perokok
perokok

Begini, yang perlu ditegaskan dalam khazanah per-rokok-an, adalah kita dapat membedakan antara perokok, bukan perokok, dan antirokok. Ini penting. Sebab, pada ketiganyalah nasib dan nisab rokok akan ditentukan. Kelompok perokok tentu saja adalah orang-orang garis selo. Mereka tahu kesehatan, tapi enggak pernah lebay. Bukan perokok adalah mereka yang memilih untuk tidak merokok, dan juga enggak lebay. Mereka tidak merokok, tapi ya, biasa aja sama pilihan orang-orang yang merokok: bergaul dan sebagainya.

Sementara para antirokok, adalah orang-orang yang hidup di negara Pancasila, tapi enggak suka sama keberadaan perokok. Enggak aneh sih, karena memang banyak orang-orang model begituan. Tapi masalahnya, sikap terbuka untuk memerangi rokok inilah yang jadi persoalan. Jumlahnya memang tidak banyak, tapi mereka akan memposisikan para perokok seperti hantu. Persis para jendral yang mewaspadai kabar lahirnya komunis gaya baru: menyita buku-buku komunisme, menghilangkan simbol-simbolnya, hingga membubarkan diskusinya. Persis ketakutan antirokok terhadap rokok.

Marx, dalam manifestonya, sejak pertama mamang menulis komunisme adalah hantu. Ada hantu berkeliaran di Eropa—hantu komunisme, demikian tulis Marx. Ia memang tak riil, tapi ketakutan kepadanya adalah suatu yang nyata. Phosmophobia, demikian ahli bahasa menamainya. Ini istilah yang dilahirkan dalam ilmu kejiwaan untuk menyebut orang-orang yang takut pada hantu, meski bisa saja mereka belum bertemu dengan hantu. Phosmophobia adalah satu jenis ketakutan pada yang tak terlihat, sama seperti philophobia, satu jenis ketakutan pada cinta.

Nah, jika ada istilah untuk menamai ketakutan pada keduanya, hantu dan cinta, maka, apa istilah yang tepat untuk ketakutan pada rokok? Jadi, para antirokok akan mendapat julukan baru. Bukan antirokok, tapi ada istilah lain untuk mereka, pengidap ududphobia, misalnya?

Oke, kembali ke tiga firqah per-rokok-an. Nah, di antara tiga firqah itu, yang paling menentukan nasib rokok ke depan adalah kelompok kedua: bukan perokok. Terutama mereka yang sehari-hari bergaul dengan para perokok. Mereka patut memberikan jawaban atas pertanyaan, apakah perokok memang patut mendapat hukuman seperti yang ditudingkan para antirokok: subsidi pendidikannya dipotong. Bantuan kesehatan kepada mereka dipangkas. Dan keberadaannya harus didiskriminasikan.

Kita boleh tidak percaya, tapi antirokok adalah orang-orang yang hidup di udara, tak menapak bumi. Mereka tidak tahu bagaimana persoalan kehidupan perokok dan bukan perokok. Dan para antirokok adalah orang-orang yang sama sekali tak tahu bagaimana rokok mengikat kehidupan masyarakat yang melahirkan sebuah tradisi.

Apakah para perokok pernah membayangkan, bagaimana seandainya teman-teman kita yang bukan perokok memiliki sikap laiknya para antirokok? Nah loh, isu-isu yang berseliweran di medsos soal bela negara aja udah bikin kepala pening. Meski hanya di temlen fesbuk, tapi dampaknya udah bisa buat kita mutusin pacar gara-gara si dia membagikan statusnya si anu. Sampai bubaran salat Jumat gara-gara khutbahnya enggak klop. Ngeri-ngeri sedap kan?

Persoalan perokok dan bukan perokok bukan tidak mungkin melahirkan kebencian serupa. Di dekat-dekat kampus, nantinya mungkin akan ada kos-kosan “boleh merokok” dan “dilarang merokok”. Sikap takut rokok, seperti laiknya takut hantu, akan melahirkan rantai ketakutan, panjang dan tak beralasan.