Perawatan Gigi, Sirih, dan Tembakau

Tembakau Cegah Virus Ebola
Tembakau Cegah Virus Ebola

Tulisan ini adalah kelanjutan dari tulisan sebelumnya tentang bagaimana saya melakukan uji coba penanggulangan secara alternatif setelah bolak balik ke dokter saya tetap belum puas dengan hasilnya.

Saya teringat sesepuh saya, Pak Tubagus Sapta Dewa. alm.  (dari Baduy),  usianya di atas 70 tahun tetapi giginya masih utuh. Suka dipamerkan ke saya sambil ngomong begini, “Nih neng, usia saya memang sudah tua, tapi gigi saya masih kuat”. Kemudian saya juga inget simbah-simbah saya yang sudah “sepuh” tapi giginya masih berbaris rapi tanpa lubang, dan masih nyaman makan keripik tempe. Ngiri banget gitu.

Beliau-beliau ini bercerita bahwa mereka melakukan tradisi nginang dan nyusur. Nginang adalah tradisi mengunyah sirih yang ditambahi dengan Njet (kapur). Sedangkan nyusur adalah mengisap sari tembakau. Persamaan keduanya adalah hanya menghisap sarinya saja, sedang sepah (sampahnya) dibuang.

Mengingat kondisi gigi saya sudah SOS, maka saya pun mempraktekkan kedua hal tersebut.  Sirih hijau tersedia di rumah, merambat di pagar tembok rumah. sedangkan untuk tembakaunya saya minta dari ibu saya, minta yang kualitas bagus, begitu pesan dari sesepuh yang suka nyusur.

Saya memilih dua pucuk daun sirih, saya tumpuk menjadi satu dan ditengahnya saya kasih njet sebesar butiran kacang tanah. Kemudian saya kunyah pakai gigi geraham. Ups, rasanya sepat sekali, ludah berwarna merah. Pesannya harus dihisap-hisap airnya saja. Alhasil pada percobaan pertama ini saya langsung menyemprotkan selang kran di depan rumah ke dalam mulut. Dan keluarlah semua sirih yang sudah berwarna merah bata. Hahahaha.. heran saya, bagaimana ya simbah-simbah itu bisa begitu nikmat menyirih.  Ternyata saya belum kapok juga, penasaran sama simbah-simbah yang merdeka dan bahagia sambil mengunyah sirih.  Saya ulangi hari berikutnya dengan dua helai pucuk daun sirih tanpa njet. Hasilnya saya sukses sampai akhir mengunyah daun sirih. Horeee, mukanya masih eneg. hihihi.

Efek samping nyirih adalah gigi saya agak berkurang ngilunya. Konon kandungan antibiotik di dalamnya mematikan kuman. Efek berikutnya adalah asam lambung saya tidak bermasalah lagi dan perut tidak mudah lapar. Setelah saya lihat, kandungan kapur mampu menetralkan asam lambung layaknya obat maag. Analoginya adalah sifat tanah untuk pertanian juga ditambah dengan tanah kapur atau gamping untuk menetralkan sifat asam. Kapur ini tidak berbahaya bagi kesehatan. Penggunaan kapur sirih untuk makanan adalah untuk pembuatan manisan. Buahnya sebelum dimasak direndam dulu sampai agak keras. demikian juga pembuatan keripik tempe.  Tempe direndam dengan  tepung yang diencerkan dengan kapur sirih.

Berbagi pengalaman berikutnya adalah nyusur, yaitu  menghisap sari tembakau. Pengalaman nyusur ini lebih heboh dari nginang atau nyirih. Saya menyiapkan tembakau sebesar bulatan kelereng. Pelan-pelan saya gosokkan ke gigi depan bagian luar, bergeser ke belakang ke bagian gigi geraham.  Saat mulai menyentuh geraham, dan bercampur dengan air ludah, busyeeet pahitnya minta ampuuun. Hueeekkk langsung saya buang. Ga sanggup. Pada saat yang sama terdengar  koor tawa anak-anak di belakang saya, merekadiam-diam mengikuti prosesi upacara nyusur untuk pertama kali. sumpah, kalau tembakau ini pahit. Dan kandungan getahnya membuat bibir saya agak sengar dan mati rasa sampai pagi berikutnya.

Efek nyusur lebih cespleng dari nginang. Ngilu gigi sensitif  berkurang banyak. Memang pahitnya membuat kepala pusing sekejap.  Tapi dari kasus ini saya punya sedikit pemahaman. Pada dasarnya nyusur itu bagus untuk kesehatan, karena nyusur itu adalah insektida alami yang bisa membunuh kuman daripada sirih. Pahitnya mantap, mampu membunuh kuman-kuman lainnya kali ya. Saya belum mempelajari lebih jauh, soalnya sehabis itu saya cuma beberapa kali nyusur, karena gigi saya sekarang sudah sembuh. Makanya orang-orang yang nginang dan nyusur lebih sehat daripada yang tidak. memang rasanya seru bener. Saat memulai bikin heboh.

Dalam dunia alternatif makanan dan minuman yang bersifat pahit dianggap mampu menyeleksi bakteri-bakteri yang tidak baik untuk tubuh. Kalau menurut bahasa pak Omri mampu membuat keseimbangan kandungan asam dan basa pada tubuh.

Sekarang sebagai perawatan saya cuma nginang aja, kebetulan daun sirih tersedia di halaman rumah saya. Sirih yang hijau gelap, katanya manis dibandingkan dengan sirih yang daunnya agak berwarna kuning. Tapi saya tetap sikat gigi, sehari sekali kalau pagi. Kalau malam tidak. untung ga punya suami. Kalau punya suami bisa perang dunia.