Hikayat Seorang Pekerja Tembakau Bugis

petani tembakau temanggung
petani tembakau temanggung

La Heddang (60) memandangi rumah panggungnya di desa Soga, Soppeng. Sapuan warna hijau dinding rumahnya sejenak smenyejukkan matanya. Ia sedang dipenuhi khawatir karena sekian hari ini ia tak memproduksi Rokok Bugis.

Biasanya, dalam sebulan di kolong rumah panggung ini, ia mengolah tembakau kering, meracik saus gula merah, mencampur adonan saus ke rajangan daun tembakau, memasukkannya ke dalam timpo atau bambu dan membakar campuran tersebut dalam oven khusus. Kali ini, ia tak memiliki cukup uang membiayai ongkos produksinya. Khawatir pelanggan-pelanggan setianya tak memeroleh pasokan ico—Rokok Bugis—darinya, ia pun memilih keluar desa.

Sudah bulat niatnya. Ia akan ke Makassar menemui Haji Saide, seorang pengusaha Rokok Bugis ternama dari Soppeng yang nyaris tak dikenal lagi oleh generasi muda sekarang. Heddang ingin bekerja beberapa minggu atau bulan di pabrik tembakaunya di jalan Tinumbu, Makassar. Bagi Heddang, tak ada pilihan lain selain bekerja. Kini amat sulit mencari pinjaman uang kepada pihak lain. Awal Mei 2011 lalu, ia datang ke kantor desa dan memohon sedikit modal dari kas desa. Tapi, sayang sekali, kepala desa Soga belum bisa memenuhinya. Ia lalu pulang dengan tangan hampa.

Heddang menyalami istrinya. Sebuah keberangkatan yang sunyi.

Jalan dusun Tonronge yang ia telusuri sudah jauh berbeda. Empat dekade lalu, desanya marak tanaman tembakau. Orang-orang desa menanam, merawat, memetik, merajang dan menjemur tembakau Bugis. Anak-anak hingga orang tua menjadi bagian dari budaya tembakau dan hidup dari perputaran ekonomi tembakau. Kini mereka adalah petani kakao dan hidup dalam budaya kakao. Salah satu perbedaan mencolok adalah tiadanya budaya situlung-tulung antar keluarga dan rumah tangga di desa ini. Jelas, budaya kakao adalah individualis dan budaya tembakau adalah komunal. Kakao itu komoditas ekspor sementara tembakau Bugis itu komoditas lokal bangsa.

Ingatan Heddang bergerak maju ke masa lalu. Masa 30 tahun lampau di dusun ini.

Heddang, sebagaimana umumnya orang Soga saat itu juga menanam tembakau. Ia membeli bibit kemudian menanamnya di lahan khusus yang telah digemburkan bersama-sama dengan kawan-kawan petaninya. Dengan lahan seluas satu hektar, mereka menanam 10.000 bibit selama dua – tiga hari. Lalu, mereka menutupi tanaman itu dengan berlembar-lembar daun enau selama 14 hari. Guna menghindari hama kalanrei yang dibawa oleh semut ia akan menyemprot tanaman itu dengan pestisida. Harga perbotolnya adalah Rp. 2.500 rupiah dan setidaknya butuh 4 botol untuk persekali semprot.

Setelah tumbuh pucuk daun kedua, ia akan memotong (iceleppiri) daun pertama dan membiarkan daun kedua melebar. Demikian pula pucuk-pucuk baru di dekat daun ia akan memotongnya hingga akhirnya terdapat delapan lembar daun dalam satu tanaman yang dijaga pertumbuhannya. Jika tanamannya sudah mencapai ketinggian 75 sampai 100 cm, ia menyemprotnya lagi setiap minggu selama dua bulan hingga daun tembakau siap petik.

Dalam pemetikan daun, istrinyalah dan ibu-ibu lain tetangganya yang memetik daun tembakau. Mereka lalu akan menyimpannya selama 4 hari untuk kemudian merajangnya, menjemurnya, dan menggulungnya. Setelah itu, lahan akan ditanami tanaman sela, umumnya jagung sebagai makanan pokok petani atau membiarkan lahan istirahat tanpa penanaman.

Keseluruhan pekerjaan itu dilakukan secara bersama-sama. Mereka menyebutnya situlung-tulung. Yang bertugasmerajang daun tembakau (makkire’ ico) dengan menggunakan pisau khusus dan kattang (tempat perajangan setumpukan daun tembakau) adalah lelaki dewasa. Sementara yang menebar rajangan tembakau (ma’tale’ ico)di alas penjemuran (tabba atau jamba’) berukuran 80 cm kali 120 cm adalah kaum perempuan. Setelah rajangan tembakau siap dijemur, segera anak-anak mereka akan meraihnya dan membawanya ke luar kemudian menjemurnya di sepanjang jalan di depan rumah mereka.

Setelah dua hari terpanggang matahari, rajangan tembakau tadi akan kering dan anak-anak atau kalangan remaja akan menggulung daun-daun tembakau ini dari kedua sisi. Gulungan dari sisi kiri dan kanan bertemu tepat di bagian tengah gulungan. Gulungan ico dari setiap ta’ba’ akan ditumpuk (epesilonjo) hingga beberapa tumpukan. Inilah akhir kerja petani dan pekerja daun tembakau. Setelah itu, para pekerja H. Palerei akan datang membeli seluruh gulungan tembakau itu dan memrosesnya menjadi Rokok Bugis.

Angan Heddang berhenti saat di kejauhan sana sebuah angkutan desa mendekat. Ia menghentikan mobil itu, lalu naik menuju Takkalalla di mana dia akan menaiki angkutan umum antar kabupaten, panther. Di sepanjang jalan ia lewati kini, hanya sebarisan pohon kakao berusia tua ia lihat. Dari dusun satu ke dusun lain, dari desa satu ke desa lain. Tak satupun tanaman tembakau serupa yang diangankan tadi ia lihat.

Tapi angannya belum tuntas. Sekali lagi ia bergerak maju ke masa silam. Di masa ketika ekonomi tembakau mengubah budaya hidup mereka. Sebuah budaya tanam baru yang perlahan-lahan membuat beberapa jenis burung tak betah lagi tinggal di desa mereka. Ia masih ingat, dua jenis burung yang mudah ditemui saat itu, yakni kakak tua (cakkelle)dan burung putih (putteng). Keduanya memakan jagung dan kacang hijau. Kini tanah milik tembakau, dan rantai makanan kedua burung inipun terputus dan mereka akhirnya pergi meninggalkan penduduk yang terbuai dengan idola baru, tembakau.

Di desa Soga, Haji Palerei adalah pemasok Rokok Bugis bagi perokok di wilayah Timur dan Tenggara Sulawesi. Kepadanyalah Heddang muda belajar membuat Rokok Bugis dan membantu proses distribusi rokok ini ke Kolaka, Kendari, Buton dan Raha. Demikian pula para petani tembakau yang kemudian menjadi pemasok utama daun ico kepada H. Palerei.

H. Palerei memproduksi seratus timpo Rokok Bugis dalam sehari dengan jumlah pegawai mencapai 20 orang. Satu timpo berisi sekira 20 gulungan Tembakau kering. Dari setiap gulungan tembakau itu, seorang perokok tembakau dapat melinting hingga seratus batang. H. Palerei adalah pedagang inovatif. Konon kabarnya, dialah yang memulai mencampur ico atau Tembakau Buxgis dengan saus gula merah—yang saat itu masih diproduksi oleh banyak pembuat gula dari pohon aren—dan membakarnya di dalam bambu (timpo)yang dibuat di Wanua (kampung) Soga pada era 1970an. Sebelumnya, Tembakau Bugis, hanyalah gulungan tembakau kering.

Rute pengangkutan Rokok Bugis dari Soga ke Sulawesi bagian Tenggara menggunakan kuda patteke keKoppe, lalu dengan mobil ke pelabuhan Bajao, menyeberang dengan perahu Lambo ke Kolaka dan mengarah ke Kendari dengan truk, kemudian menyeberang lagi dengan perahu Lambo ke pulau Muna, dan akhirnya sampai ke Bau-Bau di pulau Buton. Ketika komoditas tembakau mengalami kemunduran dan saat tidak semua orang Soga punya lahan cukup untuk menanam kakao, mereka pun merantau keTenggara dengan membuka lahan baru. Sebagian mereka kini hidup berkeluarga di Kolaka.

H. Palerei (80), kini menetap di Kabupaten Kolaka. Sebagai pedagang Rokok Bugis [kini kakao] yang sukses ia memiliki banyak alat produksi seperti truk, mobil Toyota Pick-Up dan lahan yang luas di beberapa tempat seperti Wanua Soga maupun di desa-desa di Kolaka. Kini, sejak tanaman tembakau memudar di pertengahan 1980an, tak ada satupun petani Soga menanam tembakau, mereka kini menanam kakao sebagai sumber pendapatan ekonomi baru. Tapi Heddang tetap di garis masa lalunya. Saat H. Palerei mengalihkan usahanya ke bisnis kakao, Heddang justru melanjutkan usaha Rokok Bugis desa Soga. Di desa lain, seperti Cabbeng[e], masih banyak petani menanam tembakau. Ia tak khawatir dengan pasokan daun ico’.

Heddang sudah di atas Panther menuju Makassar, empat atau lima jam ke depan ia akan menemui H. Saide dan menyampaikan maksudnya.

H. Saide bisa disebut seorang legenda. Di usianya yang kesembilan puluh, ia masih memproduksi Rokok Bugis ‘Adidie’ dengan menggunakan tembakau Cabbeng asli. Ia lahir di desa Cabbeng, kabupaten Soppeng, Sulawesi Selatan. Masa Jaya usahanya pada 1970 sampai awal 1990 menjadikannya salah seorang dari sedikit orang terkaya di Sulawesi Selatan. Rokok Bugisnya adalah rokok beraroma keras (sarru’, mks)yang paling diminati oleh para perokok Sulawesi hingga Papua pada dua sampai tiga dekade lalu.

Berdasarkan cerita H. Muhammad Nur—asisten setia H. Saide, Perusahaan Rokok Adidie berdiri sejak tahun 1962 di Kota Makassar. Pendirinya adalah H. Saide. Saat itu, ia masih muda dan memilih meninggalkan desa Cabbeng, tanah kelahirannya yang sedang diduduki Laskar DI/TII. Sebagian besar penduduk mengungsi ke kota yang berada di bawah kendali militer Siliwangi dan sedang bertugas menumpas pembangkangan politik Qahhar Mudzakkar. Saide sendiri memilih mengungsi ke Makassar pada tahun 1955 dan beberapa tahun kemudian mengembangkan usaha Rokok Bugis yang pasokan tembakaunya berasal dari desa-desa di kabupaten Soppeng, khususnya Cabbeng.

H. Saide adalah putra ketiga dari pasangan H. Bocing dengan I Cue’. Saudaranya berjumlah 6 orang dan hanya ia yang menggeluti usaha tembakau. Ia menikah dengan Hj. Sitti dan dikaruniai sembilan putra dan seorang putri. Setelah perjuangan DI/TII memudar dengan tewasnya Qahhar Mudzakkar di Sungai Lasolo, Kolaka, keadaan kampung-kampung di Sulawesi Selatan mulai membaik. Banyak pengungsi kembali ke desanya dan menanam tembakau. Memasuki tahun 1965, saat kondisi keamanan semakin kondusif di desa, usaha H. Saide mulai bertumbuh. Pertumbuhan usaha ini semakin stabil hingga tahun 1980an.

Secara material, kekayaan H. Saide dari hasil usaha tembakaunya terlihat jelas. Ia memiliki beberapa rumah besar baik di kampung halaman, di Makassar, maupun di Jakarta. Ia juga membeli sejumlah mobil mewah di masanya semisal Jeef Wilis, VW, dan Chevrolet. Belum lagi alat-alat produksi untuk menopang proses produksi dan distribusi Rokok Bugisnya ke luar Makassar ia punyai. Dengan jumlah pekerja tembakau berkisar 40 orang yang menghasilkan 500 timpo tembakau perharinya ia menjadi pengusaha Rokok terbesar di Sulawesi Selatan. H. Saide bahkan pernah membangun usaha bisnis transportasi publik (bis) khusus jalur Soppeng – Makassr – Sinjai. Tapi usaha sampingan itu ia tinggalkan dan memilih berkonsentrasi pada usaha Rokok Bugisnya.

Beberapa pengusaha Rokok Bugis lain yang turut berkembang saat itu adalah H. Kasiran (Rokok Tempe), H. Santo (pabriknya bersebelahan dengan Pasar Terong, Makassar), H. Hafid (di Batua Raya, Makassar), H. Indare (Rokok Doanja, Cabbeng), H. Nasir (Rokok Ayam Telor, Cabbeng), dan tentu saja H. Palerei di Soga. Keluarga-keluarga ini dan umumnya keluarga-keluarga yang terlibat langsung dalam produksi Tembakau Bugis hidup sejahtera. Anak-anak mereka, sebagai generasi kedua menikmati kemakmuran yang tak pernah dirasakan generasi sebelumnya.

Salah satu generasi kedua itu adalah Sudirman Nasir (41). Ia adalah putra H. Nasir yang kini dosen pada Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Hasanuddin. Di awal 1990an, ia adalah mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Hasanuddin. Setamatnya dari Universitas Hasanuddin tak lama kemudian ia melanjutkan studi master di Australia.

Sebagai anak pengusaha Tembakau Bugis, biaya pendidikan tentu bukan masalah bagi orang tuanya, H. Nasir. Demikian pula saat salah seorang putra H. Saide melanjutkan kuliah di Jakarta di era 1980an, mudah saja bagi H. Saide membeli sebuah rumah mewah di kawasan Menteng. Kabarnya, rumah itu yang kini masih milik H. Saide akan dijual olehnya dengan taksiran harga belasan milyar.

Bagi Sudirman, masa jaya Tembakau Bugis memang telah lewat. Sebagian yang bertahan dan tetap hidup makmur sekarang bisa melakukannya karena bertindak antisipatif. Maksudnya, selain berdagang Tembakau, sebagian modal mereka alihkan untuk membeli tanah sawah dan kebun, di Soppeng atau di luar Soppeng. Sudirman menyebut beberapa pengusaha Tembakau Bugis yang masih bertahan karena sikap antisipatif mereka. Mereka adalah keluarga H. Indare’ (pengusaha Rokok Bugis Doanja), keluarga H. Saing dari Mattirowalie dan keluarga H. Saide di Makassar. Sedangkan, beberapa keluarga yang tidak antisipatif di sisi lain juga sedang menghadapi masalah generasi kedua, yakni generasi yang sekedar hidup foya-foya di saat masa jaya orang tua mereka.

Di masa jaya itu, saat ia masih berusia belasan, Sudirman melihat remaja-remaja dari keluarga Tembakau di Cabbeng sudah terbuai oleh mobil-mobil mengkilap dan sepeda motor terbaru. Sehari-harinya, mereka memamerkan mobil berikut asesorisnya dan maccewe’-cewe’ atau berpacaran saja. Jika ada keluaran mobil terbaru di Jakarta, pastinya tak lama akan tiba di Cabbeng.

Aih, Napabbangkarro’i Tomatoanna.” Ujar Sudirman dalam bahasa Bugis. Mereka membuat usaha keluarga bangkrut di saat mereka sendiri terbuai di zona nyaman dan tak ada etos kerjanya. “Deteriorating rapidly and now unemployed!” demikian komentar singkat Sudirman tentang usaha keluarga Tembakau Bugis yang runtuh.

Runtuhnya usaha Tembakau Bugis berbasis keluarga ini juga diperparah oleh ekspansi rokok putih (impor) dan khususnya kretek dari Kudus. Dibandingkan dengan Kretek, Tembakau Bugis kalah nyaris dari semua aspek usaha ini. Mulai dari kemasan yang lebih baik (olahan mesin), aroma yang lebih bercita rasa (campuran cengkeh), manajemen usaha yang lebih professional (usaha Kretek sudah mulai pada abad 19 sejak ditemukan pertama kali oleh H. Jamhari dan dikembangkan oleh H. Nitisemito), dan tentu saja harga yang terjangkau dengan sisi kepraktisan yang jauh lebih memanjakan konsumen atau perokok.

Di Makassar, hanya Perusahaan Rokok Bugis ‘Adidie’ milik H. Saide yang bertahan. Di usianya yang sudah menginjak angka 90, H. Saide bersama 6 pekerjanya tinggal mampu memproduksi 300 Timpo perminggu atau 1.200 timpo perbulan atau 14.400 timpo pertahun. Bandingkan pada masa jayanya yang produksi Rokok Bugisnya mencapai angka 15.000 timpo perbulan dan 180.000 timpo pertahun.  Jika dahulu pekerjanya mencapai 40  orang, kini tinggal 6 orang saja. Jika dulu distribusi Rokok Bugisnya ke Indonesia bagian Timur, kini semakin menyempit di sebagian kecil area Sulawesi Tengah dan Selatan. Jika dulu konsumennya dari berbagai kalangan, kini tinggal sebagian petani dan nelayan saja yang menghisapnya. Jika dulu harga belinya menguntungkan pengusaha dan pedagang eceran, kini harganya jauh merosot.

Bagi H. Muhammad Nur, akhir dari usaha Rokok Adidie tinggal menunggu waktu. Begitu H. Saide tutup usia, maka legenda Rokok Bugis akan usai.

Sore, setibanya di Terminal Daya Makassar, Heddang melanjutkan perjalanan menuju Jalan Tinumbu. Ia naik kendaraan umum pete-pete menuju Pasar Sentral. Di ujung jalan Tinumbu, ia berjalan menuju Pabrik Rokok Bugis Adidie. Di depan sebuah bangunan serupa rumah toko ia berdiri. Sejenak ia membaca papan nama di sudut kanan atas rumah ini. Tertulis di sana ‘Perusahaan Rokok Adidie’ berdiri sedjak 1962’. Ia maju beberapa langkah, mengetuk pintu dengan mantap untuk satu tujuan pasti, mengumpulkan modal untuk melanjutkan usaha Tembakau Bugis di kolong rumah panggung yang ia tinggalkan tadi pagi.