hidup secara seimbang kok. Hal itu pula yang mestinya Ibu Menteri tekankan. Bukan malah terus menyalahkan.