Menjadi Perokok sang Penyelamat BPJS

perokok-asik

Siapa bilang perokok itu merugikan negara? Bah, enak saja. Asal kalian tahu, setiap tahun kami para perokok yang jahat ini selalu menyetor duit ke negara hingga ratusan triliun. Tahun lalu jumlahnya 136,5 triliun, cuma untuk pungutan cukai. Belum yang lain-lain.

Ah iya, kalian para pembenci rokok mungkin tidak tahu kalau dalam setiap batang rokok yang kami hisap terdapat tiga pungutan. Bukan satu atau dua, bung. Tapi tiga, tiga pungutan. Lah kalian semua ini baru diajak bayar pajak saja sudah cemberut, perokok itu selalu menjadi pahlawan hari ini dengan taat membayar pungutan itu pada negara.

Sekadar info buat kalian yang nggak paham aturan, selain cukai ada dua pungutan lain yang didapat negara dari sebatang rokok. Pertama adalah Pajak Pertambahan Nilai, lalu kemudian ada Pajak dan Retribusi Daerah. Berdasar hitung-hitungan Komunitas Kretek, negara mendapatkan duit sebanyak Rp169,3 triliun hanya dari tiga pungutan tadi. Itu pun belum ditambah pajak industri yang bisa mencapai Rp125 triliun.

Kalau ditotal, penerimaan negara dari sektor rokok hampir Rp300 triliun, bos. Duit segitu banyak dipakai makan Indomie goreng dobel telur 4 biji setahun penuh pun nggak bakal abis. Angka yang luar biasa bukan.

Sementara berapa sih bebanan yang kalian keluarkan buat negara. Diajak ngurus SPT malas. Makan masih pada di warteg yang nggak kena pajak. Sekalinya bayar pajak, cuma pajak jadian dengan harapan hubungan langgeng. Eh abis itu malah putus. Nasib kalian, bos.

Ya meskipun kami para perokok ini nasibnya tidak lebih baik dari kelompok minoritas yang melulu dipersekusi, tapi cinta kami pada negara tidak pernah luntur. Buktinya, dipaksa tidak merokok kami tetap merokok. Disuruh jangan beli rokok, kami tetap beli. Sudah beli susah cari tempat buat merokok, ah ya kami cari ruang merokok. Gitu aja kok repot.

Memang, orang-orang selalu bilang kami mengeluarkan uang hanya untuk dibakar. Sama saja sebenarnya, seperti orang-orang yang beli makanan hanya untuk dijadikan feses. Oke, oke. Dengan makan orang bisa memiliki tenaga, dan sama saja sebenarnya dengan kami merokok lalu dapat semangat bekerja untuk menghasilkan uang buat para pemilik modal. Hidup panjang para budak korporat.

Baiklah, kalau memang dikata kami cuma buang-buang uang saat membeli rokok. Baiklah. Yang penting kami buang-buang uang itu untuk sumbangan ke negara, ke pemerintah. Agar pakde Jokowi bisa kerja-kerja-kerja dan bangun-bangun-bangun itu dia punya program. Yang penting ya kami buang-buang duit demi bantu program negara.

Sebagai contoh, kami siap sekali membantu BPJS yang kekurangan duit dengan dana cukai rokok. Silakan saja apabila memang ibu Menkeu ingin mengalokasikan duit cukai buat BPJS, toh lembaga ini harus punya duit banyak agar mampu menjamin kesehatan rakyat. Nah kalau emang negara dan BPJS nggak punya uang ya, pakai saja duit kami para perokok.

Bayangkan, bosque. Berapa banyak program yang bisa dijalankan dari duit perokok? Timbang 10 triliun defisit mah nggak ada 10% duit cukai. Jika memang itu bisa menyelamatkan hidup BPJS, kami rela duitnya dialokasikan ke sana.

Ya simpel aja sih sebenarnya. Kalau negara nggak punya duit, BPJS nggak punya duit, ya tinggal bilang aja kalau mau pakai duit cukai. Nggak perlu malu-malu. Toh kami sebagai perokok sudah biasa membaktikan diri ini untuk negara. Jangan ragukan loyalitas kami.

Buat yang antirokok juga biasa aja, nggak usah malu-malu. Kalau kalian sakit dan butuh bantuan BPJS, ya santai aja. Kami nggak bakal bilang: “BPJS pakai duit cukai, yang nggak merokok nggak usah pakai BPJS” kok. Santai aja. Kami nggak dendam sama kalian yang minta perokok nggak dilindungi BPJS. Kami nggak sejahat kalian, hehehe.

 

 

(Visited 23 times, 23 visits today)