Menjadi Perokok yang Baik dengan Tidak Memberi Rokok pada Anak di Bawah Umur

Pada 2012, Komisi Perlindungan Anak merilis data hasil penelitian tentang dampak iklan rokok di televisi terhadap minat anak untuk merokok. Hasil penelitian itu katanya, 10 ribu anak usia sekolah menengah pertama, di 10 kota di temukan bahwa 93 persen anak mengetahui dan tertarik iklan rokok lewat media televisi. dan sebanyak 34 persen dari 10 ribu anak mengaku merokok karena tertarik saat acara musik.

Pada 2015, Yayasan Pengembangan Media Anak kurang lebih merilis hasil penelitian serupa, yang katanya, sebanyak 3,9 juta anak usia 10-14 tahun telah menjadi perokok aktif. Detailnya, Terdapat 3,9 juta anak berusia 10-14 tahun yang menjadi perokok aktif di Indonesia. Dari data itu, terjadi peningkatan tajam pada kelompok umur mulai merokok 10-14 sebesar 80 persen dalam kurun 9 tahun (2001-2010).

Lihatlah begitu mengejutkannya angka perokok pemula di negara ini berdasar versi antirokok. Sangat mengada-ada sekali. Pertanyaannya, perokok pemula digadang-gadang antirokok disebabkan oleh masifnya iklan rokok. Tapi  benarkah iklan rokok di televisi telah memberikan pengaruh sedemikian buruk? Bagaimana dengan iklan produk konsumsi lainnya? 

Sewaktu kecil, saya tak paham, kenapa iklan-iklan rokok di televisi adalah aktivitas lelaki, mulai dari hal-hal yang memberi kesan maskulin hingga yang lucu-lucuan. Meski sebagian iklan itu memperlihatkan kesan maskulin dan keren, tapi ya sudah, hanya sebatas itu. Di kepala saya, tak korelasi bahwa sang model iklan adalah perokok.

Hingga kini, saya , iya saya, bahkan belum benar-benar mengerti, beberapa iklan rokok di televisi: apa yang hendak disampaikan iklan rokok di televisi itu. Entahlah. Apa memang saya yang benar-benar bego.

Mari kita bandingkan dengan iklan kendaraan bermotor di televisi: meliuk-liuk di hutan, gunung, dan lautan. Belum lagi, beberapa sinetron remaja yang memperlihatkan pergaulan mereka di jalanan: balap sepeda motor, tawuran, dan sebagainya. Belum selesai di iklan, sudah sejak lama sistem penjualan kredit motor yang juga dipermudah. Apakah para antirokok pernah mempertimbangakan bagaimana lonjakan kendaraan bermotor di jalanan. Rokok dan kendaraan, keduanya sama-sama mengeluarkan asap. Itu belum selesai, karena kendaraan memiliki risiko lain, yakni risiko kecelakaan yang akan terus meningkat.

Lalu, dengan mudahnya akses masyarakat dalam meningkatkan kendaraan, apakah mereka pernah menghitung berapakah kini jumlahnya? Berapa jumlah kendaraan yang dimiliki satu keluarga?

Penelitian yang dilakukan oleh lembaga riset Financial Inclusion Insights menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara kepemilikan sepeda motor dan tingkat penghasilan masyarakat Indonesia. Dengan kata lain, masyarakat miskin cenderung memiliki jumlah sepeda motor yang lebih banyak dibandingkan masyarakat berpenghasilan menengah ke atas. 

Untuk mendapat sepeda motor, masyarakat sering diiming-imingi DP murah oleh dealer. Bagi masyarakat kelas bawah, ini terlihat memang sangat ringan. Namun demikian, mereka sebenarnya telah masuk dalam perangkap hutang dengan jangka waktu yang cukup panjang. Orang tua paruh baya, pernah bercerita kepada saya atas keputusannya meninggalkan profesinya sebagai supir taksi di Jakarta.

“Dulu Jakarta enggak macet kayak gini, Dek. Ini kayak gini sejak kredit motor dipermudah. Dulu satu keluarga buat dapat motor aja susah banget”.

Saya menghargai beberapa teman saya yang tidak merokok depan anak kecil. Saya pernah menemui seorang ibu dengan anak kecilnya, namun tidak merokok di depan dan dekat anaknya. Sebagai perokok, saya juga mendukung peraturan KTR agar diterapkan betul-betul. Tentu saja aturan itu disertai juga dengan penyediaan ruang merokok yang layak. Belakangan teman-teman kosan saya yang merokok malah lebih beretika. Teman saya, sebagai kepala asrama, bahkan membuat aturan agar penghuni asarama tidak boleh merokok saat berlangsungnya rapat, karena akan mengganggu.

Orang tua berperan penting dalam keputusan anak untuk merokok. Dan tentu saja pergaulan.