Karena Perokok adalah Orang-orang Asik

Saya masih meyakini, gep atau kesenjangan selalu dimulai dari prasangka. Dari mulai ribut-ribut soal aksi 212, bahkan hingga aksi 166 bela Kak Chelsea Islan (selanjutnya disingkat CI) yang diperingati sebagai Hari Galau Nasional #2 itu. Sebelum itu, yang lebih mengkhawatirkan tentu saja aksi 212 yang konon diikuti hingga ratusan ribu massa itu.

Tapi percayalah, jumlah itu hanya bagian dari ‘puncak wasangka’ yang jauh sebelum itu keyakinan mereka sudah terpupuk oleh berbagai macam kabar burung yang tak bisa dipastikan kebenarannya. Walhasil, lahirlah generalisir, kehendak umum, dan tentu saja: stereotipe.

Nah, poin terakhir itulah yang mengkhawatirkan. Situ pikir, kenapa pengikut facebook kini bertambah banyak dan ramai. Kang Mark Zuckerberg hanya memfasilitasi saja. Isinya, iya karena kita memang suka baku bual di situ. Kita-kita juga yang buat gaduh. Sedikit-sedikit dikomentari. Sedikit-sedikit dinyinyiri. Si A nyebar status soal anu, kita yang naik pitam. Terus enggak terima, akhirnya anfren-anfrenan. Padahal, kitanya juga enggak tahu fakta sesungguhnya.

Media sosial memang sering bikin jengah. Nah, dalam kondisi seperti itulah, saya sarankan agar Anda cepat pergi ke warung kopi. Kalau situ perokok, ya enggak usah nunggu lama rokoknya dinyalakan. Kalau situ bukan perokok, enggak apa-apa, nimbrung saja. Toh, enggak salah kan ngobrol dan duduk bareng sama perokok. Kalau takut sama asap rokok, iya pakai masker saja.

Kalau situ cermat melihat peta peperangan di media sosial, orang-orang yang gampang narik urat itu umumnya yang menolak rokok. Sebaliknya, mereka yang woles adalah orang-orang yang dekat sama asap rokok. NU, ya, salah satunya. Orang-orang NU ini terkenal lucu-lucu. Humornya enggak garing. Dan enggak gampang ngamukan. Dalam hal ini, Gus Dur tentu saja salah satu prototipenya.

Saya mau kasih bocoran, gimana sih caranya perokok bisa bergaul demikian asik.

Jadi gini, kita itu, perokok, adalah orang-orang yang tidak gampang mendakwa orang lain. Perokok punya pola bergaul yang tak pandang sekat maupun perbedaan. Kita itu orang yang mudah membaur dengan siapapun. Kalau enggak punya korek, kita bisa pinjam ke sesama perokok atau tukang gorengan yang lagi mangkal. Saling bertukar sapa dan hal yang sehari-hari. Kalau sedang tidak punya rokok, kita bisa nimbrung dengan teman yang lagi punya rokok. Di situ kita saling berbagi.

Karena rokok adalah salah salah satu bagian dari bahasa pergaulan, kita pun jadi mudah bergaul dan gampang berempati melihat teman yang lagi manyun, dari situ kita jadi tahu karakter dan tabiat orang dalam pergaulan. Melalui penampilan dan pembawaan seseorang atau suatu kelompok, dapat kita ketahui kecenderungannya.

Lantaran banyak bergaul dengan beragam karakter maupun latar belakang itulah, kita jadi terlatih lentur dalam bersikap, sebab pada hakikatnya manusia itu bukan makhluk satu dimensi. Di balik sisi baiknya juga ada sisi buruknya. Tak selamanya orang itu buruk, juga tak selamanya baik. Dengan berazaskan saling memaklumi satu sama lain. Itu makanya kita bisa diterima di berbagai kalangan.

Kita tahu, beberapa kawasan tanpa rokok demikian disktriminatif dan tidak sesuai undang-undang. Oke, enggak apa-apa untuk sementara waktu. Kita sadar betul ada hak orang lain di antara hak kita. Baiknya memang sikap toleransi yang kita ulungkan, iya dengan mencari tempat merokok yang jauh dari orang-orang yang tidak ingin terpapar asap rokok.

Kalau ada perokok yang tetap bandel misalnya, iya silakan saja dikenai denda. Toh akhirnya kita jadi tahu, perokok dikemplang pakai denda karena apa, karena masih ada pihak yang senang kita disiksa oleh peraturan yang timpang.

Tentu saja saya menyadari apa yang saya katakan tak berarti mewakili pandangan semua perokok di negeri ini. Namun sebagai perokok yang beretika, kita tahu masih ada warung kopi, maupun ruang lain yang ramah terhadap perokok. Yang di ruang bersama itu kita bisa saling berbagi dan memaknai hidup sebagai bangsa yang memiliki toleransi tinggi.