‘Khasiat Rokok’ dalam Mistisisme

Orang-merokok

Ada satu hal yang mungkin luput dari perhatian kita mengenai rokok.  Kalau kita kerap bertemu dengan orang-orang yang menekuni dunia spiritual (mistisisme), kita tidak akan heran jika kebanyakan dari mereka adalah perokok dan peminum kopi yang kuat, meskipun tentunya tidak semua penempuh jalan spiritual adalah perokok atau membolehkan merokok.

Saya tidak akan menambah perdebatan kontroversi hukum rokok dalam ajaran agama, atau apakah rokok itu sumber penyakit atau bukan, sebab itu perdebatan sudah puluhan tahun dan kagak kelar-kelar. Jadi silahkan mau ambil pendapat yang mana. Saya cuma ingin menceritakan pengalaman berbicara dengan pelaku spiritual yang merokok. Karena ini hanya obrolan ngalor-ngidul di kala begadang sambil ngopi bersama para perokok yang mengaku menempuh jalan spiritual, maka anda boleh percaya boleh tidak, sebab memang tidak ada kewajiban untuk percaya atau tidak percaya. “Urusan percaya atau tidak percaya soal beginian, ora dadi pitakon kubur,” kata seorang teman saya.

Pernah saya iseng bertanya kepada seorang tua yang memiliki kedalaman pengetahuan agama, tentang mengapa ia merokok. Ia memulai penjelasannya dengan menyebut salah satu pendapat hukum rokok yang dia ambil: makruh, artinya dilakukan tidak apa-apa (tidak berpahala), dan jika ditinggalkan adalah lebih baik (atau berpahala). Status hukum makruh ini ada peran tersendiri untuk keseimbangan dalam perjalanan ruhaninya, katanya.

Dalam mistisisme, khususnya Islam, ada konsep tentang jadzab (orang jawa bilangnya, njadhab, mabuk spiritual, mabuk ilahiah) yang menyebabkan seseorang tenggelam dalam keagungan dan kekuatan ilahi sehingga ia seperti tidak sadar atau lepas kesadaran insaniyahnya. Contoh kasus ekstrem adalah Mansur al-Hallaj, yang dihukum mati karena mabuk Tuhan dengan mengucapkan ana al-Haqq.

Orang yang menempuh jalan spiritual (mistisisme)pasti tahu bahwa tidak jarang kata-kata sang guru memuat daya ruhani yang amat besar. Dalam kisah-kisah sufi misalnya, sering kita baca ada orang pingsan atau ikutan njadhab karena mendengar ucapan guru mistis yang njadhab. Atau seorang sufi pingsan atau njadhab mendengar ayat suci dibacakan.

Namun seseorang yang ditakdirkan menjadi guru, walau punya cenderung njadhab, dia punya kewajiban mengajar sehingga ia tidak boleh njadhab saat mengajar, sebab bisa mbundhet urusan dunia akhirat dirinya dan murid-muridnya. Karenanya diperlukan semacam “tirai” yang menahan agar kekuatan ilahiah tidak menguasainya secara penuh. Tirai itu muncul dari barang yang makruh, atau barang yang halal dan berkaitan dengan jasad manusia, yang mengurangi kekuatan ruhani jika dimasukkan ke tubuh sekaligus menjaga kesadaran manusiawinya.  Tetapi tidak boleh barang haram karena jika dimasukkan ke tubuh, akan melenyapkan kekuatan ruhani itu.

Kalau sang guru njadhab saat mengajar, ia berisiko membocorkan rahasia Tuhan yang tidak boleh dibuka sembarangan. Dia harus tetap sadar selama mengajar agar unsur kemanusiaan dan daya kognitif  yang berkaitan dengan relasi antar manusia (adab, etika, akhlak, ucapan, hukum)  tidak lepas dari dirinya. Tetapi tentu akan repot jika untuk menjaga kesadaran ini guru harus menyiapkan bergelas-gelas minuman – sebab ia bisa blendhingen (perut kembung sampai bersuara krucuk-krucuk karena kebanyakan air, bisa menyebabkan beser). Maka solusi paling efektif adalah dengan merokok, untuk menciptakan hijab (tirai spiritual) yang mengurangi besarnya daya ilahiah yang masuk ke dalam dirinya

Jadinya, ringkasnya, pertama, merokok paling tidak bisa menjaga kesadaran manusia sang guru, agar ia bisa berfungsi normal sebagai manusia dalam kapasitasnya sebagai pendidik dan pembimbing sehingga pengajarannya bermanfaat secara pedagogis; dan kedua, dengan merokok yang makruh, atau minum air yang halal (air putih, teh atau kopi, misalnya) seorang guru spiritual bisa mempertahankan unsur kemanusiaannya sehingga di kala mengajar  dia tidak njadhab, sehingga sang guru sekaligus melindungi muridnya agar tidak terpapar oleh rahasia ilahi yang belum waktunya dia terima.

Namun tentu tidak semua guru spiritual butuh rokok. Itu tergantung pada kekuatan dan pendapat hukum yang mereka anut – karena itulah ada banyak variasi dalam pengajaran spiritual yang tidak bisa disalah-salahkan begitu saja karena masing-masing ada alasan tersendiri yang diketahui oleh para penempuh jalan mistis.

Sedangkan bagi murid, rokok bermanfaat untuk menenangkan pikiran dan mental. Sebagaimana para penulis/sastrawan yang merokok, terkadang salik (penempuh jalan ruhani) akan mendapatkan limpahan inspirasi atau ilham ruhani yang menekan pikiran dan jiwanya karena ilham itu bersifat mengguncangkan kesadaran ilusifnya tentang sesuatu yang dulu dia yakini. Unsur penenang dalam tembakau membantu meredakan ketegangan syaraf sehingga salik tetap awas dan tenang, tidak terjerembab dalam stres yang tinggi. Ketenangan ini pula yang menyebabkan ilham itu bisa merasuk dan bermanfaat secara ruhani, sebagaimana ketenangan penulis yang mendapat ilham bagus untuk dituangkan dalam bentuk karya sastra.

Saya punya teman yang bukan perokok namun punya gejala darah tinggi. Setelah menempuh jalan ruhani, ia mengalami peningkatan level darah tingginya karena ia harus bermujahadah membersihkan dirinya.  Yang namanya mujahadah itu tidak selalu nyaman, kadang menyakitkan secara psikologis karena harus berusaha keras menghancurkan ilusi-ilusi tebal yang menutup dirinya yang sejati. Itu bisa menyebabkan ketegangan mental dan membuka celah-celah yang bisa dimasuki bisikan dan tipu daya setan. (Karena itu ada adagium yang masyhur di kalangan penempuh mistisisme bahwa dalam perjalanan ruhani yang benar, seseorang harus punya guru yang benar dan berpengalaman, karena begitu  manusia bertekad melangkah memperbaiki dirinya, maka iblis dan bala tentaranya tidak akan tinggal diam; iblis mengerahkan lebih banyak tentara untuk menjegal  sebab iblis telah bersumpah di hadapan Tuhan untuk menjalankan misi tersebut.)

Oleh gurunya, dan oleh seorang tabib tradisional yang juga penempuh jalan mistisisme, teman saya disarankan merokok saja.  Dan sampai sekarang dia merokok, memilih rokok kretek tembakau yang juga mengandung cengkeh dan rempah-rempah lain yang ada khasiatnya tersendiri. Dan kini ia jadi lebih rileks, darah tingginya banyak berkurang. Jika ditanya mengapa malah merokok, kan tidak sehat untuk organ lain? Dia hanya berujar pendek  dan enggan berdebat. Kira-kira begini alasannya:  “Yah soal sehat-sehatan itu debat lama. Intinya saya gini saja. Namanya hidup itu ada dua sisi. Di dalam yang baik ada yang buruk dan sebaliknya. Gula itu bagus tapi juga buruk. Sakit atau mati itu ya bukan dari barang dunia. Barang dunia cuma sarana. Yang memberi sakit dan mematikan kan cuma Tuhan. Tapi kita kan hidup dalam dunia sebab-akibat. Kalo sampean mati karena ketabrak mobil atau karena sakit gula, ya itu cuma sebab, buat pantes-pantes aja. Masak modar ndak ada sebabnya, tahu-tahu thek sek. Nanti pada gempar.”

Bagi yang “ditakdirkan” butuh sarana penjaga kesadaran, merokok adalah salah satu pilihan. Dan perilaku orang-orang spiritual yang merokok terkadang unik. Ada kisah menarik tentang seorang kyai perokok kretek kelas berat (sudah almarhum, meninggal di usia lebih dari 70 tahun) yang masyhur kealimannya. Suatu hari beliau sakit dan pergi ke dokter. Oleh dokter, beliau disarankan berhenti merokok. Sang kyai malah mengomeli dokternya, kira-kira seperti ini: “Loh sampean ini tugasnya menyembuhkan saya agar enak merokok lagi, lha kok malah disuruh berhenti.”

Akhirul kalam, boleh percaya boleh tidak. Ora dadi pitakon kubur.

Wa Allahu a’lam bimuradihi.

 

 

 

 

(Visited 51 times, 51 visits today)