Rokok, Nasi, dan Yang Mendadak Religius juga Adiktif

perokok
perokok

Setiap Ramadhan tiba banyak orang mendadak religius. Artis mendadak religius, politisi mendadak religius, iklan-iklan di televisi mendadak religius, pun kampanye antirokok mendadak religius. Semua berlomba-lomba mencitrakan diri dan kelompoknya. Sudah bukan rahasia, oleh banyak kalangan bulan puasa dimaknai sebatas pemanfaatan momentum. Hal itu sama halnya menunggangi esensi bulan suci. Tak ketinggalan penunggangan itu pun dilakukan dalam kampanye antirokok. Salah satu kampanyenya ialah menjadikan bulan suci ini sebagai momentum berhenti merokok.

Kampanye untuk berhenti merokok tersebut selalu memainkan kata ‘adiktif’ di dalamnya. Kata tersebut diulang-ulang untuk melabeli bahwa perokok adalah golongan pesakitan yang perlu diinsyafi perilakunya dalam hal merokok. Perokok digambarkan bak pecandu narkoba, disetarakan dengan pengguna barang illegal. Dituding tidak bisa melepaskan diri dari jerat adiksi nikotin oleh orang-orang yang sok peduli akan kesehatan.

Ada baiknya kita memahami terlebih dahulu terminologi adiktif agar memiliki pengetahuan sebelum melabeli sesuatu dengan predikat adiktif. Secara akar kata adiktif itu sendiri berasal dari kata addict, yang artinya ketergantungan. Jika kita mengacu pada KBBI, adiktif adalah sesuatu yang bersifat menimbulkan ketergantungan pada pemakainya.

Sedangkan zat adiktif adalah obat serta bahan-bahan aktif yang apabila dikonsumsi dapat menyebabkan kerja biologi tertentu pada tubuh serta menimbulkan ketergantungan yang sulit dihentikan. Apabila penggunaannya dihentikan, maka dapat memberi efek tertentu, seperti lelah atau sakit luar biasa pada orang yang terbiasa mengonsumsinya.

Apa yang sering diusung oleh antirokok adalah rokok mengandung zat adiktif dan perokok atau konsumennya menjadi ketergantungan terhadap rokok. Sungguh luar biasa pelabelan kata adiktif ini, karena seringkali pula antirokok mengandalkan hasil riset junk science untuk memperkuat kampanye tersebut. Boleh saja ini dituding sebagai anasir dari pandangan denialisme, namun faktanya justru pembenaran yang diulang-ulang oleh antirokok lebih tepat disebut demikian.

Jika rokok mengandung zat adiktif, dan perokok ketergantungan nikotin pada rokok. Perokok bisa saja menebalkan penyangkalan, bahwa tak hanya nikotin pada rokok yang memberi dampak adiktif terhadap penggunanya. Dan jangan sampai kelewat bebal juga, bahwa nikotin yang dikandung sayur-mayur seperti kentang, terong, dan sebangsanya, terutama lagi karbohidrat pada nasi yang masyarakat Indonesia makan sehari-hari, pula berpotensi serupa. Adikitif.

Kenapa antirokok lebih menyasar unsur adiktif hanya pada rokok? Yaktul. Karena mereka bukan golongan pembenci nasi. Mereka golongan pembenci rokok yang akan terus berusaha menginsyafi orang lain (perokok) ketimbang dirinya sendiri yang ketergantungan pada nasi, ataupun sepaket hadiah lebaran, botol sirup, biskuit kaleng, dan sebangsanya.   

Para ahli dari British Medical Journal mengatakan penggunaan kata adiktif kepada rokok tidaklah tepat. Sebab para peneliti tersebut mengemukakan perokok sangat mudah untuk berhenti dari aktivitas merokoknya. Justru kata adiktif itulah yang membuat perokok menjadi sulit untuk berhenti merokok.

Sangat banyak orang yang memutuskan meninggalkan konsumsi rokok tanpa harus melalui terapi berhenti merokok dari klinik-klinik Kementerian Kesehatan. Berhenti ya berhenti saja, tidak repot kok. Ada juga para perokok yang merokok hanya di waktu-waktu tertentu saja. Ada juga yang perokok berat, tiada hari tanpa merokok. Karena memang  setiap perokok punya porporsi yang berbeda-beda. Pecandu nasi bungkus pun demikian bukan, ada yang merasa cukup satu-dua bungkus sehari, bahkan ada yang butuh lebih demi mencukupi tembolok peliharaannya. Ada juga perokok yang merasa kebutuhan merokoknya sudah dirasa cukup, bisa berhenti total di kemudian hari.

Apakah kita pernah melihat ada perokok yang sampai kejang-kejang atau depresi ketika ia tidak merokok? Atau dia sampai direhabilitasi layaknya pecandu narkoba, pernahkah ada? Paling-paling hanya mulut berasa asam sedikit sewaktu habis makan, itu juga karena sehabis makan memang terdapat sisa asam makanan di mulut. Bagi sebagian orang ada juga yang mengatasinya dengan makan makanan pencuci mulut.

Jadi jika merujuk kepada pengertian rokok mengandung zat adiktif, toh buktinya mantan perokok ada yang sanggup berhenti merokok total dengan mudah, juga adakalanya pada satu rentang masa ia tidak merokok, dan sama sekali tidak mengalami kesakitan atau efek apapun yang ditimbulkan, apalagi itu sampai perlu direhabilitasi.

Pembuktian yang paling tak bisa dibantah adalah berpuasanya orang-orang yang merokok di bulan Ramadhan. Tak perlu riset ribet dengan variabel rumit, dengan berpuasanya perokok ketika Ramadhan itu sudah membantah stigma rokok adalah sesuatu yang memberi dampak adiktif. Selama lebih dari 12 jam berpuasa buktinya tuh banyak perokok yang tidak mengalami kejang-kejang, berhalusinasi, muntah-muntah, kerusakan syaraf, mulut berbusa, impoten, dan tetek bengek lainnya yang dituduhkan selama berpuasa.

Kampanye antirokok yang mengajak untuk memulai berhenti merokok pada Ramadhan. Iya kita anggap saja sebatas ajakan. Is oke. Wong tanpa harus menunggu Ramadhan saja bisa kok perokok memutuskan untuk berhenti merokok. Kalau memang sudah dirasa kebutuhannya tidak lagi didapat dari merokok, tanpa harus menunggu momentum Ramadhan perokok akan punya kesadaran alamiah untuk berhenti.

Kampanye itu seolah-olah adalah upaya preventif yang sekali lagi menunggangi suatu momentum, justru dengan memaksa perokok dengan mendeskriditkan dan pelabelan akan barang legal yang dikonsumsinya itulah yang menggiring kondisi denialisme. Padahal persoalan merokok adalah sesuatu yang habituatif, seperti halnya kita yang mencandui nasi ketimbang singkong. Sungguh tindakan konyol memaksa seseorang berhenti dari habituasinya melalui cara yang mendeskriditkan. Melabeli sesuatu yang adiksi hanya kepada apa yang dibenci, bukankah pada apa yang orang lain gemari (selain rokok) juga punya potensi adiktif. Mendadak religius demi kepentingan dagang juga adiktif. Kenapa itu tidak segera kalian insyafi, wahai kaleng biskuit.