Mengenal Cerutu Indonesia

Berjaya di era kolonial, kini menyumbang 34 persen market share dunia.

Di beberapa kota besar di Indonesia, terutama di Jakarta, mulai ngetrend gaya hidup menyesap wine dan mengisap cerutu. Namun mungkin tidak banyak dari para pengisap cerutu di Indonesia yang tahu bahwa cerutu yang mereka nikmati mungkin dari Indonesia atau setidaknya berbahan baku tembakau Indonesia.

Namanya, Jopie. Perawakannya tinggi dan seluruh rambutnya sudah memutih. Di Jember, ia dikenal sebagai salah satu pakar cerutu. Memasuki usianya yang ke-75, ia masih tampak sigap. “Saya awet muda karena sayang kepada tanaman.” ia menjawab pertanyaan saya tentang bagaimana resep awet muda sambil mengajak masuk ke gudang pengolahan tembakau sekaligus tempat pembuatan cerutu di mana ia bekerja sebagai konsultan.

Jopie mengaku kalau sejak kakek buyutnya, hampir semua keluarga besarnya berbisnis tembakau. Ia sendiri bersekolah hanya sampai setara kelas 5 sekolah dasar. Selebihnya, ia mulai membantu ayahnya menanam tembakau. “Sejak kecil saya sudah ke sawah, ikut menanam tembakau, mengikuti proses budidaya lalu mengeringkan dan kemudian membawa hasil panen itu ke perusahaan-perusahaan Belanda.”

Ketika Jopie berumur 19 tahun, ayahnya dipercaya oleh orang Belanda untuk bekerja di pabrik tembakau. Mulai saat itu pula, Jopie diajari ayahnya untuk mengenali tembakau Na-oogst berdasarkan mutunya.

“Setahun lebih saya belajar memisahkan tembakau yang kotor dan bersih, warna yang terang dan gelap, warna yang rata dan tidak.  Setelah itu saya mulai belajar tentang pengeraman tembakau. Baru setelah merasa bisa, saya belajar packing untuk ekspor.”

Menurutnya, Indonesia sudah dikenal dunia lewat tembakau Na-oogst sejak tahun 1839. Ada tiga daerah di Indonesia yang dianggap memiliki tembakau kualitas dunia sebagai bahan cerutu yaitu Deli Serdang, Klaten atau biasa disebut Vorstenlanden (wilayah keraton) dan daerah Karesidenan Besuki termasuk Jember.

Di Indonesia dikenal dua jenis tembakau: Na-oogst dan Voor-oogst. Jenis pertama yang dipakai sebagai bahan cerutu sedangkan jenis kedua dipakai sebagai bahan rokok. Baik Na-oogst maupun Voor-oogst berasal dari bahasa Belanda. Na artinya “setelah” sedangkan Voor artinya “sebelum”. Jadi kira-kira, menurut Jopie yang masih fasih berbahasa Belanda, tembakau Na-oogst ditanam setelah musim padi, sedangkan Voor-oogst ditanam sebelum musim padi. Tetapi penjelasan itu tentu masih membingungkan banyak orang jika dilihat dalam konteks kekinian.

Jopie kemudian memberi penjelasan lebih gampang, Na-oogst ditanam di musim yang masih ada hujan menjelang kemarau, lalu dipanen di saat memasuki musim hujan kembali. Sedangkan Voor-oogst sama seperti Na-oogst, ditanam ketika musim masih hujan menjelang musim kemarau, dan dipanen di musim kemarau. Itu dari sisi musim tanam dan panen, sedangkan kalau dari sisi karakter, daun tembakau Na-oogst terlihat lebih hijau, halus dan tipis. Kebalikan dari itu, daun tembakau Voor-oogst lebih bertekstur kasar dan tebal.“Dulu,” tuturnya, “tembakau Na-oogst langsung dilelang di Amsterdam, Belanda. Tapi setelah program nasionalisasi perusahaan asing oleh Bung Karno, lelang tembakau Na-oogst pindah ke Bremen, Jerman.”

Cerutu terdiri dari tiga bagian: isi (filler), pembalut (binder) dan pembungkus paling luar (wrapper). Tembakau Deli dikenal sebagai wrapper yang bagus kualitasnya karena cuacanya cenderung mendung dan basah sehingga menghasilkan tembakau yang halus, rata, bersih dan aromanya netral. Sedangkan tembakau Klaten dan Jember terkenal bisa menghasilkan ketiga bahan itu. Biasanya kualitas cerutu yang bagus terdiri dari tiga tembakau yang berasal dari Indonesia, Kuba dan Brazil.

Sekarang, perusahaan tempat Jopie bekerja sebagai konsultan, mengekspor ke banyak negara seperti Jerman, Belanda, Belgia, Denmark, Prancis, Inggris, Mesir, Amerika, Afrika Selatan dan Jepang. “Paling banyak sekarang kita ekspor ke Jepang dan Mesir. Negara tujuan ekspor memang semakin banyak, tetapi permintaan semakin mengecil,” ungkap Jopie dengan suara pelan.

Bahkan menurut Jopie, tembakau Deli boleh dibilang nyaris tidak berproduksi lagi. Sedangkan tembakau Klaten menurun drastis. “Di Jember juga terjadi penurunan, tapi produksinya jauh lebih banyak dibanding Deli dan Klaten. Jember masih menghasilkan antara 8.000 sampai 9.000 ton per tahun dan tembakau Na-oogst dari Jember masih menjadi acuan dunia.”

Ketika ditanya mengapa terjadi penurunan produksi tembakau Na-oogst, Jopie menjawab, “Pengisap cerutu semakin menurun, lalu ada faktor kampanye antirokok yang cukup berhasil terutama di Eropa dan Amerika. Kemudian juga ada pergantian selera dari mengisap cerutu besar ke cerutu sedang dan kecil. Selain itu ada juga faktor manajemen yang kurang baik. Dulu orang berbisnis tembakau karena suka dan berpengalaman. Sekarang ini sepertinya banyak diurus oleh orang-orang yang tidak begitu paham soal tembakau Na-oogst. Coba kita lihat sekarang tembakau Deli, daunnya kecil-kecil dan rendemennya juga semakin kecil.”

Untuk menghadapi penurunan permintaan atas tembakau Na-oogst, Jopie menyampaikan strateginya yakni terus membuat cerutu dengan kualitas yang bagus dan berusaha agar terjangkau oleh berbagai kalangan terutama kalangan menengah ke bawah.

Jember selain mengekspor tembakau sebagai bahan cerutu juga mengekspor cerutu yang sudah jadi. PTPN X adalah salah satu penghasil tembakau Na-oogst dan pengekspor cerutu. Berbeda dengan perusahaan tempat Jopie bekerja, perusahaan negara ini mengekspor tembakau Na-oogst terbanyak ke Eropa (92 persen), Amerika (5 persen) dan Afrika (2 persen). Sedangkan yang 1 persen untuk pasar domestik.

Menurut data dari PTPN X tembakau Na-oogst dari Jember memiliki kualitas yang bagus karena mampu menyerap hujan sepanjang musim tanam sehingga dalam keadaan cuaca yang tidak menentu, produksi tembakau Na-oogst relatif stabil. Selain itu, tanaman tembakau Na-oogst Jember relatif tahan hama dan produktivitasnya tinggi.

Satu lagi, pasar cerutu internasional mensyaratkan tembakau yang minim dari intervensi pestisida. Hal itu diakui oleh Jopie. “Sudah lama kita melakukan bimbingan ke para petani agar tidak menggunakan pestisida yang dilarang.” Dan berdasarkan penelitian PTPN X, tembakau hasil perkebunan mereka, terutama di unit Ajung-Kertosari merupakan tembakau dengan residu terendah sedunia.

***

Sekalipun Indonesia boleh dibilang negara penghasil tembakau, karena industri yang berbahan pokok tembakau ini telah menghidupi jutaan orang, dan tanaman tersebut telah ada di sini ratusan tahun lalu, tetapi tidak banyak akademisi yang menggeluti tembakau. Dari sedikit akademisi, salah satunya adalah Prof. Dr. Kabul Santosa. Ia juga tinggal di Jember.

Setidaknya ada beberapa alasan mengapa Kabul pada akhirnya menetapkan tembakau sebagai salah satu perhatian akademisnya. Ketika masih menjadi dosen muda di Universitas Negeri Jember (UNEJ), ia terpana dengan sosok bernama Haji Rola. Salah satu adik kelas Kabul yang dikenal tercantik di kampusnya, rela menikah dengan Rola, bahkan rela dijadikan istri kedua. Dan Kabul sering menyaksikan bagaimana Rula yang tidak sekolah ini sering membagi-bagikan uang ke banyak orang. Rula pun sering berpergian ke luar negeri, terutama ke Bremen, Jerman.

Alasan lain adalah ketika Kabul sadar bahwa lambang universitas tempatnya mengajar serta lambang kabupaten Jember adalah daun tembakau. Dan alasan terakhir, sebagai orang yang menghabiskan waktu kecil dengan berpindah dari dan ke berbagai tempat karena ayahnya merupakan seorang tentara, Kabul juga menjadi saksi bagaimana tembakau telah menghidupi banyak orang.

Maka begitu melanjutkan kuliah program doktoral, ia memutuskan untuk menjadikan tembakau sebagai bahan disertasinya. Semenjak itulah ia sering berkeliling bertemu dengan banyak petani dan pedagang tembakau, menongkrongi gudang-gudang yang banyak terdapat di Jember, dan pada akhirnya setelah menyadari bahwa semua itu terkait dengan harga tembakau di luar negeri. Ia pun berangkat ke Bremen yang saat itu merupakan pusat perdagangan tembakau untuk bahan baku cerutu tingkat dunia.

“Saya berangkat ke Bremen dan keliling ke beberapa kota di Eropa untuk mempelajari dokumen-dokumen perdagangan tembakau Na-oogst.” ucap Kabul. Dari data yang ia dapat, Kabul menganalisa, “Pada tahun 1985 saat saya di sana, saya memprediksi bahwa pada tahun 2000, permintaan akan tembakau Na-oogst akan berhenti. Karena dari berbagai arsip yang saya bongkar dan data yang saya dapat, angka-angka perdagangan mengatakan seperti itu. Tapi ternyata prediksi saya keliru…”

Kabul diam sejenak. “Perhitungan saya benar tetapi perkiraan saya salah. Kesalahan perkiraan saya karena tidak mempertimbangkan inovasi-inovasi baru yang dilakukan oleh orang-orang tembakau terkait dengan permintaan pasar yang semakin menurun.”

Apa yang dikatakan Kabul tentu perlu mendapat apresiasi tersendiri. Sebagai seorang akademisi, ia bisa saja keliru tetapi tidak boleh berbohong. Laki-laki yang pernah menjabat Rektor UNEJ dua periode dan sekarang sudah purnatugas ini mengakui kekeliruannya dengan elegan.

“Permintaan tembakau Na-oogst memang mengalami penurunan karena perubahan selera pasar. Dulu orang Eropa suka dengan cerutu besar tetapi kemudian mulai menyukai cerutu kecil atau cigarollus. Sehingga kebutuhan atas tembakau Indonesia yang saat itu sebagian besar sebagai filler semakin menurun.”

Menurut Kabul, dulu tembakau Na-oogst di Indonesia 70 persen adalah bahan filler, 20 persen sebagai binder dan 10 persen sebagai wrapper. Kabul kemudian melanjutkan penjelasannya, “Inovasi pertama yang membuat tembakau Na-oogst ini bertahan adalah apa yang disebut dengan TBN atau Tembakau Bawah Naungan. Tembakau ini kualitasnya bagus sekali dan harganya sangat mahal. Nah, TBN ini berhasil mengubah yang dulu filler-nya 70 persen sekarang wrapper-nya yang bisa sampai 70 persen.” Tembakau Bawah Naungan adalah tembakau yang dibudidayakan dengan cara dikerudungi supaya tidak mudah dimasuki hama.

Inovasi lain adalah dengan ditemukannya model budidaya Besuki Na-oogst Tanam Awal atau dikenal dengan Bes-NOTA. Dulu tembakau Na-oogst ditanam di bulan Agustus dan dipanen di bulan Oktober. Kalau Bes-NOTA, ditanam di bulan Mei dan dipanen di bulan Agustus. Jadi waktu tanamnya lebih maju. Bes-NOTA ini juga menghasilkan wrapper dan binder yang bagus. Kedua hal itu, baik TBN maupun Bes-NOTA-lah yang menyelamatkan tembakau Na-oogst Indonesia. Kini market share tembakau Na-oogst Indonesia di pasar dunia masih yang terbesar yakni 34 persen. Dan dari market share sebesar itu, Jember menyumbang 25 persen permintaan dunia. Sisanya yang 4 persen dari Klaten dan 5 persen dari Deli.

Kini, setelah purnatugas, Kabul lebih banyak aktif sebagai Ketua KUTJ (Komisi Urusan Tembakau Jember) yang bertugas untuk memberi masukan kepada Bupati terkait dengan persoalan tembakau di Jember. Selain itu, Kabul juga anggota Tim Revitalisasi yang dibentuk oleh Pemda Jatim dengan dua tugas khusus yakni bagaimana menyelamatkan tembakau Na-oogst dan bagaimana memaksimalkan produksi Virginia sebab Indonesia masih banyak impor jenis tembakau tersebut. Maka sekalipun sudah berusia 69 tahun, profesor yang berpenampilan sederhana dan ramah ini termasuk orang yang sukar ditemui karena berbagai aktivitasnya mulai dari menjadi pembicara seminar, penelitian sampai turun langsung mendidik para petani untuk menghasilkan tembakau Na-oogst dengan kualitas bagus.

Kabul juga menyayangkan mengapa perguruan tinggi yang ada di Indonesia tidak banyak mencetak akademisi yang ahli tembakau padahal jelas sebagian besar denyut perekonomian negeri ini dipompa dari industri tembakau. Sekarang ini menurut Kabul, ada tiga hal yang patut segera dilakukan di Indonesia menyangkut persoalan tembakau.

Pertama, terjadi proses kemitraan yang sinergis, saling membutuhkan dan saling menguntungkan antara pihak pabrik dan petani. Kedua, ada semacam GTP (Good Tobacco Practices) yang menjadi panduan bagaimana menanam tembakau yang baik dan GMP (Good Manufacturing Process) sebagai panduan untuk memproses tembakau yang baik. Dan yang ketiga adalah keberpihakan Pemerintah Pusat yang jelas, mengingat sektor ini terkait dengan hajat hidup orang banyak.

Mungkin para pengisap cerutu di negeri ini yang makin lama makin bertambah banyak, mulai menyadari bahwa mereka tidak perlu membeli cerutu buatan luar negeri toh bahannya juga dari Jember. Lebih baik mereka mengisap cerutu-cerutu buatan pabrikan Indonesia. Atau kalau punya waktu luang, langsung saja berburu cerutu ke Jember, selain harganya pasti lebih murah, mereka bisa menikmati proses pembuatannya. Bahkan jika datang di saat yang tepat bisa menyaksikan daun-daun tembakau yang bergerak indah jika diterpa angin atau pemandangan eksotis penjemuran daun tembakau.

Setidaknya, para pengisap cerutu yang biasanya menikmati benda tersebut sambil menyesap wine, mulai menyadari bahwa benda buatan tangan yang punya citarasa tinggi itu, sekalipun cerutu yang tengah mereka isap tertera sebagai buatan luar negeri namun hampir bisa dipastikan terdapat unsur tembakau Indonesia di dalamnya.