Hitlez - Nazi
Hitlez - Nazi

Kelompok antitembakau adalah salah satu kelompok paling keras kepala dan egois yang saya tahu. Mereka selalu menggunakan dalih hak masyarakat tapi mengabaikan hak sebagian masyarakat lain yang merokok. Selama kepentingan mereka terpenuhi, tak perlu peduli pada urusan kelompok lain.

Sebenarnya watak-watak seperti ini bukan hal baru dalam gerakan antitembakau. Mengingat kelompok pertama yang melakukan kampanye antitembakau pada masa modern adalah Nazi, Partai Nasionalis Sosialis Jerman yang berhaluan fasis. Sebagaimana kita tahu, watak fasis yang dimiliki Nazi ini cenderung memaksakan kehendak dan kepentingan golongannya saja.

Hal ini mungkin jarang diketahui publik. Ya, Nazi adalah salah satu kelompok modern pertama yang menggerakkan kampanye antitembakau. Watak fasis dari Nazi inilah, yang mungkin kemudian menginspirasi berbagai kelompok lainnya untuk bergerak sebagaimana kelompok antitembakau pertama ini.

Pada masanya, kebijakan antitembakau yang dihasilkan Nazi tidaklah bebas dari berbagai kontradiksi. Misalkan, kebijakan kesehatan rakyat yang dilakukan namun distribusi rokok bagi kelompok militer tetap berjalan. Di sisi lain, kelompok Yahudi yang amat dimusuhi Nazi sama sekali tidak mendapatkan akses terhadap tembakau.

Tak hanya itu, ideologi ultranasionalis yang dimiliki Nazi memandang rokok sebagai racun genetika, yang akan merusak ‘kemurnian ras’ bangsa Jerman yang dipercaya sebagai Ras paling unggul. Karenanya, kampanye negatif dilakukan oleh Nazi dengan menyebut tembakau sebagai representasi dari masyarakat Negro yang dianggap tertinggal.

Kampanye-kampanye yang rasis seperti ini memang kerap dilakukan Nazi. Bukan hanya pada persoalan rokok. Mengingat pemahaman ultranasionalis mereka yang menganggap bahwa bangsa Jerman adalah ras paling unggul, tak heran mereka menjadi salah satu negara yang menyebabkan perang dunia kedua.

Watak-watak tidak baik seperti ini (sayangnya) masih diterapkan dalam urusan kampanye antitembakau. Mereka masih melakukan kampanye buruk yang tidak sedikit tidak berdasar fakta ilmiah. Sebagai contoh, anggapan bahwa segala penyakit mematikan pasti disebabkan oleh rokok. Ini jelas anggapan yang keliru, namun melulu diproduksi dan disebarluaskan.

Agar kepentingan mereka terpenuhi, mereka sanggup melakukan apa saja walau dengan cara-cara yang tidak baik. Manipulasi misalnya, adalah hal yang juga biasa dilakukan kelompok tersebut. Sebagai contoh, isu soal filter rokok mengandung darah babi di Indonesia telah dibantah oleh Majelis Ulama Indonesia. Tapi setiap tahunnya kelompok ini tetap saja mengatakan filter rokok di Indonesia mengandung darah babi.

Begitulah perilaku kelompok antitembakau termasuk yang ada di Indonesia. Mereka tak akan ragu menuduh, mendiskriminasi, bahkan memanipulasi sesuatu sebagai bahan kampanyenya agar tujuan dan kepentingan kelompok tercapai. Walau Nazi telah bubar sejak lama, namun watak-watak yang dimiliki partai ini sepertinya tetap ada dan berlipat ganda dalam benak setiap kelompok antitembakau. ßMereka terus saja memilih untuk mengukuhkan diri sebagai kelompok keras kepala dan tanpa pernah mau mempedulikan hak dan kepentingan orang lain.