Kretek adalah Salah Satu Bukti Kemandirian Bangsa

buruh-linting

Kretek yang oleh masyarakat umum dikenal sebagai rokok. Sebetulnya adalah salah satu simbol untuk kita mengenal lebih dekat tentang Indonesia dan kemajemukannya. Perlu diketahui, pada sebatang kretek bukan hanya terdiri dari satu-dua jenis tembakau. Di situlah majemuknya. Ada kategori tembakau nasi, tembakau sayur, dan tembakau lauk. Itu makanya pada industri kretek dikenal istilah “satu piring nasi rames”.

Yang biasa jadi nasi adalah tembakau virginia dari Bojonegoro, tembakau Madura sebagai sayur, sementara tembakau Temanggung adalah lauk. Dalam piramida pertembakauan, tembakau lauk berada pada posisi puncak piramida. Lantaran harganya yang terbilang lebih tinggi dari tembakau nasi dan sayur. Pada sebatang kretek bukan hanya ragam komposisi tembakau saja di dalamnya. Terdapat pula unsur cengkeh serta rempah lainnya.

Semua komponen kretek tersedia di dalam negeri. Dari hulu-sampai hilir. Banyak pekerja yang terserap di sektor ini. Konsumennya di dalam negeri sendiri terhitung besar jumlahnya dibanding negara-negara penghasil tembakau lainnya. Kita mungkin selama ini melihat kretek hanya sebatas rokok. Namun sesungguhnya kretek merupakan bukti dari kedaulatan dan kemandirian ekonomi bangsa ini. Bandingkan saja dengan negara lain yang punya komoditas serupa, hampir tidak ada yang setangguh dan semandiri komoditas strategis ini.

Ketika isu kesehatan masuk dan demikian masif mengusik nalar kearifan bangsa kita. Kretek kerap diposisikan layaknya barang berbahaya, bahkan asapnya digambarkan rezim kesehatan lebih menakutkan dari asap kendaraan bermotor. Padahal, jauh sebelum republik ini berdiri, industri kretek telah membuktikan, bahwa kretek merupakan satu dari kearifan lokal kita dan layak ditetapkan sebagai Intangible Cultural Heritage (warisan budaya takbenda) oleh Unesco, warisan dunia yang patut dilestarikan keberadaannya. Layaknya kerajinan Maracu dari Aceh, Calong dari Sulawesi, Soto Betawi, Bakpia Jogja, Sopi Maluku, dan banyak lagi lainnya.

Mestinya karena keunikan jenis tembakau srintil dari lereng Sindoro-Sumbing dan juga cengkeh Maluku, iya paling tidak tanaman endemik ini layak bersetara dengan tanaman Banondit dari Papua, yang dikenal memiliki khasiat khusus, ada nilai manfaat yang diakui secara turun temurun. Namun rezim kesehatan tidaklah melihat apa yang bernilai dari dua tanaman endemik Indonesia yang menjadi bahan baku kretek (tembakau dan cengkeh) ini. Melulu yang dilihat adalah ketika itu menjadi sesuatu yang dikonsumsi sebagai rokok. Dan selalu dicap berbahaya bagi kesehatan.

Hal itulah yang mesti kita cermati, bahwasanya ada satu ketimpangan atau sebut saja sesat pikir yang berimplikasi diskriminatif. Di belahan dunia lain, misalnya pada masyarakat adat yang hidup di pegunungan Andes. Ada satu suku asli, yaitu suku Wachiperi yang masih melestarikan teknik pengobatan menggunakan tembakau, daun tembakau sendiri oleh masayrakat adat sana disebut sebagai daun Santa Maria.

Kretek. Sekali lagi bukan melulu sebatang rokok yang kita ketahui selama ini. Seiring zaman, ia pun beradaptasi menyelaraskan selera pasar. Maka muncul jenis kretek filter (regular) dan kretek mild, bahkan belakangan muncul satu kategori baru, yaitu kategori “bold”. Sayangnya, sedikit dari kita yang memahami, bahwa bicara soal kretek adalah bicara soal kemandirian (ekososbud) bangsa Indonesia. Terbukti triliunan rupiah dari cukai mampu mengatasi persoalan APBN, bahkan defisit BPJS. Dari sisi itu tidak perlu lagi ada ketergantungan kita terhadap pinjaman asing, yang ujungnya bakal menyengsarakan rakyat juga.

 

(Visited 1 times, 1 visits today)