Pesona Batik Mbako, Batik Temanggungan

batik mbako tembakau temanggung
batik mbako tembakau temanggung

Kampanye untuk lebih mencintai tembakau juga dituangkan dengan lewat lewat aneka motif batik. Batik bermotif tembakau ini diproduksi dengan label Batik Mbako. Mbako, dalam bahasa Jawa, adalah ungkapan masyarakat untuk mempersingkat kata tembakau. Batik Mbako yang baru resmi berdiri pada Januari 2010 ini ditekuni oleh mayoritas anak remaja yang telah mengikuti kursus membatik di Solo. Terdapat terdapat sekitar lima rumah tangga yang menjadi pembatik di Dusun Tegaltemu, Kelurahan Manding, Kecamatan/Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah.

batik mbako tembakau temanggung

Ide Batik Mbako berlatar belakang sosial budaya, pelestarian budaya dan pemberdayaan warga perkebunan tembakau. Bagi masyarakat Temanggung, Batik Mbako diharapkan menjadi sebagai ciri khas batik dari daerah penghasil tembakau ini. Sesuai dengan labelnya, semua motif batik yang diguratkan, melukiskan keindahan tembakau dan segala sesuatu yang berhubungan dengan aktivitas tembakau. Maka, ada motif yang diberi nama Ron Mbako (daun tembakau) dan Rigen Mbako. Rigen adalah nama alat penjemur tembakau yang biasa dipakai di desa-desa.

Ron Mbako merupakan corak tentang daun tembakau, Rigen Mbako merupakan anyaman bambu sebagai tempat penjemuran tembakau, Sekar Mentari bunga tembakau yang terkena sinar matahari, dan motif kontemporer merupakan pengembangan dari motif tembakau. Motif kontemporer sebagai kombinasi dan menyesuaikan permintaan pasar karena ada konsumen tidak hanya menyukai motif asli tetapi juga motif abstrak, dan masih ada kemungkinan untuk mengembangkan kreasi dan inovasi lain.

batik mbako tembakau temanggung

Saat ini ada lebih dari 30 motif batik yang telah dibuat dan lima motif di antaranya telah dipatenkan. Selain Ron Mbako dan Rigen Mbako, tiga motif lain yang telah dipatenkan adalah Mbako Sakbrayat, Ron Abstrak, dan Sumbing Sindoro. Mbako Sakbrayat melukiskan rajangan daun tembakau petani, Ron Abstrak melukiskan daun tembakau secara abstrak, dan Sumbing Sindoro adalah kawasan pegunungan yang menjadi sentra pertanian tembakau.

Usaha membuat desain dan membatik ini dilakukan baik dengan teknik pewarna kimia atau cap maupun dengan pewarna alami.Pewarna alami yang dimaksud berasal dari ekstrak daun tembakau yang dicampur dengan ekstrak aneka tumbuhan lain. Akan tetapi, pembuatan warna yang diinginkan dari bahan-bahan alami juga dirasakan tidak mudah. Bahan-bahan alami yang dipakai dan dicampurkan dengan ekstrak tembakau antara lain kulit mahoni, secang, kayu tingi, dan daun teh.

Tanpa campuran bahan-bahan lain, pemakaian daun tembakau sudah memunculkan warna tersendiri. Ekstrak yang dibuat dari daun-daun yang sudah tua dan busuk, misalnya, memunculkan warna coklat muda dan ekstrak yang dibuat dari daun basah memunculkan warna hijau.

Sebenarnya di daerah Temanggung dulu telah memiliki batik dengan motif khas Batik Kedu, namun seiring berjalannya waktu, serta tidak ada lagi generasi berikut yang melanjutkan warisan budaya itu, hingga akhirnya motif khas Batik Kedu itu musnah ditelan jaman, kemunculan Batik Mbako diharapkan akan memberikan brand image baru dalam pengembangan batik negeri tercinta ini khususnya di wilayah perkebunan tembakau. Selain meluas dengan istilah Batik Mbako, batik ini juga dikenal dengan istilah Batik motif Temanggungan.[