BPJS Didanai Perokok, Antirokok Tetep Boleh Pakai Kok

kretekus-ceria

Ibarat kata pepatah, agak-agaknya bakal ada banyak orang yang menjilat ludahnya sendiri. Ya mau gimana lagi, BPJS udah resmi mendapat suntikan dana dari duit haram, duit pembunuh, duit perokok. Kan ya agak malu-malu gimana gitu kalau udah kelewat sering ngejek perokok, eh tetiba sakit dan pakai BPJS. Nggak asik banget dah pokoknya.

Mungkin hal-hal semacam ini yang lagi ada di kepala teman-teman yang benci sama rokok. Rasa gengsi dan takut malu campur aduk dengan rasa waswas kalau nggak bisa pakai BPJS. Apalagi di masa-masa susah kayak sekarang, biaya berobat mahal. Pakai asuransi mahal, ya cuma BPJS yang bisa diandalkan. Tapi ya kalau pakai BPJS, sama aja kayak jilat ludah sendiri. Serba salah deh.

Padahal ya orang-orang yang anti sama rokok itu tidak perlu khawatir. Kita para perokok nggak mungkin melarang kalian BPJS. Lah kita sama-sama rakyat Indonesia, tentu nggak boleh ada diskriminasi terhadap sesama. Tolong lah bedakan kebiasaan kami yang merokok ini dengan kalian. Kami, walau didiskriminasi dan sering dapat stigma negatif dari kalian, tetap saja kami menganggap kalian sebagai saudara sebangsa.

Kan nggak mungkin kami membuat wacana agar antirokok tidak dicover jaminan kesehatannya oleh BPJS. Kami tidak seperti kalian. Karena ya kami sadar, orang-orang yang nggak merokok dan benci rokok seperti kalian ini ya tetap punya risiko kena sakit jantung atau kanker. Dua contoh penyakit yang kerap kalian stigmakan milik perokok itu.

Dulu ya kami para perokok ini dianggap sebagai pihak yang membebani JKN. Katanya, kelewat banyak orang sakit jantung, kanker, atau struk yang dapat jaminan dari BPJS. Katanya sih itu karena mereka yang sakit merokok. Padahal ya tidak juga. Tidak sedikit pula orang yang tidak merokok kena sakit jantung atau kanker.

Kalau sudah begini, ya perokok nggak lagi bisa dibilang membebani BPJS. Toh defisit BPJS teratasi karena ada duit cukai rokok. Coba nggak ada, bingung juga kan itu mau pake duit siapa buat nambalnya. Terserah sih itu uang mau dianggap haram atau tidak.

Ya kita sama-sama tahulah, kalau Majelis Ulama Indonesia udah bilang kalau filter rokok di Indonesia tidak mengandung darah babi. Tapi ya mau gimana lagi, namanya udah benci ya bakal tetep bilang kalau rokok itu haram. Ya meski duitnya nggak dianggap haram sih sama pemerintah.

Beruntunglah kita bahwa perokok di Indonesia ini baik-baik. Mau didiskriminasi kayak gimana juga, perokok tetep kasih sumbangan ke negara. Mau dibilang membebani BPJS, tetap rela duitnya dipakai BPJS. Mau diusulkan biar nggak dijamin BPJS, tetap aja nggak dendam sama yang ngusulin.

(Visited 9 times, 9 visits today)