Maha Bedebah Rokok dengan Segala Mitosnya

Perokok

I got one chance left, in a nine live cat

I got a dog eat dog sly smile

I got a Molotov cocktail

With a match to go, I smoke my cigarette with style

(Night Train—GNR)

 

Rokok dengan segala mitosnya sungguhlah bedebah. Terlebih isi kepala yang dengan congkak dan bersikeras menggugatnya, untuk kemudian menggantinya dengan siasat produk sehat yang lebih bedebah. Sehat itu bedebah. Tukar rokok dengan permen, tukar rokok dengan koyo, tukar rokok dengan bunga, tukar rokok dengan tisu, tukar asap knalpot dengan sepeda. Maka surgalah bagi siapa saja yang terperdaya.

Hidup sehat kini sudah jadi barang dagangan. Dikurikulumkan agar kita percaya bahwa usia bumi akan kembali muda dengan modal berpatuh buta pada siasat rezim standarisasi, sementara kita tahu bumi ini bibitnya tak ada. Mungkin lebih berguna melantangkan lagu Gun’s N Roses ketimbang terhasut kecongkakan serupa. Sama-sama ingin membuktikan diri siapa lebih sehat dari siapa, halah. Bagi saya, tak ada yang betul-betul hilang dari yang kita miliki, sebab hati terpaut satu keyakinan.

Manusia memang butuh obat pelipur waktu. Makanya hidup ini ditakdirkan berpasang-pasangan. Seperti tembakau dan cengkeh pada kretek. Sebagaimana kretek dan kopi atau teh tubruk. Namun Industri kesehatan berupaya menukarnya dengan berbagai produk pengganti, pelipur jiwa yang posmo. Agar waktu-waktu Anda diisi dengan mengonsumsi produk akal-akalan baru. Berulang dan berulang. Dan kita sama-sama tahu, apa yang bernilai pada kita telah dikomodifikasi oleh berbagai kepentingan ekonomi-politik pasar, termasuk kecongkakan yang diperulah nafsu mau unggul sendiri.

Ada baiknya lebih dekat membaca banyak negara yang terjerat siasat bedebah industri kesehatan, hampir tak ada yang mampu menandingi kedegilan Indonesia bukan? Bagaimana tidak degil, tuntutan traktat FCTC (Framework Convention Tobacco Control) untuk diratifikasi saja bikin mereka makin geregetan, lha bagaimana, wong negara sekelas Amerika saja ogah kok.

Bagaimana tidak degil, sudah nyata-nyata polusi kendaraan dan perangkap hedonisme itu memiskinkan, tapi masih saja golongan congkak bersikeras, bahwa rokoklah biang kemiskinan. Bahkan jauh lebih degil lagi para pihak yang enggan mengakomodasi ruang merokok. Tambah pula memaksakan aturannya ke dalam ruang privat. Hih.

Zimbabwe yang aset pertembakauannya sudah dalam kendali MNC (Multi National Corporate) terbukti tak mampu berkutik dari keterpurukan yang multidimensi. Syukurnya, Indonesia yang bedebah ini menikmati segenap kedegilannya, sebab ketimpangan yang dikondisikan mereka hanya akan mencipta melankolia. Bedebah memang. Masih ada orang seperti Cak Nun yang menjawab stigma miring tentang rokok dengan semangat guyub dan kearifannya.

Bagi banyak kalangan, traktat FCTC dipercaya bagai tongkat sihir yang membuat kelinci dan hal-hal ajaib lain dari dalam topi menjelma, seraya dimaknai bakal memakmurkan para penonton. Di kepala mereka yang sok mulia, keajaiban baru akan dunia yang lebih sehat dikhilafkan oleh tongkat itu.

Meski buku Nicotine War (Wanda Hamilton) menjelaskan secara rinci dan jelas terkait fakta-fakta melalui riset yang mendalam, membongkar segala kerja industri farmasi dalam melancarkan patgulipatnya, tetap saja tak membuat industri farmasi berhenti menyiram lahan-lahan propagandanya. Bahkan tidak memberi kesempatan Anda berpikir jernih, menalar apa yang sesungguhnya terjadi di balik semua hal-hal bedebah ini. Meski itu nyata-nyata terjelaskan, dan nyata-nyata bagian dari simulakra para spekulan global.

Belajar dari sikap hidup mendiang Mbah Gotho mengingatkan kita lagi, bahwa takdir panjang umur bukan ditentukan oleh berapa banyak lilin yang sudah Anda tiup di tiap pesta ulang tahun. Bukan pula ditentukan oleh berapa banyak rokok dihabiskan untuk mengusir kejumudan hidup yang memang harus diluruhkan.

Misi industri farmasi tak sebatas merebut paten atas nikotin. Yang itu kemudian bakal memiskinkan sumber hajat hidup pasar jajahannya. Maka kesempatan saya dan Anda sama, hanya sekali menikmati kefanaan ini, buat apa harus bersibuk mewujudkan impian bedebah yang dibangun rezim standarisasi melalui mitos kesehatannya. Jika ujungnya malah membunuh harapan saudara sebangsa.

Lihat saja, berapa banyak perokok, orang-orang sepuh yang dalam kesahajaanya berkhidmat menjalani laku keseharian dengan tulus, di usia berapa, pada kesempatan yang kapan kita tak pernah tahu bagaimana ajal bekerja menjemput nyawa. Tak juga para ahli, tak juga dokter, tak juga dosen Anda. Siapa bisa bantah, bahwa radiasi gawai kita dalam keseharian turut mempercepat terjadinya stroke dan pencetus kanker pada tubuh, bukan asap rokok yang kebetulan terhirup oleh Anda. Tak bisa semena-mena penyakit itu muncul hanya karena satu faktor risiko. Rokok lagi rokok lagi. Hidup kok cuma buat mengutuki rokok. Selamat merayakan hari yang bedebah.