Sebuah Kritik Terhadap Seorang Penuduh

Menuduh buruk seseorang berlandaskan subjektifitas belaka  adalah sebuah kesalahan. Sudah menjadi kebiasaan umum bagi masyarakat kita dalam menilai orang lain atas apa yang ia lihat, apa yang ia kenakan dan apa yang biasa ia konsumsi. Kebiasaan itu sudah lazim dilakukan oleh masyarakat, dan tak sedikit orang yang mendapatkan label ‘baik’ atau ‘buruk’ atas indikator-indikator tersebut.

Hal itu pernah saya alami beberapa bulan lalu. Kejadian itu bermula saat saya menghisap rokok di pojokan kampus tempat dimana beberapa mahasiswa biasa nongkrong sembari menunggu mata kuliah berikutnya. Tujuan saya merokok hanya satu yakni mengusir rasa bosan sembari menunggu mata kuliah berikutnya. Beberapa menit pun berlalu dan tiga batang rokok sudah saya hisap.

Waktu sudah menunjukkan pukul 13.00, saya pun harus bergegas kembali ke kelas untuk mengikuti mata kuliah. Di tengah perjalanan, saya bertegur sapa dengan dosen dan sejenak salim dengannya. Namun alangkah terkejutnya saya ketika mendengar ucapan yang terlontar dari mulut dosen itu. “Tangan Mas, bau asap rokok. Mas, seorang perokok ya?” ia menatap saya sejenak dan menuduh saya, “Mas bukan mahasiswa sini ya. Setau saya anak-anak disini itu baik semua.”

Beberapa mahasiswa seketika memandang saya setelah mendengar ocehan dari dosen tersebut. Entah apa yang ada dalam pikiran mereka. Seketika saya pun segera meninggalkan dosen itu dan bergegas menuju ruang kelas. Sekilas saya melihat dosen itu menatap saya dengan penuh rasa curiga. Niatan baik untuk menyapa dosen berujung buruk, alangkah malunya saya ketika orang-orang menatap saya setelah mendengar ocehannya.

***

Kretekus apa kalian pernah mengalami situasi demikian? Ya, situasi dimana Anda dituduh sebagai seorang yang dikonotasikan buruk hanya karena penampilan sekilas saja seperti bau rokok di tangan. Saya tidak begitu mengerti apakah perkataan yang diucapkan oleh dosen di universitas saya merupakan sindiran ataupun teguran. Lebih tepatnya saya tak mau tahu.

Apa yang telah dituduhkan si dosen tersebut merupakan cerminan dari orang-orang yang berpola pikir pendek. Tuduhan dengan apapun alat penilainya memang sangat menyebalkan. Terlebih isi kepala seseorang yang dengan santainya menuduh orang lain hanya karena satu indikator yaitu rokok. Saya bertanya-tanya, atas dasar apa dosen tersebut menuduh saya bukan mahasiswa hanya karena tangan saya bau rokok.

Tuduhan-tuduhan buruk terhadap perokok memang sudah sering dilontarkan oleh masyarakat kita hingga saat ini. Ada orang yang bilang, merokok itu pintu awal menuju narkoba. Ada pula yang bilang, kalau merokok, Anda adalah seorang penjahat. Belajar dari pengalaman pahit, saya terlanjur geram jikalau bertemu dengan para penuduh itu. Ingin sekali saya katakan, “Apakah saya perlu dipenjara hanya demi menghisap satu batang rokok?”

Masyarakat kita memang seringnya menuduh, menuduh dan menuduh tanpa mau melakukan klarifikasi. Bahkan, ilmu cocoklogi pun diterapkan demi mendukung argumennya. Dan lucunya tuduhan-tuduhan itu laku keras di masyarakat kita. Contohnya ya kasus saya tadi, apa ada indikator seseorang dapat dikatakan mahasiswa dari iya atau tidaknya dia merokok?

Tulisan ini semata-mata saya buat hanya ingin mencurahkan curhatan saja. Semoga saja si dosen dan para penuduh lain memperbaiki tabiatnya dan menilai seseorang tidak hanya dari penampilan luarnya saja.