Sepasang Pencinta Kretek di Negeri Kincir Angin

rokok
rokok

Daun-daun maple beterbangan. Warnanya merah keemasan. Semuanya tampak jelas dari balik jendela perpustakaan Koninklijke Bibliotheek. Aku baru saja meraih sebuah DVD. Judulnya, ‘the girl in a café’. Aku tertarik dengan judulnya. Kata café dalam judul itu mengingatkanku pada sebuah kampung.

Kampungku jauh di pedalaman Pulau Sulawesi. Aku ingat, kau menyebut pulauku “a funny island.” Hari itu, saat pertama kali kita berkenalan di perpustakaan kampus. Mungkin karena asing dengan kata Sulawesi lantas kau memintaku membuka Google Earth. Kamu hanya tahu kalau Indonesia itu hanya Bali, dan seolah-olah Indonesia hanya memiliki satu pulau, pulau Bali.

Aku meraih tikus nirkabel ku dan membawa kursor ke desktop, mengklik ikon shortcut Google Earth dan memutar bola dunia ke kepulauan Indonesia. Aku melihatmu sekilas dan pandangannmu tertuju ke kepulauan nusantara yang membesar dengan kecepatan nyaris secepat se-klik-an jari telunjuk kananku menekan tuts bagian kiri. aku menunjuk pulau Sulawesi yang serupa huruf K dan kau mulai tertawa, dan bilang kalau pulauku bentuknya lucu.

“Kampungku ada di tengah pulau ini.” Aku memandangmu dan kau hanya mengangguk.

This is the mountain of Latimojong and I am living here.” Kamu Cuma bilang, nice dan masih mengangguk-angguk lucu. Rambut pirangmu yang bergelombang dan kulit pipimu yang putih bersih degan rona merah jambu membuatku bergumam dalam hati. “hm, aku benar-benar bersama cewek bule sekarang.”

“Pengetahuanmu tentang geografi negeriku memang payah.” Kataku padamu. “Let I tell you about other islands.” Dan kau mengangguk dan bilang, “sure.”

Kejadian itu sudah setahun yang lalu. Sejak perbincangan itu, kami kerap ke café. Ya, kami sama-sama penikmat kopi dan kota Den Haag penuh dengan kedai kopi di pinggir jalan atau yang trotoarnya di penuhi sepasang meja dan kursi. Kami selalu memilih sebuah meja yang hanya diapit dua kursi yang saling berhadapan.

“Jadi ini kopi Toraja?” Katamu saat pertama kali kita pergi ke café dan memesan kopi Toraja. “This is a very Strong coffee,” katamu usai menghirupnya sambil menatapku dengan sepasang mata jenakamu. Aku mencoba meresapi rasanya setelah seruputan pertama. Aku tak begitu yakin dengan kopi ini. Kopi ini bukan sekedar kental. Ia juga berserat dengan aroma rempah yang khas negeri tropis.

“Aku tahu aroma kopi Toraja, dan aku begitu yakin ini bukan kopi Toraja. Mungkin salah satu bagian di jazirah tengah pulau Sulawesi, tapi bukan Toraja. Penamaannya sebagai Toraja pastilah sekedar pertimbangan nama itu lebih marketable ketimbang lainnya.

Aku hidup sepanjang masa kecil dan remajaku di kampung. Jemariku amat terbiasa dengan butiran kopi. Mulai dari menanam, memetik, mengupas, menjemur, menyangrai, menumbuk hingga meracik dan memasaknya. Hidungku serupa jemariku, lidahku dan rangsangan di otakku dan detak jantungku sekaitan dengan bijih kopi. Aku adalah anak petani kopi yang lahir dari masyarakat berbudaya kopi.

Tapi perbincangan itu serupa asap dari kretekku. Melesap tak lama setelah diembuskan.

Melihat asap kretek mengepul dari mulutku kau pun membauinya berusaha menangkap aroma tembakau Srintil asal Temanggung dan bunga cengkeh dari kepulan asap itu.

Jika sudah membauinya, kau lantas menyalakan sebatang rokokmu. Oh tidak, kini kau tak merokok lagi. Kini kau mengkretek.

Aku ingat, suatu siang saat kita keluar dari ruang kelas untuk rehat sejenak sambil menunggu waktu mata kuliah rural livelihood and global change tiba. Di anak tangga kampus yang menghadap kanal, kamu tersadar kehabisan batang-batang rokok putihmu dan aku menawarkan kretek yang sengaja kubawa dari Indonesia. Lalu kaupun mencoba sebatang kretekku.

Kau mengeluarkan korek kayu made in Holland dari dalam tasmu. Mengambil sebatang kayu api itu menggeseknya di sisi kiri kotaknya. Begitu lidah api menjilat ujung kretek itu, kau menghisapnya dalam-dalam. Kau hampir saja terbatuk-batuk merasakan kerasnya aromanya. Ada suara gemeretak yang mampir di telingamu dan spontan kau terkejut nyaris berteriak, “what a funny voice!” Katamu tertawa heran.

“Itu suara bunga cengkeh kering terbakar. Itulah kenapa kami menyebutnya ‘kretek’. Yah karena suara itu. Rokok putihmu hanya tembakau dengan sedikit campuran daun mint. Sehingga suara daun tembakau terbakar lebih senyap nyaris tanpa suara.

Rupanya kau menyukainya. Amat menyukainya. Aromanya eksotik katamu. Lalu kau putuskan mengganti rokok putihmu dan beralih ke kretek. Membuatmu sedikit kesal mengingat harganya di toko tiga kali lipat dari harga rokokmu. Jika ke toko kau selalu menunjuk ke lemari kaca yang terkunci dan berkata, “Indonesian cigarette!

Suatu hari di musim dingin, saat jalan dan taman di penuhi putih salju yang saling berjatuhan dari lautan awan putih di angkasa yang kontras dengan siluet hitam pepohonan yang telanjang tanpa dedaunan rindang. Kita duduk berhadapan di coffee lounge kampus. Kau menemaniku mengerjakan sebuah paper yang ditugaskan oleh Professor Des Gasper pada mata kuliah yang kita ambil bersama. Saat itu aku sedang menyelesaikan makalah tentang perseteruan kelompok seputar penerapan Syariat Islam di Bulukumba.

Sebuah headset berwarna putih menempel di kedua daun telingamu yang berbulu halus. Dari jenjang lehermu aku merasakan aroma melati menyeruak menyamankan perasaanku. Kamu melirik paper yang baru saja kucetak dari mata kuliah yang lain dan siap kukumpul di akhir menit pukul lima sore ini.

Kamu mengeja judulnya, “Kretek War: An overview on the political economy perspective” dan buru-buru meraihnya. Aku tahu kau begitu tertarik dengan judul itu dan ingin membacanya. Aku membiarkan kau meraihnya dan mengulum senyum tanpa mengalihkan pandang dari layar laptopku.

Suasana di coffee lounge kampus ISS sunyi sekian menit tanpa suaramu. Kau tenggelam dalam bacaanmu tentang ‘Perang kretek’.

Saat itu, nyaris seluruh lembar saham PT HM Saempoerna sudah beralih ke tangan pengusaha rokok putih raksasa, ‘Philip Morris’ milik pengusaha asal Amerika Serikat. Sebuah peralihan yang menyakitkan. Walau aku tak punya sedikitpun keterkaitan dengan perusahaan kretek itu, miris rasanya menyadari hajat hidup orang banyak ini beralih ke tangan orang asing. Pemilik Sampoerna memang seorang Tionghoa dari Kudus. Tapi walau ia seorang Tionghoa, dia berkebangsaan Indonesia.

This is a very argumentative paper, iqbal.” Kamu berkata sambil mengacungkan lembaran artikel itu dengan tangan kirimu.

So, what do you think, Anja? Is it make sense?” ujarku menyembunyikan bangga atas pujiannya barusan.

Lah iyalah!” Katamu kemudian.

Caramu membuka pikiran orang mengenai isu-isu penting dibalik gerakan anti-tembakau benar-benar membuka pikiranku. Aku baru tahu kalau ternyata tembakau itu ada berbagai macam dengan segala kandungan tar dan nikotin yang berbeda antara tanah yang satu dengan tanah yang lain. Bahkan caramu mengurai aspek kesejarahannya sudah cukup meyakinkanku bahwa kualitas tembakau sangat ditentukan dengan kualitas tanahnya. Saat itu kau menyebut beberapa daerah dengan akses yang lucu: Jemberw, Madurwa, Soppeeng, Lombouk. Aku tersenyum geli dan kau tak menyadarinya.

Sayangnya, kandungan tarnya memang jauh lebih tinggi dari yang ditentukan oleh Organisasi Kesehatan Dunia.

It is not WHO actually,” kataku, “tapi para pengusaha rokok putih itu yang mengaturnya. Mereka memproduksi rokok putih dengan tembakau Virginia yang tarnya rendah, jadi dengan mengglobalkan aturan soal kandungan tar, maka akan banyak negara meninggalkan tembakau lokalnya dan mengimpor tembakau AS kalau mau memproduksi rokok.”

Lanjutku lagi, “i am not really believes WHO, Anja,” kataku pelan.

One of its founder said that in WHO is only 10% doing Health, the rest is Politics!” kamu tertawa mendengar kesinisanku.

Rupanya dia menangkap di mana pikiranku berdiri dan berpihak.

Indonesian Tobacco tar contains higher than Virginia tobacco. So if the Framework Convention on Tobacco Control regulates cigarette tar according to Virginia tobacco less than 10 milligrams then the Kretek will end up. Raw materials of Kretek are containing no less than 96 percent of local raw materials planted by farmers. Then slowly farmers will become proletariats” Dia mengemukakannya sambil membaca satu kalimat dalam artikelku.

So, Kretek is the real Indonesia, Iqbal. That’s why you put the title here is the Kretek War!

Ya, dan jangan kau lupakan cengkehnya, kataku pada Anja. Cengkeh adalah tanaman endemik kepulauan Maluku Anja. Aku hampir saja bercerita tentang sejarah penjajahan atas nama cengkeh kepadanya. Tapi aku urungkan niat itu karena hanya akan membosankan Anja saja.

Aku lalu menceritakan tentang satu kampung di Minahasa. Namanya desa Masarang. Setiap panen raya cengkeh. Kampung ini nyaris kosong. 80 persen penduduknya pergi bekerja sebagai pemetik bunga cengkeh. Orang Minahasa menyebutnya tukang bapete cingke. Mereka pergi berkelompok-kelompok. Besarannya antar 20 – 40 orang perkelompoknya. Kampung mereka terletak di dataran tinggi di mana cengkeh tidak dapat berbunga dengan baik. Jadilah mereka pekerja pemetik bunga cengkeh. Di lahan-lahan perkebunan cengkeh yang luas mereka akan bertemu dengan keluarga-kelurga lain dari berbagai negeri. Ada yang berasal dari Kepulauan Sangihe dan Talaud, dan ada pula dari kepulauan Halmahera. Bahkan, banyak mahasiswa Universitas Sam Ratulangi di kota Manado datang mengais rezeki di bulan panen yang singkat. Mata rantai industri kretek ini teramat panjang Anja, begitu banyak orang bergantung hidup darinya. Jadi ada baiknya kalau upaya pengaturan rokok ini secara global tidak berlaku di Indonesia.

Anja menangkap emosi dari kalimatku yang meletup-letup. Untuk menenangkan diri aku berupaya menggodanya.

By the way, you are a part of Indonesia, Anja.” Aku menatapnya pura-pura serius.

What do you mean, Iqbal?” Ia menatapku serius. Tapi aku tak menemukan ketajaman matanya, aku lagi-lagi menangkap bola mata jenaka itu.

Remember, Anja. You smoke kretek and you drink Toraja coffee. Your lung and your brain are containing full of Indonesian agricultural commodities.” aku tertawa menggodanya. Tapi rupanya ia senang disebut bagian dari Indonesia. Ia menawarkan mengkretek di luar. Scarf hijau muda tebal melilitnya seolah ular piton sedang meringkuk tidur. Aku merogoh kantung tas punggungku. Meraih sebungkus kretek dan sebuah korek kayu. Kami meninggalkan tas dan laptop itu di meja dan melangkah ke luar gedung. Begitu pintu kampus ini ku tarik, angin musim dingin menyergap tubuh kami berdua.

Ia seorang gadis Belanda yang tak begitu mengenal Indonesia. Ia bahkan tak begitu tahu atau tak mau tahu bagaimana nenek moyangnya dulu menjajah nenek moyangku. Tapi toh aku juga tak peduli. Masa lalu itu bukanlah masa laluku. Bukan pula masa lalunya. Aku hidup di masa yang mungkin jauh lebih kejam dari masa kelam kolonialisme. Aku tumbuh di masa penguasa terkuat Indonesia pasca kolonialisme Belanda, yaitu masa kolonialisme yang dibangun oleh the smiling general, Soeharto.

Dalam himpitan otoritarianisme rezim orde baru yang dibangun sang jenderal, kami yang mahasiswa saat itu memburu atau diburu, mencemari atau dicemari, menghilang atau dihilangkan. Kami berburu bacaan radikal dan anti kemapanan yang diedarkan secara diam-diam oleh entah siapa. Kami mencerna bacaan itu, mendiskusikannya sesama teman di koridor kampus, dan lalu mereproduksinya menjadi majalah dinding, pamphlet, atau koran kampus. Aku sendiri mencatatkan hari-hari di awal tahun 1998 itu dalam buku harianku.

Tapi sial, suatu hari di tahun 2002, hujan jatuh deras sekali dan air tergenang setinggi dada orang dewasa sekian jam. Aku tak di rumah saat itu dan 4 buku harianku selama kuliah membengkak dan huruf-hurufnya melesap atau membercak. Masa-masa pergerakan kalendestin atau ‘bawah tanah’ itupun tinggal menjadi kenangan yang satu persatu mulai terlupakan. Sesuatu yang tak kulupakan adalah kalimat Foucault bahwa ‘kekuasaan selalu melahirkan anti kekuasaan’. Dan kalimat itu benar adanya. Anti kekuasaan yang kami bangun berbulan-bulan di lokus masing-masing membawa kejatuhan rezim diktator ini. Walaupun aku tak begitu bangga, mengingat sang pemburu sudah cukup uzur saat itu. Keuzuran membawa orang pada kebijakan.

Kami menyalakan kretek bersama. Ia mengisap kretek berfilter dan aku memilih yang tak berfilter. Kretekku dikerjakan dengan tangan oleh perusahaan kretek kelas menengah yang tak diproduksi massal dan ia memilih kretek yang pembuatannya sudah melalui mekanisasi pabrik. Soal cita rasa, tentu nyaris sama. Aroma cengkeh dan aroma ekstrak buah-buah tertentu yang diracik dengan takaran saus tertentu.

Aku memberitahukan kepada Anja kalau akhir tahun lalu, pemerintah baru saja mengeluarkan Peraturan tentang pengamanan bahan yang mengandung zat adiktif berupa produk tembakau. Rupanya genderang perang kembali ditabuh.

Aku melepaskan asap kretek dengan sekali hembusan. Pandangan Anja menengadah menembus angkasa putih. Asap kretek dari mulutnya nyaris tak tampak karena tersapu putih awan yang menggumpal serupa kapas-kapas raksasa.

Petani-petani tembakau juga sudah keluar dari kebun mereka. Mereka memenuhi jalan-jalan raya Jakarta. Meneriakkan kebencian pada elit politik yang dungu memahami nasib petani. Mereka menolak peraturan yang tunduk pada kemauan dunia tapi merugikan keluarga petani. Para ahli hukum menertawai aturan yang dipaksakan ini. Orang-orang bertanya, mengapa hanya tembakau? Mengapa hanya tembakau? Pemerintah yang bodoh menjawab, kami tak melarang petani menanam tembakau. Hak setiap petani menanam apa yang mereka ingin tanam. Tapi kesehatan orang banyak juga penting.

Aku menatap Anja. Ia balas menatapku. Ia tahu, jarak sejauh 16 jam perjalanan menjadi kendala aku hadir di tengah petani-petani yang gelisah dan marah itu. Aku juga memahami keterbatasan diri ini. Ia menggenggam jemariku yang terbungkus sarung tangan berwarna kelabu.

I’ll be with you, here,” ia mengucapkannya tanpa menatapku. Aku menoleh kepadanya. Ia tetap tak memalingkan wajahnya. Dua jari yang mengapit sebatang kreteknya mendekati bibirnya yang basah oleh sapuan lip-gloss. Aku membalas meremas lembut jemarinya. Aku tiba-tiba merasa hangat di suhu 5 derajat celcius ini. aku menengadah juga pada akhirnya. Mengisap kretekku sekali lagi dan menghembuskan bulatan-bulatan yang kuharap menjelma menjadi tanda-tanda hati berwarna putih. Ia menatap bulatan-bulatan yang berkejaran itu dan melakukan hal yang sama. Kami tersenyum bersama sambil tetap saling menggenggam jemari yang mulai menghangat