Bagaimana Media Membahas Rokok dan Perokok

nikitamirzani
photo: tribunnews.com

Masih membekas dalam ingatan saya kejadian pada tahun lalu tatkala media-media arus utama termakan oleh sebuah isu yang disebarkan oleh tautan-tautan penuh kebohongan. Ya penuh kebohongan, atau boleh juga kita sebut hoax. Mengingat isu tersebut dicetuskan oleh berita-berita palsu soal harga rokok naik menjadi Rp 50 ribu, padahal aslinya tidak benar begitu.

Hoax atau kabar palsu itu memang tengah mendarah daging dalam kehidupan masyarakat. Apalagi kabar palsu tersebut kerap dijadikan bahan pemberitaan oleh media arus utama hingga masyarakat yang mengonsumsi hoax itu jadi semakin banyak. Padahal ya media arus utama itu harusnya terlibat dalam pemberantasan hoax, eh ini malah ikut menyuburkannya.

Kebutuhan media, utamanya yang berbasis daring, akan pembaca membuat mereka kerpa membuat judul-judul bombastis agar menarik minat orang untuk melakukan ‘klik’ pada beritanya. Selain itu jika ada sesuatu hal yang sedang booming atau viral, walau sumber beritanya sulit untuk diverifikasi kebenarannya, mereka bakal mengangkat isu tersebut sebagai sajian untuk masyarakat.

Dalam kasus-kasus terkait rokok, amat sering media memframing ‘rokok’ sebagai sesuatu yang jahat. Beberapa waktu lalu, ada cerita dari Malaysia tentang seorang bayi yang katanya sakit akibat rokok, dan itu menjadi booming di Indonesia serta dijadikan bahan berita oleh banyak media. Padahal, cerita tersebut diberitakan hampir tanpa verifikasi. Berbekal sumber dari media sosial, berita yang menyudutkan rokok itu kemudian disambut dengan baik oleh masyarakat yang tidak suka rokok.

Seandainya pun kejadian itu benar dan nyata, media tidak mampu adil melihat persoalan terkait itu. Tidak semua orang tua yang merokok, bahkan hanya sedikit, mau merokok di dekat anaknya. Kalaupun betul ada yang melakukan, itu adalah kesalahan orangtuanya. Mereka tidak mampu menjaga anaknya dari asap rokok orang lain ataupun dirinya. Tapi ya tetap, dengan cerita yang ada media memosisikan semua orang yang merokok sebagai penjahat akan hal ini.

Di Indonesia sendiri, hal serupa pernah terjadi. Memang peristiwa yang ada benar-benar terjadi. Seorang anak bayi, dalam acara di rumah, ada orang-orang merokok, dan kemudian sakit lalu meninggal. Kesalahan ditimpakan pada perokok yang ada. Ya memang yang merokok juga salah karena tidak sadar lingkungan, tapi orang tua juga harusnya lebih tegas dalam melindungi anaknya. Tapi yang terpenting dalam hal ini adalah agar jangan sampai ada korban-korban karena kasus serupa.

Sialnya, media lebih senang mengangkat kasus ini hanya dalam persoalan perokok menyebabkan seorang bayi mati. Bagaimana rokok dianggap sebagai pembunuh tanpa mau melihat persoalan lain yang terjadi. Dan yang terpenting, hal paling pokok agar kejadian serupa tak terjadi tidak banyak dibahas dalam pemberitaan terkait hal tersebut.

Pada kasus yang berbeda, perokok juga rokok kerap dijadikan sebagai pesakitan dalam urusan kriminal. Lihat bagaimana media-media membuat judul berita kriminal seperti: Wanita Mati Dipukuli dan Disundut rokok, Perokok Merampok Toko Waralaba, Demi Beli Rokok Rela Membunuh Tetangga, dan sebagainya.

Bahwa orang yang melakukan tindak kriminal adalah seorang perokok tentu tidak berarti kalau semua perokok melakukan hal serupa. Tindak kriminal dilakukan oleh penjahat, entah itu merokok atau tidak. Tapi media benar-benar melakukan framing yang luar biasa terhadap perokok dalam berita-berita kriminalnya, seakan menyatakan kalau menjadi perokok itu berarti menjadi penjahat. Titik.

Saran saya, kalau memang media benar-benar mau mendiskreditkan perokok, sekalian saja ambil sikap tidak mau menerima iklan dari perusahaan rokok. Jangan cuma menampilkan berita yang menjelekkan perokok, tapi ada iklan pop up besar di laman beritanya yang mempromosikan merek rokok tertentu. Tapi ya susah juga, media cuma butuh duit dan berita yang bombastis sih.

(Visited 89 times, 5 visits today)