Jadi, Kapan Pabrik Rokok Ditutup?

Deddy Corbuzier

Beberapa waktu terakhir warganet bergemuruh ketika sebuah video yang diunggah Dedy Corbuzier menampilkan dirinya tengah merokok. Bukan hanya sekadar merokok, tapi sedari awal hingga akhir video dirinya terus menghisap rokok. Video tersebut membuat warganet geram, di satu sisi. Tapi kemudian juga bersorak ketika Dedy bertanya di akhir video; jadi kapan pabrik rokok ditutup?

Secara pribadi saya menyarankan Anda semua menonton konten video itu sampai habis. Walau menampilkan adegan merokok dan membuat pertanyaan yang seolah menginginkan pabrik rokok ditutup, konten video sendiri lebih mengkritisi keinginan seorang menteri memblokir media sosial di Indonesia. Intinya adalah itu.

Namun karena video tersebut menghadirkan rokok sebagai komponen, pembahasan soal rokok malah lebih banyak terjadi ketimbang kritik terhadap pemerintah.

Asal kalian tahu, Dedy adalah orang yang pernah menyatakan kalau secondhand smoker (saya tidak suka istilah perokok pasif) tidak terpengaruh penyakit karena rokok. mengutip sebuah jurnal kesehatan luar negeri, Ia menyatakan kalau kampanye tersebut dilakukan berdasar penelitian yang tak relevan. Tidak ada hubungan antara rokok dan orang yang terpapar asap rokok.

Dalam sebuah video wawancara salah satu media, Dedy juga mengatakan bahwa kanker tidak disebabkan oleh rokok. Bahkan Ia menilai bahwa polusi kendaraan di jalanan lah yang berbahaya. “Ada jutaan orang kerja di pabrik rokok. Kalau misal rokok tidak (lagi) produksi ya mereka tidak lagi bekerja,” ujarnya.

Okelah kita berhenti membahas Dedy. Pembahasan di atas hanyalah sedikit gambaran bahwa dirinya adalah orang yang berpikiran terbuka. Ia mau melihat persoalan rokok tidak hanya dari satu dimensi, tapi lebih ke multidimensi. Bahwa masalah rokok bukan hanya perkara kesehatan tapi juga masalah lainnya seperti ekonomi, budaya, dan sosial.

Dan saya sepakat dengan pandangan Dedy. Kalau memang rokok berbahaya dan membunuh, jadi kapan pemerintah mau menutup pabrik rokok?

Ini adalah pemikiran yang radikal. Terlalu berisiko dan berpotensi mengguncang perekonomian Indonesia. Tapi jika masyarakat dan pemerintah hanya mau menilai persoalan rokok dari sisi kesehatan, menutup pabrik rokok adalah solusi utama dari masalah yang ada.

Upaya-upaya pengendalian rokok hanya omong kosong belaka. Karena hal seperti itu justru memperlihatkan ketidakseriusan aktivis-aktivis anti rokok juga pemerintah untuk melindungi hak masyarakat untuk sehat. Tapi ya keseriusan mereka memang patut diragukan. Toh banyak persoalan kesehatan masyarakat tidak pernah mereka bahas dan tuntut pembenahannya kepada negara.

Karenanya, daripada sekadar basa-basi melindungi hak kesehatan masyarakat lebih baik negara juga para aktivis kesehatan ikut serta dalam kampanye etika merokok. Mari terlibat dalam sebuah upaya melindungi hak masyarakat yang tak ingin terpapar asap rokok, tapi juga menghargai hak mereka yang merokok.

Tapi, tentu ada tapinya. Kalau memang para perokok mau dihargai haknya, harus juga merokok dengan penuh tanggung jawab. Jangan lagi merokok saat berkendara, di angkutan umum, juga tempat lainnya yang berpotensi mengganggu orang lain karena asap rokok. Tak hanya itu, ayo ajak mereka untuk tidak lagi membuang puntung rokok sembarangan dan menjauhkan rokok dari anak kecil.

Jika para perokok diberi pengertian seperti di atas, tentu dengan baik dan santun ya, kemungkinan mereka untuk tak lagi abai pada hak masyarakat yang tidak merokok akan meningkat. Tapi kalau kalian, para aktivis antirokok dan pemerintah negara ini, tetap ngotot mengatakan rokok membunuh dan harus dilarang, saya cuma mau ajukan satu pertanyaan. Jadi, kapan pabrik rokok ditutup?