Melihat Tata Niaga Tembakau di Temanggung

Koh Yopi, salah satu grader di Temanggung sedang memastikan kualitas tembakau

Sepanjang musim tembakau tahun ini, ada gairah yang tahun lalu sempat hilang dari kehidupan warga Temanggung. Sepanjang jalan menuju Gunung Sumbing dan Sindoro, terlihat para-para berisi tembakau rajangan yang tengah dijemur. Para petani dan pekerja ladang pulang-pergi ke kebun, memetik dan membawa pulang daun tembakau yang telah dipanen. Sementara di siang hingga sore hari ibu-ibu terlihat sibuk menata daun tembakau untuk diperam dan pada pagi hari mereka sibuk menganjang tembakau yang telah dirajang.

Semua aktivitas ini dilakukan setiap hari, terus-menerus sepanjang hari selama musim tembakau masih berlangsung. Tahun lalu, aktivitas semacam ini kurang banyak terjadi karena hujan yang terus-menerus turun di sepanjang tahun. Kemarau basah membuat pertumbuhan tembakau kurang baik. Untuk proses pascapanennya, pengeringan tembakau menjadi lebih lama dan tidak maksimal.

Pada awal musim tanam tembakau kali ini, hujan juga sempat mengguyur tanpa henti. Para petani harus beberapa kali mengganti bibit tembakau yang rusak karena diguyur hujan terus menerus. Walau akhirnya, matahari yang menjadi faktor penentu kualitas tembakau muncul dan menyinari harapan para petani.

Meski memang pertumbuhan tembakau tahun ini masih belum begitu baik, tapi panen yang telah dijalani sejak Agustus kemarin telah mendatangkan hasil. Para pekerja ladang, yang menggantungkan hidup dari musim tembakau kembali mendapatkan pekerjaannya. Para pemetik juga kembali mendapat pekerjaan. Penjual dan pengrajin keranjang pun turut senang karena panen bisa berjalan.

Setelah panen bisa berjalan, petani kemudian harus menjual tembakaunya ke gudang yang ada di Temanggung. Di kota, ada beberapa gudang pabrikan yang tersedia. Mulai dari Nojorono, Bentoel, Gudang Garam, juga Djarum. Selain gudang-gudang pabrikan, ada juga gudang milik gaok (saudagar) yang biasanya tersedia lebih dekat dengan desa-desa penghasil tembakau.

Pekerja gudang mengangkut keranjang tembakau⁠⁠

Tahun ini pembelian dari pihak gudang kembali bergairah. Setidaknya, panen tahun ini masih jauh lebih baik dari tahun lalu. Tahun lalu, banyak gudang memutuskan untuk tidak membeli tembakau. Nojorono tidak membuka pembelian di gudangnya. Gudang Garam, tidak lama membuka gudang. Mungkin hanya Djarum yang membuka gudangnya dalam waktu yang cukup lama.

Untuk menjual tembakau, petani bisa memilih untuk menjual langsung ke gudang atau melalui gaok. Penjualan ke gudang pabrikan bisa dilakukan petani secara langsung. Hanya saja memang tidak semua pabrikan membuka gudangnya untuk petani.

Gudang Garam, misalnya. Pembelian di gudang mereka hanya bisa dilakukan oleh orang-orang yang memiliki KTA. Biasanya, KTA ini dimiliki oleh para gaok. Kalaupun ada petani yang juga memilikinya, kemungkinan besar petani itu juga berprofesi sebagai gaok yang membeli tembakau dari petani lainnya.

Jika mau menjual tembakau ke Gudang Garam, mau tidak mau petani yang tidak memiliki KTA harus menggunakan jasa para gaok. Mereka menjual tembakau ke gaok dengan rentang harga tertentu, dan beberapa hari setelah tembakau diserahkan ke gudang mereka baru mendapatkan uang hasil penjualan.

Sementara untuk gudang Nojorono dan Djarum, para petani bisa menjualnya langsung tanpa harus memiliki KTA terlebih dulu. Memang di gudang milik Djarum, ada petani-petani yang ikut sistem kemitraan pabrik mereka yang lebih diutamakan. Hanya saja, para petani lain yang tidak ikut kemitraan pun bisa menjualnya. Walau tentu saja, petani harus mengikuti standar mutu yang dimiliki gudang.

Para petani yang mengikuti sistem kemitraan biasanya mendapat pengawasan soal standar mutu sejak proses penanaman. Urusan ini biasanya dilakukan oleh petugas penyuluh lapangan dari Djarum yang datang langsung ke ladang untuk melihat kualitas tanaman para petani kemitraan.

Dalam sebuah kunjungan ke gudang Djarum yang dikomandoi grader bernama Koh Yopi, saya melihat transaksi beratus-ratus keranjang tembakau dalam satu hari. Menurut Koh Yopi, dalam satu tahun gudangnya sanggup menampung hingga 26 ribu keranjang tembakau. Dengan modal pembelian yang mencapai Rp 90 Miliar, gudangnya akan terus membeli tembakau dari para petani, setidaknya hingga petani kemitraan tidak ada lagi yang menjual panennya.

Untuk nilai tembakau, biasanya setiap gudang memiliki harga masing-masing berdasar kualitas tembakau. Dengan jenjang antara grade A hingga G, harga yang diberikan pun berbeda-beda.

Keranjang-keranjang tembakau mengantre masuk gudang

Misal, untuk tahun ini bukaan harga tembakau grade A dari Djarum bernilai Rp 25 ribu per kilogram. Angka ini akan terus bertambah seiring musim panen berjalan dan berdasar grade yang semakin tinggi. Ah iya, ukuran grade tembakau dimulai dari A yang paling rendah hingga ke yang paling tinggi H. Tapi grade H sendiri agak jarang ditemukan.

Saat saya datang di gudang Koh Yopi, harga untuk grade C sudah mencapai angka Rp 70 ribu per kilogram. Sementara grade E yang paling tinggi saat itu masih berkisar di angka Rp 125 ribu. Angka ini akan terus meningkat seiring panen tembakau dengan kualitas tinggi telah dilakukan. Prediksi petani kemitraan bernama Sugito, Grade F sepertinya bakal dihargai di angka Rp 250 ribu.

Tapi itu hanya harga yang saya dapat dari Gudang Djarum di Temanggung. Hingga saat ini, Nojorono belum membuka gudangnya. Sementara Gudang Garam tak bisa saya masuki karena saya sendiri tidak memiliki KTA. Untuk Bentoel, biasanya mereka membeli dari gudang-gudang kecil milik para gaok. Hanya gudang Djarum yang agaknya terbuka untuk orang asing semacam saya.

Sebelum terjun ke gudang dan melihat sendiri tataniaga pertembakauan di Temanggung, saya kerap menemukan berita tentang petani yang kapok ditipu saat menjual tembakaunya. Ada berita yang bilang mereka ditipu bobot keranjangnya. Ada juga yang katanya ditipu soal harga.

Sebenarnya, setiap gudang punya aturan main soal bobot tembakau dalam keranjang. Di gudang Djarum, setiap keranjang dipotong hingga 20% mengingat bobot wadahnya dan kebutuhan untuk percontohan pada pabrikan. Tapi maksimal, gudang memotong bobot hingga 7kg. Begitu aturannya.

Ketika petani datang ke gudang, tembakau siap jual terlebih dulu ditimbang sembari menunggu antrean. Nantinya setelah mendapat giliran, tembakau akan dinilai kualitasnya oleh grader ditemani petani pemilik keranjang. Koh Yopi biasanya akan mengambil sampel dari bagian tengah keranjang untuk menghindari kecurangan dari petani.

Setelah memastikan grade tembakau, petani akan diberitahukan hasilnya. Setelah itu, petani tinggal mendatangi kantor keuangan gudang untuk menerima pembayaran dari tembakau yang Ia jual. Poin ini yang dianggap menguntungkan petani jika menjual tembakau ke gudang. Karena mereka bakal mendapat bayaran langsung tanpa harus menunggu dengan risiko tertipu.

Skema macam ini saya rasa perlu dijadikan patokan bagaimana tataniaga tembakau berjalan. Memang, dengan sistem lama yang mengandalkan gaok ada risiko bagi petani dalam tataniaga. Namun dengan sistem yang lebih terbuka seperti di atas, risiko itu setidaknya bisa diminimalisir.

(Visited 1 times, 1 visits today)