Menguak Misteri Tembakau Srintil

tembakau srintil
tembakau srintil

Rasa penasaran tentang Tembakau Srintil yang menjadi primadona petani tembakau dan pabrik rokok, membawa langkah kaki ini menuju lereng Gunung Sumbing. 15 September 2011, menjelang malam menembus aspal selebar 3 meter untuk menuju di desa tertinggi di Gunung Sumbing Sisi Utara. Dukuh Cepit, Desa Pager Gunung, Kecamatan Bulu, Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah menjadi tujuan akhir perjalana kali ini. Semerbak bau tembakau begitu terasa menusuk hidung di balik kabut tipis yang mulai turun malam itu.

Kembali saya bertamu di rumah pak Manten (Mantan Kepala Desa) di dukuh Cepit, malam itu berjanji untuk meneruska obrolan pada minggu lalu. Perbicangan kali ini mencoba menguak lebih dalam tentang fenomena Pulung Setan dari Tembakau Srintil. Kebetulan perjalanan kali ini di temani oleh staf Dosen dan Mahasiswa dari Universitas Kristen Satya Wacana, Salatiga dan kebetulan mereka begitu intens untuk meneliti tembakau. Dengan adanya ujung tombak dari kaum akademisi, sehingga memudahkan untuk mengorek banyak informasi tentang tembakau Srintil.

Agak berat juga mencerna seorang Dosen dengan logat jawa yang kental berdiskusi dengan pak Manten dan beberapa tetangga yang menyemarakan obrolan malam itu. Diskusi kaum Akademisi versus praktisi dengan gaya idealis dan praktis, begitu saya meyebut diskusi malam itu. Sang Dosen degan bahasa ilmiah populer dan sangat luwes berkomunikasi dengan gaya pemikiran petani, sehingga terlihat begitu mengalir dan saling sambung menyambung, sehingga begitu hangatnya selalu disambut dengan gelak tawa dan seduhan teh trasan yang kental.

Sang staf dosen mencoba menjelaskan fenomena Tembakau Srintil secara mekanis. Ia berpendapat, pasti ada suatu sistem dan mekanisme bagaimana Tembakau Srintil terbentuk. Disisi lain petani beranggapan, tembakau Srintil adalah Pulung Setan. Pulung Setan yang berasal dari kata pulung yang berarti Keberuntungan dan Setan dimaknai dari kata Seto atau putih. Tembakau Srintil adalah sebuah keajaiban yang ditakdirkan oleh Sang Illahi dan tidak diketahui siapa yang beruntung kejatuhan ndaru. Mekanisme dan vitalisme hanyalah sebuah pendekatan untuk mencari sebuah kebenaran dengan cara dan sudut pandang masing-masing.

Sebuah analogi yang sederhana untuk menguak misteri Srintil, disaat tembakau Srintil diibaratkan Candi Borobudur. Sebuah candi dibangun dari sebuah kerangka dasar, lalu berundak dan bertingkat dari susunan bebatuan yang dibentuk sedemikian rupa, sehingga menjadi bangunan utuh. Demikia juga dengan Tembakau Srintil, memiliki fragmen-fragmen tersendiri untuk menjadi sebuah tembakau yang istimewa. Lantas apa saja potongan-potongan yang menjadi materi penyusun Tembakau Srintil?

Yang menjadi kerangka dasar adalah letak geografis. Fenomena Tembakau Srintil hanya ada satu-satunya di Indonesia, bahkan dunia. Lebih menyempit lagi, Tembakau Srintil hanya terdapat di sisi utara Gunung Sindoro dan Sumbing. Ketinggian lahan untuk tembakau Srintil biasanya terletak pada ketinggian 1800mdpl. Letak geografis adalah faktor pendukung utama, ketinggian tempat akan berpengaruh pada faktor lingkungan, seperti; suhu, kelembapan, intensitas cahaya, cuaca, dan lain sebagainya. Tidak heran apabila harga tanah ditempat-tempat yang berpotensi menghasilkan Tembakau Srintil memiliki harga jual dan sewa yang tinggi, bahkan per meter persegi sudah mencapai 500 ribu.

Beranjak menuju tingkatan di atas pondasi penyusun Tembakau Srintil, yakni dari sektor pertanian. Hanya jenis Tembakau (Nicotina Tabacum) varietas Kemloko yang bisa menjadi Srintil. Sejauh ini tidak ada petani yang mempunyai catatan atau rekaman dari awal hingga akhir, sehingga untuk melacak kembali hanya berdasarkan apa yang diingat saja. Tidak berbeda dengan tempat-tempat lain tentang bagaimana membudidayakan Tanaman Tembakau. Petani dengan diawali pengolahan tanah, pemupukan, penanaman, perawatan hingga pemanenan. Tidak ada yang bisa menduga tembakau mana yang akan menjadi Srintil, sehingga tidak ada yang istimewa dari budi dayanya. Tidak salah jika Tembakau Srintil dianggap Sebagai Pulung Setan.

Tingkatan fragmen Srintil semakin ke atas dan semakin mengerucut, dengan kajian yang lebih detail. Mengapa hanya pada daun D, E, F keatas atau daun pada bagian atas dari pohon Tembakau. Prinsip metabolisme menjawab fenomena ini, karena pada dauan bagiam atas aktivitas metabolisme lebih tinggi dibanding daun pada bagian bawah. Adanya aktivitas metabolisme yang tinggi konsekuensinya akan dihasilkan metabolit yang banyak, seperti; nikotin, klorofil, dan materi lain. Materi inilah yang nantinya menjadi faktor mengapa ada biokoversi menjadi Srintil.

Biokoversi pada daun tembakau tidak mungkin terlepas dari agen-agen biologis yang memiliki peran masing-masing. Ciri khas tembakau Srintil adalah pada di saat diperam 2-3 hari sudah busuk, sedangkan tembakau lain membutuhkan waktu lebih. Daun yang sudah layu, ada jamur berwarna kuning, berbau tajam seperti madu dan mengeluarkan cairan menjadi indikator terbentukya Tembakau Srintil. Agen biologis apa saja yang terlibat, sejauh ini yang sudah diketahui ada Jamur, khamir, dan mikroba. Menjadi tanda tanya sekarang adalah, apa peranan dari masing-masing agen biologis tersebut dalam mengkonversi materi-materi organik dalam daun tembakau. Bagaimana asosiasi dari mikroorganisme tersebut, apakah ada hubungan yang sinergis atau antagonis. Pertanyaan terakhir adalah apa saja metabolit yang mereka hasilkan sehingga terbentuk sebuah aroma, citarasa dari tembakau Srintil. Faktor lingkungan juga berperan dalam proses biokonversi tersebut, sehingga kompleks sekali untuk mensintesis Srintil.

Apakah fragmen puncak dari Srintil, menjadi pertanyaan pamungkas buat kaum mekanisme. Profil protein yang disintesis menjadi jawaban sebelum masuk pada faktor genetis dan ekpresinya. Profil protein akan menjelaskan materi apa saja yang terkandung dalam tembakau srintil, sehingga tidak mungkin jika dibuat sintetiknya. Terlepas dari protein, juga bisa dilihat apakah faktor genetis ikut andil dalam terjadinya fenomena Tembakau Srintil. Apabila faktor genetik berperan, maka akan dengan mudah membuat tembakau dengan variestas Srintil dengan GMO (Genetic Modified Organism).

Banyak sekali susunan bebatuan yang membentuk fragmen-fregmen Candi Srintil agar terbentuk bangunan yang utuh. Tidak sedikit kaum akademisi yang meneliti, namun dengan banyaknya variabel yang menyusun akan sangat susah menemukan benang merahnya. Para petani mungkin juga tidak berharap ditemukannya formula bagaimana terbentuknya tembakau Srintil, dan jika itu jatuh pada kaum kapitalis maka tamat sudah riwayat petani. Sangat realistis, apabila kaum vitalisme menganggap Srintil sebagai Pulung Setan atau takdir dari Sang Pencipta. Biarlah kaum akademisi menyikapi dari sudut pandannya dan petani degan apa yang diyakini.

Pembicaraan akhirnya berakhir seiring fajar menyingsing dan saatnya petani memulai perjudiannya dengan matahari agar tembakau lekas mengering. Rigen sudah di jajar rapi dalam para-para yang terletak dari area kebun, jalan raya hingga balkon rumah. Dukuh cepit penuh dengan warna cokelat yang membentang luas mengharap matahari bersinar dengan terik. Kesibukan tidak hanya saat menjemur, tetapi pada proses pembalikan tembakau yang sudah mengering. Konsep pegangan, warna dan aroma begitu melekat ibarat seorang quality control yang terus mengawasi kwalitas jemuran.

Akhirnya perjalanan untuk menguak tentang bagaimana Srintil itu ada berakhir sudah. Belum ada sebuah jawaban pasti tentang fenomena Tembakau Srintil. Kaum akademisi mencoba berbagai macam riset dan kaum praktisi yakni tetap dengan keyakinannya bahwa Tuhan pemberi rejeki. Kearifan lokan dan etika sains ditantang untuk menyikapi fenomena Tembakau Srintil yang misterius.