Rokok sebagai Penanda Kedewasaan

Mitos Rokok

Rokok kerap dianggap sebagai penanda kedewasaan. Tidak sedikit anak-anak usia sekolah merokok karena ingin dianggap dewasa. Padahal, merokok bukanlah aktivitas yang membuat seseorang menjadi dewasa. Namun karena telah mencapai kedewasaan lah seseorang diperbolehkan untuk merokok.

Bagi beberapa masyarakat adat, keberadaan rokok amatlah penting sebagai penanda kedewasaan. Dalam tradisi yang mereka miliki, seseorang dianggap telah dewasa apabila Ia telah melewati satu upacara yang mengharuskannya merokok. Dan setelah upacara itulah Ia dianggap telah dewasa.

Memang rokok menjadi salah satu penentu kedewasaan seseorang. Tapi bukan rokok yang membuat orang menjadi dewasa. Dalam tradisi masyarakat adat, seseorang baru bisa mengikuti upacara tersebut setelah Ia bisa membuka ladang atau berburu. Jadi, Ia harus mencapai indikator-indikator kedewasaan terlebih dahulu baru bisa mengikuti upacara yang membuatnya dianggap sebagai orang dewasa.

Inilah hal yang luput diketahui masyarakat. Merokok adalah aktivitas yang baru bisa dilakukan seseorang setelah mencapai kedewasaan. Bukan karena rokok seseorang menjadi dewasa. Ada indikator-indikator tertentu dalam kebiasaan masyarakat yang harus dicapai seseorang untuk dianggap dewasa. 

Di Madura dan Temanggung, misalnya. Saat seorang anak dikhitan, Ia telah dianggap dewasa dan diperbolehkan merokok oleh orangtuanya. Tradisi ini masih dipertahankan sampai sekarang. Prosesi ini dilakukan saat pemotongan pucuk kelamin laki-laki, dan setelah khitan dilakukan sang ayah akan memberikan rokok kepada anak.

Dalam kasus tersebut, seseorang dianggap telah dewasa setelah khitan. Dan karena telah dewasa itulah Ia diperbolehkan merokok. Bukan karena merokok maka Ia dianggap dewasa dan dikhitan. 

Memang indikator kedewasaan dalam setiap masyarakat berbeda. Jika negara ini menganggap kedewasaan ditentukan oleh usia, ketika mencapai usia 17 Ia dianggap dewasa dan ditandai dengan kepemilikan kartu tanda penduduk. Namun dalam kehidupan bermasyarakat, setiap daerah memiliki indikatornya tersendiri.

Karena itu, menentukan kedewasaan seseorang tak bisa melulu melalui faktor usia. Karena, di beberapa daerah seorang anak yang sudah bisa memiliki penghasilan dan membantu pengeluaran orang tua telah dianggap dewasa.

Untuk urusan merokok, memang hanya orang-orang dewasa saja yang boleh melakukan aktivitas ini. Hal ini dikarenakan persoalan merokok ini membutuhkan tanggung jawab yang besar. Tak bisa dilakukan secara sembarangan dan tanpa kesadaran.

Ketika merokok, seseorang dituntut untuk sadar akan barang konsumsi yang memiliki faktor risiko terhadap penyakit. Selain itu orang yang merokok juga harus sadar akan hak orang lain. Dan yang paling penting, seseorang yang merokok harus memahami tanggung jawabnya agar tidak merenggut hak orang lain yang tidak suka asap rokok.

Jika orang yang belum dewasa merokok, Ia telah melanggar tatanan hidup masyarakat. Bisa jadi Ia merokok karena ikut-ikutan teman, tidak dilandasi sebuah kesadaran yang membuatnya memutuskan merokok. Dan yang paling buruk dari hal ini, ia bisa merampas hak orang lain dengan merokok sembarangan tanpa punya tanggung jawab atas barang yang dikonsumsinya.

Inilah alasan-alasan kenapa orang yang belum dewasa tidak diperbolehkan merokok. Alasan kenapa hanya orang yang telah dianggap dewasa saja yang diperbolehkan menghisap rokok. Dan sebuah upaya agar orang yang tidak merokok tak lagi terampas haknya, agar tak ada lagi perselisihan yang disebabkan oleh rokok.