Membeli Rokok Ilegal Merugikan Negara, Bro!

rokokilegal
foto: Antara

Kehadiran rokok ilegal di tengah-tengah perokok bukanlah sesuatu yang asing ditemukan. Hampir setiap perokok pasti pernah bersentuhan dengan rokok ilegal, meskipun ia hanya sekedar melihatnya di rak jualan lapak-lapak pedagang. Artinya, angka peredaran rokok ilegal di Indonesia cukup tinggi. Lalu apa masalahnya bagi perokok sebagai konsumen? Bukankah secara harga lebih murah? Cita rasanya pun kadang tak jauh berbeda dengan rokok-rokok bermerek lainnya.

Sekilas memang menggiurkan mengonsumsi rokok ilegal yang memang benar adanya, harga rokok ilegal lebih murah ketimbang rokok bercukai. Soal cita rasanya yang tak jauh berbeda, bahkan hampir menyerupai produk rokok bermerek juga sering dijumpai. Tetapi produk tersebut tetaplah ilegal apapun itu alasannya.

Mari kita mulai dengan mengetahui apa itu rokok ilegal dan penyebab produk rokok tersebut dikategorikan sebagai produk ilegal. Rokok ilegal adalah rokok yang masuk atau dijual di pasaran dengan melanggar peraturan keuangan, bea cukai, dan peraturan lainnya, misalnya tanpa membayar bea masuk, cukai atau PPN, dan tanpa mematuhi ketentuan-ketentuan yang berlaku. Selain itu dapat juga dikatakan ilegal apabila produk dengan merek dagang tertentu tersebut dijual tanpa membayar pajak yang berlaku, atau bisa juga berupa rokok palsu, yaitu tiruan yang dibuat tanpa izin pemilik merek dagang.

Rokok ilegal secara kasat mata juga dapat dilihat, biasanya ia memiliki ciri tidak dilekati pita cukai, atau ada juga yang dilekati pita cukai palsu yang secara kasat mata berbeda dengan pita cukai pada umumnya.

Nah kalau sudah paham apa itu rokok ilegal beserta ciri-cirinya, selanjutnya adalah memahami bahwa perokok yang baik tidak membeli rokok ilegal. Selain melanggar peraturan dan ketentuan hukum yang telah ditetapkan, peredaran rokok ilegal juga merugikan banyak pihak.

Pihak yang mengalami kerugian paling signifikan adalah pemerintah. Menurut WHO, jika peredaran rokok illegal dieliminasi maka pendapatan negara di seluruh dunia mencapai USD 30 Miliar per tahun.

Di Indonesia, IHT menyumbangkan ratusan triliun rupiah kepada pemerintah atau hampir 11% dari keseluruhan penerimaan negara setiap tahunnya. Maraknya peredaran rokok ilegal ini merugikan pemerintah, karena pemerintah tidak mendapatkan pungutan apapun dari perdagangan rokok ilegal.

Kita ambil contoh dari catatan Dirjen Bea Cukai Kemenkeu pada tahun 2016 terdapat penindakan rokok ilegal sebanyak 1.597 kali. Dari hasil penindakan tersebut, kerugian yang harus diterima pemerintah sebesar Rp 217,7 miliar. Itu yang ketahuan loh ya. Kemungkinan besar jumlahnya bisa lebih banyak lagi.

Cukai sebagai pungutan negara yang menurut amanat undang-undang bertujuan mewujudkan kesejahteraan bangsa, justru dengan beredarnya rokok ilegal tanpa cukai malah menjadikan pemerintah tidak mendapat keuntungan apapun dan si pengusaha nakal inilah yang meneguk keuntungan.

Jadi harus diinget-inget tuh kalau kalian mau coba-coba mengonsumsi rokok ilegal sama saja dengan kalian tidak berkontribusi apapun terhadap negara dan hanya memperkaya si pengusaha saja, tentunya juga kalian dapat dikategorikan sebagai pelanggar hukum.

Selain pemerintah, rokok ilegal juga berdampak buruk kepada Industri Hasil Tembakau (IHT). Pabrikan yang taat mengikuti peraturan, ketika melempar produknya ke pasaran untuk dijual, penjualannya akan menurun dengan adanya saingan berupa rokok ilegal. Seperti yang sudah dibahas di atas, rokok ilegal biasanya membanting harga pasaran semurah-murahnya (karena mereka tidak membeli pita cukai dan membayar pajak lainnya kepada pemerintah). Maka konsumen cenderung akan memilih produk yang lebih terjangkau, apalagi cita rasanya tidak jauh berbeda, dan ditambah sedang dalam kondisi daya beli masyarakat yang menurun.

Berdasarkan survei yang dilakukan Universitas Gadjah Mada menunjukkan peningkatan pelanggaran berdasarkan jumlah rokok yang beredar dari tahun ke tahun terus meningkat. Pada 2010 jumlah pelanggaran meningkat 6,19%, 2012 naik 8,04% dan 2014 naik 11,73%.

Atas hasil survei tersebut, kajian UGM menyimpulkan penindakan rokok ilegal pada 2015 memberikan pengaruh positif terhadap produksi rokok legal sebesar 5,3%. Frekuensi penindakan yang optimal berdampak pada peningkatan produksi dan berkontribusi terhadap peningkatan penerimaan.

Terakhir, rokok ilegal merugikan konsumen. Segala sesuatu yang legal mendapatkan pengawasan dari pemerintah serta dibuatkan payung hukumnya. Semuanya dimaksudkan untuk memberikan kepastian hukum terhadap setiap warga negara. Dari sinilah hak-hak konsumen dapat dijamin. Contoh kecil misalnya, rokok yang kita hisap dijamin untuk tidak dicampurkan dengan bahan berbahaya macam nuklir, bahan peledak, atau zat psikotropika, dikarenakan produsen telah mendapatkan izin usaha yang sudah ditinjau oleh pemerintah keamanannya. Kalau rokok ilegal, siapa yang jamin?

Point paling penting yang harus diingat adalah dengan tidak membeli rokok ilegal, maka kita sebagai konsumen telah menjamin keberlangsungan Industri Hasil Tembakau. Industri yang dari hulu ke hilirnya terdapat 6 juta orang yang menggantungkan hidupnya. Dan tentunya turut berkontribusi dalam pembangunan. Yuk ah, stop membeli rokok ilegal!