Benarkah Berhenti Merokok itu Sulit?

merokok
merokok

Sebagai orang yang—tentu saja—tidak anti terhadap rokok, saya pernah bertemu orang yang memiliki daya tahan luar biasa terhadap rokok. Baik itu adalah teman-teman saya di kampus, lebih-lebih orang-orang di kampung saya yang mayoritas berprofesi sebagai petani.

Saya pernah bertemu laki-laki yang seminggu bisa menghabiskan 20an bungkus rokok. Itu berdasarkan penuturan dia sendiri. Dia laki-laki dengan usia 30an tahun. Waktu itu, kami satu rombongan ziarah wali songo. Agar tidak terus-terusan membeli rokok di tengah jalan, ia membawa rokok sebagai bekal di tengah jalan.

Di bus, saya yang duduk persis di belakangnya secara tidak sengaja mendengar keluhan si istri yang diminta untuk kembali membeli rokok oleh sang suami. Usut punya usut, si istri rupanya kesal sebab persediaan rokok suaminya telah habis. Padahal itu belum genap seminggu sejak awal kepergian ziarah dan membawa 20 bungkus rokok kretek untuk suaminya.

Lain lagi dengan laki-laki paruh baya yang biasa dipanggil Pak Ending. Mengenali kebiasaannya, rasanya kok ilmu kedokteran tak bakal mampu menjelaskannya. Di usianya yang lebih dari setengah abad, ia masih menjadi laki-laki kokoh dengan disiplin luar biasa. Begini faktanya: saban pagi—persis di jam yang sama—ia akan pergi ke sawah. Ia adalah perokok aktif. Bila tidak ke sawah, menurut salah satu cucunya, badannya akan sakit-sakitan. Loh, loh,

Ehem, maaf, mungkin teman-teman antirokok bisa menjelaskan fenomena ini. Oh ya, ini masih satu fenomena dengan mendiang Mbah Gotho ya.

Teman-teman saya di kampus juga tak kalah ngeheknya terhadap rokok: membuka pagi dan menutup malam dengan rokok. Berdasar ilmu kesehatan ini barangkali fenomena yang biasa dilakukan dalam dunia perokok. Tak ada yang aneh. Itu di hari biasa. Jika di bulan puasa, barangkali polanya akan sedikit berubah: membuka dan menutup puasa dengan rokok. Ok. Kita sepakat mereka adalah orang-orang yang memiliki ikatan erat dan barangkali sulit dipisahkan dari rokok.

Adiktif berasal dari kata addict, yang berarti pecandu. KBBI mengartikan adalah sesuatu sesuatu yang bersifat menimbulkan ketergantungan. Lalu, kenapa seseorang bisa bergantung terhadap suatu zat? Wikipedia mencatat, adiktif adalah obat serta bahan-bahan aktif yang apabila dikonsumsi oleh organisme hidup, maka dapat menyebabkan ketergantungan atau adiksi yang sulit dihentikan. Dan jika dihentikan, dapat memberi efek lelah luar biasa atau rasa sakit luar biasa.

Adiktif bukan hanya berasal dari nikotin yang berada pada daun tembakau yang menjadi bahan utama rokok. Tapi juga berada di buah-buahan seperti terong, kentang, tomat, hingga kembang kol. Anda barangkali baru tahu ternyata beberapa sayur dan buah yang kita konsumsi sehari-hari itu juga mengandung nikotin yang menimbulkan adiksi.

Lalu, apakah kita menjadi pecandu pada buah-buah itu? Dan, benarkah orang-orang yang memiliki ketergantungan luar biasa pada rokok ini akan sulit menjalankan puasa karena efek adiksi pada rokok?

Sebelum menjawab itu, mula-mula saya ingin bertanya: apakah kyai-kyai, khususnya yang dari kalangan NU tidak puasa? Ah, rasanya kita harus berpikir seribu kali untuk membuktikan apalagi menuduh beliau-beliau itu tidak puasa. Lazimnya kita mengenal mereka, NU tentu begitu identik dengan rokok. Lalu, apakah mereka sakit karena tidak merokok sebab puasa seharian? Untuk membuktikannya, barangkali para antirokok bisa melakukan riset kecil-kecilan bagaiamana kehidupan para kyai NU dengan rokoknya.

Meski tak lama hidup di pesantren, saya tahu kehidupan kyai saya dengan rokoknya. Pada 2009, saat kali saya masuk ke sana, kyai saya adalah laki-laki dengan usia cukup sepuh. Paling sepuh di antara kyai-kyai di pesantren lain yang umumnya masih di kisaran usia 40-50an. Untuk ukuran kyai itu masih ukuran muda. Kyai saya jauh di atas itu. Tapi karena saking dekatnya dengan rokok, para tamu yang datang padanya, tak lupa untuk membawa rokok. Saya beberapa kali pernah disarankan teman untuk membawa rokok jika sowan ke beliau.

Saban pagi dan malam, ia akan rutin menyirami tanaman yang ada di depan rumahnya. Yang bikin saya masih heran, matanya bahkan masih awas membaca koran dengan tidak menggunakan kacamata. Ia akan membacanya sambil tidur-tiduran di atas sofa dan sesekali sambil menghisap rokok kreteknya.

Jika ente bukan antirokok, cobalah sedikit bergaul dengan kehidupan para perokok. Ente akan menemukan beberapa kelainan yang bahkan tidak akan ditemui oleh hasil-hasil penelitian antirokok soal bahaya-bahaya rokok dan tagline-tagline-nya, dari mulai rokok membunuhmu sampai rokok cuma bakar uang, dan analogi-analoginya yang sekilas masuk akal. Tapi di dua kilas menjadi tampak wagu.

(Visited 103 times, 1 visits today)