Cerita Sebatang Cerutu

petani tembakau temanggung
petani tembakau temanggung

Cerutu dan Kuba adalah senyawa yang sulit terpisahkan. Bagi masyarakat Kuba, cerutu bukan saja menjadi simbol kemasyahuran negara, tapi sekaligus simbol perlawanan mereka terhadap kesombongan negara kapitalis. Seperti dilukiskan oleh Bernard Mangiante di film Les gens du Havane, di Kuba walaupun krisis ekonomi sekalipun, masyarakatnya terus memproduksi cerutu. Di sana, cerutu bahkan sudah menjadi budaya, dan melekat seperti sendok pada piring, kursi pada meja.

Kalau kemudian cerutu juga menjadi simbol perlawan Kuba terhadap Amerika Serikat, itu pun bukan tanpa sebab. Konon saat berlangsung krisis Teluk Babi pada awal 1960-an, Presiden John F. Kennedy sempat bimbang memutuskan jadi-tidaknya embargo terhadap Kuba. Kennedy penggemar favorit cerutu Kuba merek Petit Upmann, dan kalau embargo dilakukan, itu berarti bisa menyetop pasokan cerutu untuknya.

Sebelum embargo terhadap Kuba benar-benar dilakukan, Kennedy karena itu terlebih dulu memerintahkan sekretaris pribadinya, Pierre Salinger untuk mengamankan ribuan batang persediaan cerutunya. Sesudah itu barulah dia meneken keputusan untuk mengucilkan Kuba. Untung perang terbuka tidak terjadi, tapi keputusan Kennedy itu membuat sebagian saudagar cerutu Kuba melarikan diri ke negara-negara sekitarnya.

Mereka membawa serta bibit tembakau Kuba. Pabrik-pabrik cerutu di Dominika, Honduras, dan beberapa negara Amerika Latin lainnya, lantas terlihat tumbuh. Bangkrutkah  industri cerutu Kuba?

Ternyata tidak. Sebaliknya, orang-orang Amerika dan Eropa malah terus mencari cerutu Kuba yang justru semakin mahal harganya. Bibit tembakau Kuba memang banyak dibawa lari oleh tuan-tuan tanah yang minggat, kualitas tembakau Kuba asli yang dipetik dari perkebunan Vuelta Abajo, Semi Fuelta, Partidos, Remidios, dan Oriente tetap tak terkalahkan. Ia adalah bahan utama cerutu Kuba yang terkenal itu.

Benar, cerita tentang cerutu tak bisa dilepaskan dari tembakau. Lalu kapan tembakau disulap dan dikenal sebagai cerutu?

Meski samar-samar, banyak yang yakin, kegiatan masyarakat di Quelta Abajo, Kuba, pada abad 18 yang membuat ”rokok” dari daun tembakau yang digulung untuk dijadikan “barang dagangan yang paling dicari” menjadi cikal bakal dikenalnya nama cerutu. Kegiatan ini dilanjutkan  para petani tembakau di Connecticut, Amerika yang lalu mencoba  mengembangkan varietas tembakau Kuba untuk dibuat  rokok cerutu  di Harford meski tidak berlangsung lama.

Sampai tahun 1880, hanya  beberapa negara bagian yang memproduksi cerutu. Di Amerika, misalnya ada di  Montana dan Idaho. Pasar utamanya adalah kawasan Karibia, terutama Kuba. Saat itu berlangsung perang saudara dan cerutu telah populer dan dikenal dengan  sebutan “golden age of the cigar in the United State” atau masa keemasan cerutu Amerika.

Ini dibuktikan dengan nilai konsumsi tahunan  cerutu di  Amerika pada saat itu yang mencapai US$4 miliar. Itu juga yang lalu mendorong permintaan besar-besaran terhadap tembakau yang mencapai nilai  total 266.678 ton pada 1913. Pada 1920 peringkat cerutu yang terjual mencapai US$7 miliar.

Besuki dan Deli

Di Indonesia, cerutu juga dikenal. Bahkan tembakau Indonesia terutama dari Deli (Sumatra Utara) dan eks karesidenan Besuki (Jawa Timur), tidak kalah bagus jika dibuat menjadi cerutu. Tembakau dari dua tempat itu yang dibawa pedagang-pedagang Belanda, sudah sejak 130 tahun silam dikenal orang-orang Eropa karena warna dan aromanya.

Barangkali itu sebabnya, para juragan hecho en Cuba alias cerutu Kuba, juga mengibaratkan Deli dan Besuki sebagai la tierra prometadora, sebuah tanah yang menjanjikan karena tembakaunya merupakan salah satu bahan baku cerutu terbaik dunia.

Hingga sekarang, tembakau Deli dan Besuki memiliki pangsa pasar sampai 44% di industri cerutu dunia dan menjadi kiblat tembakau cerutu dunia. Di  Bremen, Jerman, salah satu pusat lelang tembakau dunia, di antara berbagai jenis cerutu yang terpajang di etalase-etalase mewah toko cerutu, bisa dipastikan terdapat kemasan cerutu yang berlabel cerutu Sumatra atau Jawa, meski bukan buatan Indonesia.

Produsen cerutu di Indonesia juga didapati di Indonesia. Kawasan berikut perkebunan tembakau di Jelbuk, Jember, milik PT Perkebunan Nusantara X adalah salah satunya. Pabrik ini merupakan produsen cerutu tertua yang masih bertahan sampai sekarang.

Cikal-bakalnya adalah perkebunan tembakau milik pengusaha Belanda bernama George Bernie yang  mendapatkan hak guna usaha di Jenggawah, Jember. Bernie menanam tembakau jenis BNO alias Besuki Na Oogst yang di kemudian hari, diketahui berkualitas tinggi.

Di sini, setiap tahun diproduksi tak kurang dari 1-1,5 juta batang cerutu yang dijual ke Amerika Serikat, berdasarkan pesanan. Juga bobbin (potongan daun  tembakau  untuk pembalut cerutu). Jika menjumpai cerutu cap Bali Djanger, Bali Legong, dan Bali Kecak, pastilah cerutu-cerutu itu buatan  pabrik dari Jember.

Produsen cerutu lokal lain adalah Perusahaan Daerah Taru Martani di Yogyakarta. Sebelum pendudukan Jepang, pabrik ini tadinya milik Habrachen, seorang amtenar Belanda. Pada masa pendudukan Jepang, namanya diganti  menjadi Jawa Tobaco Kojo dengan cerutu cap Momo Taro. Taru Martani yang berarti daun yang menghidupi, merupakan nama pemberian Sultan Hamengku Buwono IX, setelah kemerdekaan  Indonesia.

Di awal kemerdekaan, cerutu buatan Taru Martani dikenal dengan cap Daulat. Belakangan, mereknya diganti dan mulai meniru-niru bahasa Sapnyol. Lahirlah cerutu merek Senator, Mundi Victor, Elcomercia, dan Cigarillos. Selain ke Belanda,  ekspor Taru Martani yang kebanyakan berbentuk cerutu tanpa merek, kini melebar ke Belgia, Jerman, dan Amerika Serikat.

Kalau akhirnya cerutu kurang berkembang di Indonesia, penyebabnya mungkin karena masyarakat di sini lebih menyukai rokok kretek yang ukurannya lebih kecil. Sama dengan cerutu Kuba yang menjadi simbol budaya dan perlawanan, kretek di Indonesia juga menjadi simbol budaya, karena hanya diproduksi di sini, di Indonesia.