Tembakau dan Masyarakat yang Kian Rumit

Petani tembakau
Petani tembakau

Pengucilan terhadap perokok semakin menjadi-jadi. Dengan berbagai format regulasi, seruan, konvensi, dan sebagainya, diskriminasi terhadap perokok kian terasa tanpa malu-malu. Pokoknya perokok harus dibuat menderita, seperti kata seorang walikota di Bogor sana.

Saya kesulitan bicara jernih setiap kali harus berbicara perkara rokok. Maklum, saya perokok. Tetapi jangan keburu berburuk sangka, Pak, Mbak. Saya perokok yang khatam aturan, di mana sekiranya saya diizinkan merokok dan di mana saya harus menahan diri. 

Yang sejauh ini membikin kelu hati adalah, orang cenderung membaurkan pengertian antara rokok dengan tembakau. Itu dua irisan berbeda. Oke, katakanlah perokok itu sekumpulan paria yang keberadaannya tidak dikehendaki, atau semacam duri dalam daging peradaban mulia manusia. Tapi dosa tembakau itu di mana?

Tembakau adalah satu dari sekian tanaman pertanian multiguna yang kalau dirunut keberadaannya, kita mesti meriset berpuluh literatur taksonomi tanaman adiktif ini. Sementara rokok, tepatnya kretek, hanya salah satu produk lanjutannya. Ada rokok berbahan non tembakau. Misalnya rokok yang terbuat dari rajangan daun kopi, daun kecubung, daun sipang (sejenis perdu) atau daun ganja.

Maka ketika para aktivis antirokok berapi-api berkampanye anti tembakau (bahkan pada hari khusus dipertegas seruan “Hari Tanpa Tembakau Sedunia”), saya pikir ada yang keliru menaruh fokus.

Jika membahas tembakau, tentu kita perlu membicarakan satu komoditas yang amat multidimensional. Membicarakan tembakau tentu tak bisa hanya membicarakan persoalan kesehatan, ada begitu banyak hal lain yang perlu diperhatikan dalam pokok perkaranya.

Dalam urusan tembakau, tentu juga industri kretek nasional, kita akan membicarakan nasib hidup puluhan juta orang yang bergantung terhadapnya. Kita akan membicarakan persoalan hidup para buruh di pabrik kretek, para petani cengkeh yang tersebar di hampir seluruh wilayah nusantara, juga para petani tembakau yang setia menanam tanaman yang katanya mematikan itu.

Saya ingat petani-petani di Temanggung. Petani tradisional yang sejak lama berakrab-akrab dengan spesies berdaun lebar ini. Mereka mengibaratkan bertanam tembakau sebagai nadi, sebagai kultur. Persis keakraban saya dan petani-petani di desa saya dengan tanaman kopi, cengkeh, atau padi. 

Saya bukan petani tembakau, tetapi suka menanamnya satu-dua di pekarangan. Banyak tetua di desa saya yang mengonsumsi tembakau bukan sebagai rokok. Melainkan dengan menyesapnya – berjam-jam. Menenggak, dalam jumlah tertentu, ludah sesapan yang mereka yakini memiliki efek stimulan bagi tubuh. Energi penunjang aktivitas bertani yang rata-rata outdoor dan membutuhkan daya tahan.

Iseng pernah terlintas keinginan untuk menyampaikan seruan “Antitembakau Sedunia” tadi kepada tetua-tetua saya. Tetapi urung saya lakukan. Saya tidak sampai hati. Khawatir mereka mutung oleh sebab mereka akan tahu bahwa makin hari manusia makin rumit.

Sekali lagi saya teringat kata-kata Cak Nun tentang tembakau. “Allah serius menciptakan tembakau, masa saya berani mengharam-haramkan?” ucap Cak Nun pada satu forum. Bahkan manusia sekelas Cak Nun saja tak pernah berani menafikan tembakau, kenapa masyarakat kita begitu repot mengucilkannya?

(Visited 93 times, 1 visits today)