Diperlukan Teladan dan Saling Mengingatkan Antar Sesama

Gempita arus balik lebaran sudah bukan hal baru lagi di tiap tahun. Berbagai media utama tak ketinggalan kerap mewartakan, sejalan masa libur para pegawai yang terbatas. Dan seturut itu, sekian media utama biasanya akan pula menyoroti fenomena wajah urbanisasi.

Dimana kedatangan warga daerah, yang kerap distatuskan sebagai warga pendatang baru. Membawa dedikasi untuk mendapat satu peruntungan nasib di kota besar. Isu ini tak pernah luput dari perhatian banyak pihak. Terlepas itu perokok ataupun bukan. Tetap dipandang bagian dari satu problem perkotaan.

Sebagai peristiwa kebudayaan, lebaran memang tak sebatas merayakan silaturahmi dan masa liburan. Lebaran menjadi sekian cerita tersendiri di tiap ingatan orang-orang. Para pemudik kembali ke ibu kota menjalani aktifitas rutin. Para pendatang baru turut digunjingkan sebagai komoditas yang berulang dari lebaran ke lebaran.

Warga pendatang baru di Jakarta ini oleh otoritas kerap ditekankan untuk memiliki keterampilan, di balik itu, selebihnya tentu modal yang lain. Tak kalah perlu lagi, di luar penekanan itu adalah kemampuan beradaptasi. Seperti pula warga negera asing yang berhuni dan bekerja di Jakarta. Tantangan adaptasi itu di antaranya terkait budaya merokok.

Kebiasaan orang yang memiliki ruang hidup tidak sumpek, artinya selain masih memiliki kualitas udara dan lingkungan yang baik, belum tercemari banyak polusi, juga belum dibuat sempit oleh berbagai bangunan. Kebiasaan merokok di ruang terbuka adalah suatu hal lumrah, tak terbentur problem ruang seperti yang terjadi pada masyarakat urban.

Paparan asap rokok pada ruang hidup orang desa, tidaklah terlalu dianggap mengganggu. Toleransi masih terbina dan tata hidup yang harmonis masih terselenggara baik. Lain hal ketika kebiasaan merokok itu dilakukan di kota besar, misalnya Jakarta, kota yang sudah miskin ruang yang ramah. Ramah perokok tentunya. Karena sekian tata aturan kerap tumpang tindih dimaknai.

Orang terdekat, keluarga maupun sesama, perlu mengambil peran untuk mengingatkan dan memberi teladan. Bahwa di Jakarta, merokok bukan semata soal hak dan gaya hidup, namun pula menuntut kesantunan dan pembiasaan normatif.

Terutama pula saat membawa kendaraan bermotor, jika tanpa didasari kesantunan, tak jarang terjadi dengan cueknya merokok di atas sepeda motor. Tanpa menghiraukan dampaknya terhadap pengendara lain. Yang itu kemudian ditafsir sebagai citra buruk perokok.

Dan hal semacam ini sangat mungkin terjadi, sekali lagi, lantaran tidak adanya orang lain atau orang terdekat yang mengingatkan dan memberi teladan. Artinya, jika orang Jakarta sendiri terlihat berlaku semena-mena dalam hal merokok, maka perilaku serupa niscaya akan ditiru dan dianggap sah.

Belum lagi jika sikap cuek semacam itu terjadi pula di dalam gedung yang memiliki sensor asap. Waduh. Bisa menimbulkan tragedi yang menggelikan. Bukan tidak mungkin, bisa jadi bahan olok-olok antirokok jika sudah begitu. Tetapi saya percaya orang dari daerah memiliki tepo seliro dan kesantunan yang lebih. Termasuk saya. Ehem.

Namun tak kalah penting dari hal itu, bagi pengelola gedung yang sudah menyediakan fasilitas ruang merokok mesti juga memberi tanda petunjuk terkait, sekaligus keberadaannya yang dapat diakses dengan mudah. Ini penting. Bukan perkara ideal atau bukan. Ketetapan ruang merokok asasnya hidup yang berkeadilan. Bukan perkara siapa memanjakan siapa.

Boleh saja gambaran ini dianggap sebagai hal yang kasuistik. Namun pengelola gedung sudah semestinya tak pula menganggap remeh kemungkinan yang dapat berisiko buruk. Dari ketersediaan ruang merokok itu, kita mendapat satu bentuk keteladanan. Para pihak pun merasa dihargai. Itu inti di antaranya.