Tepuk Jidat untuk Antirokok yang Selalu Benar

perokok
perokok

Kalau bukan karena kesehatan, antirokok rasanya tak akan punya lini untuk mengkritik rantai kehidupan pertembakauan di Indonesia; pengaturan jam tayang iklan televisi, kebijakan kawasan tanpa asap rokok (KTR), penghilangan bantuan kesehatan, hingga hal-hal remeh macam perubahan bungkus rokok yang nyatanya tak berpengaruh terhadap ikatan emosional antara rokok dan perokok, semuanya karena urusan kesehatan. Meski telinga kita sepertinya lebih banyak mendengar kabar buruk dari meningkatnya volume kendaraan.

Rantai kehidupan industri tembakau di Indonesia begitu komplek. Mulai dari aspek ekonomi, agama, hingga budaya. Khusus yang terakhir, setidaknya kini beberapa daerah yang notabene hidup dari pertanian tembakau tak hanya bicara soal hitung-hitungan matematis untung rugi, ia lahir sebagai tradisi, buah dari ikatan emosional dan kesepakatan sosial kelompok masyarakat: Sumedang dengan banyak ritual keagamaannya meski dikenal kelompok masyarakat abangan, Demak dengan jamaah thariqah-nya, Temanggung dengan tradisi penghitungan hari, Malang dengan tradisi Kuda Lumping, Pamekasan (Madura) dengan tradisi NU-nya. Itu semua demi lahan kehidupan mereka: tembakau. Dan tentu saja, lebih dari 30 juta masyarakat Indonesia yang bergantung pada industri ini.

Industri pengolahan tembakau bukan hanya menjadi ladang ekonomi bagi masyarakat yang digerakkan oleh kelompok petani dan dan buruh tembakau yang tersebar di banyak daerah seperti Jawa dan Sumatera. Ia bahkan telah hidup dan menjadi identitas nasional, seperti Kuba dengan cerutunya, wine atau anggur dengan Perancis, vodka dengan Rusia, jam tangan dengan Swiss, industri otomotif dengan Jepang, sepak bolah dengan Inggris dan Brazil, atau industri perfilman hollywood dengan Amerika. Jika sebagian kalangan muslim menilai itu tak sepadan karena notabene masyarakat Indonesia adalah beragama Islam, Pancasila telah menjawab itu. Sebab meski mayoritas, agama toh tidak bisa memberi intervensi dan legitimasi atas hidupnya tradisi di banyak masyarakat kita.

Sejak dulu, Indonesia dikenal sebagai bentangan kepulauan Nusantara dengan keragaman suku, budaya, dan hasil buminya. Rempah-rempat tentu saja menjadi satu dari sekian keragaman itu, yang menarik masyarakat luar singgah dan menetap, meski kemudian itu seperti menjadi bumerang untuk masyarakat pribumi kita. Rempah-rempah menjadi buah bibir di kalangan pelau Eropa. Menjadi primadona yang tak kalah dengan emas batangan.

Dan industri tembakau, faktanya kini menjadi rantai ikatan ekonomi dan budaya yang hidup di masyarakat. Dari distributor, rokok-rokok kretek itu tersebar ke toko-toko, kios-kios kecil, warung kelontong, hingga pedagang asongan. Industri tembakau bukan hanya memberi sumbangan besar pada pendapatan cukai negara, ia menghidupi kegiatan-kegiatan lain mulai dari pendidikan hingga hiburan: liga sepak bola, kesenian, kehidupan industri pertelevisian, dan tentu saja bulutangkis yang karenanya kita bisa sedikit bisa merasa bangga di hadapan dunia.

Sayang, meski telah banyak menghidupi sebagaian besar kepentingan nasional, industri tembakau harus terus menghadapi tekanan kampanye antirokok. Meski menjadi produk legal, keberadaannya boleh jadi tak ubahnya seperti barang ilegal. Pola pemasaran yang dibatasi, hingga konsumen yang terus mendapat diskriminasi. Sebagian kalangan mencaci masyarakat yang hidup dan merasakan keuntungan dari industri ini, namun nahasnya, mereka juga memetik keuntungan dari sebaran bantuannya.

Lalu, karena alasan kesehatan, seolah-olah rantai kehidupan masyarakat itu harus dipotong. Keberadaan rokok dan industri tembakau seolah-olah menjadi barang ilegal. Masyarakat sedikit demi sedikit terus digiring untuk mengamini, bahwa rokok dan semua yang bertalian dengan itu adalah budaya bar bar. Meski faktanya, keberadaan industri lain, seperti otomotif, emas, alat-alat mandi, dan banyak kebutuhan yang kita konsumsi sehari-hari tak sedikit yang harus merampas kehidupan masyarakat lain.

Iya, sambil ngakak mari kita tepuk jidat dan bilang, antirokok memang selalu benar.