Lestarilah Tanaman Tembakau dan Cengkeh di Indonesia

kretekindonesia

Tanggal 3 Oktober baru saja terlewati, memberikan kesan bahagia bagi para kretekus di Indonesia. Ketika banyak kelompok lain mengkambinghitamkan kretek atas segala marabahaya yang menimpa tubuh manusia, namun faktanya peredaran kretek tidak lantas hilang dari negara Indonesia. Karena ada serapan dana besar yang masuk ke kas negara, dan masih dibutuhkan banyak pihak. Maka di hari itu, izinkan saya mengucapkan sekalimat ini dengan lantang: Selamat hari kretek bagi para pejuang yang turut melestarikan kretek.

Berbicara tentang kretek tidak akan lengkap rasanya jika tidak membicarakan Haji Djamhari. Sejarah mencatat, beliau inilah yang kali pertama memperkenalkan kretek di Indonesia. Kala itu, di kota Kudus, Djamhari menderita sakit dada (asma) yang berkepanjangan. Kondisi tersebut menyebabkan Haji Djamhari kesulitan untuk bernafas.

Berbagai cara dilakukan Haji Djamhari untuk dapat menyembuhkan penyakitnya. Obat-obatan tradisional telah ia coba, beruntung dari sekian banyak obat-obatan itu minyak cengkeh dapat mengatasi sakit di dadanya. Saat itu, beliau mengambil minyak cengkeh lalu mengoleskan minyak tersebut di dada dan punggung. Rasa sakit di dadanya pun sedikit berkurang.

Kemudian kondisi yang membaik itu dimanfaatkan Haji Djamhari melalui eksperimennya merajang cengkeh hingga halus yang ditaburkan pada tembakau lalu dilinting menjadi rokok. Rutin merokok hasil racikan itu membuat sakit dada Haji Djamhari sembuh. Rokok dari Haji Djamhari inilah yang seringkali kita sebut sebagai kretek, sebutan kretek ini dipakai lantaran ketika diisap rokok yang terbakar akan mengeluarkan bunyi ‘kretek-kretek’.

Siapa yang tidak takjub jika mendengar kisah Haji Djamhari ini. Ketika racikan tembakau dan cengkeh terbukti memberi manfaat kesehatan pada dirinya. Sangat beruntunglah kita dapat tinggal di Indonesia, dimana kekayaan hayatinya begitu komplit dan bermanfaat. Melalui riwayat Haji Djamhari itu secara tidak langsung kita telah diajarkan untuk memanfaatkan anugerah alam Indonesia secara arif. Berkat tanaman cengkeh dan tembakau, sakit dada yang diderita Haji Djamhari sirna.

Seseorang yang kaya-raya sekalipun rasanya akan sulit menemukan formula kesehatan yang telah dirasakan oleh Haji Djamhari. Sang kaya-raya berlomba-lomba untuk dapat menyembuhkan penyakit ke berbagai rumah sakit hingga ke luar negeri untuk mengobati penyakitnya. Sementara itu, rakyat Indonesia cukup memanfaatkan tanaman endemik negerinya dengan baik untuk dapat mengobati penyakit.

Kisah nyata yang dialami oleh Haji Djamhari itu seolah menepis stigma buruk yang diluncurkan kelompok antirokok yang dengan lantang menyatakan rokok memiliki dampak buruk bagi kesehatan, khususnya dalam konteks ini adalah kretek. Atas nama kesehatan, kelompok anti rokok menyebarkan propaganda bahwa rokok dapat menyebabkan kanker paru-paru, bronkitis dan lain sebagainya. Hasil dari propaganda mereka dapat kita lihat pada tiap kemasan bungkus rokok yang beredar di pasaran.

Stigma buruk tentang rokok memang akan terus terjadi di tiap tahunnya. Rokok dijadikan kambing hitam atas semua penyakit yang diderita seluruh rakyat Indonesia. Padahal fatanya tidak semua penyakit disebabkan oleh rokok, aspek berubahnya pola konsumsi tentu pula salah satu indikatornya. Haji Djamhari pula yang telah mengajarkan kita bahwa rokok yang selama ini dikonotasikan buruk ternyata memiliki dampak yang baik untuk kesehatan. Maka dari itu, lestarikanlah tembakau dan cengkeh di Indonesia. Selamat hari kretek. Mari kita budidayakan tanaman tembakau dan cengkeh di negeri tercinta ini.

(Visited 8 times, 3 visits today)