Tanpa Rokok, 4 Tradisi Lokal Ini Jadi Kurang Afdol

rokok di gelas selamatan
rokok di gelas selamatan

Bagi sebagian orang, merokok adalah aktivitas merugikan, setidaknya dari aspek ekonomi.  Membelanjakan uang untuk rokok sama saja membeli barang atau benda yang tidak berguna. Karena itulah membeli rokok adalah pemborosan. Kemudian, secara lantang dan seringkali bernada nyiyir, meraka mengatakan, jika saja uang yang dipergunakan untuk konsumsi rokok itu disimpan, niscaya, dengan hitungan matematis yang pasti, dalam jangka waktu tertentu jumlahnya itu bisa mencapai angka yang setara dengan harga rumah mewah.  Sayang, faktanya mereka yang bilang demikian, masih hidup tenang dengan menumpang di rumah mertua.

Namun, buat sebagian yang lain, rokok bukan semata-mata urusan matematis. Rokok tak sekedar benda berbentuk selinder berisi tembakau berbalut papir yang dibeli lantas dikonsumsi. Tetapi, rokok mempunyai keistimewaan tersendiri. Ada nilai-nilai yang terkandung dalam tiap batang rokok yang mungkin tidak bisa dipahami oleh orang yang tidak merokok .

Bahkan, dalam entitas budaya tertentu rokok dianggap simbol kaya makna. Ia sering diposisikan sebagai barang yang melambangkan nilai-nilai luhur, seperti nilai religiusitas, kebersamaan, pertemanan dan penghormatan. Karenanya, jangan heran jika rokok sering dijumpai dalam berbagai kegiatan, upacara atau ritus tertentu dalam tradisi masyarakat. Berikut adalah tradisi masyarakat lokal yang menjadi kurang afdol jika tidak meyertakan rokok:

Sajen Bucalan

 1.      Sajen

Kata sajen tentu sudah akrab ditelinga masyarakat indonesia. Ia adalah hidangan yang disediakan sebagai syarat dalam ritus-ritus adat. Kehadiran sajen dalam upacara adat tidak bisa diabaikan.  Hal itu bukan karena sajen telah menjadi tradisi mapan tetapi lebih karena makna-makna yang terkandung di dalamnya.

Masing-masing bahan atau ubo rampe dalam sajen memiliki makna tersendiri. Wujud sajen juga berbeda satu sama lain menyesuaikan dengan ritus adat. Tapi umumnya, sajen terdiri dari beragam makanan.

Namun, ada beberapa sajen yang mensyaratkan bahan selain makanan, seperti rokok sebagai ubo rampe. Misalnya sajen bucalan yaitu sesaji yang dipersembahkan kepada roh jahat yang menurut kepercayaan nenek moyang sering mengganggu ketentraman kita. Ini melambangkan kehidupan damai antarsesama makhluk.

(Ilustrasi)

  2.      Undangan

Umumnya, undangan acara pesta, baik itu pernikahan maupun khitanan, kepada famili dan kerabat disampaikan melalui surat undangan. Bahkan, belakangan, seiring kemajuan teknologi komunikasi, undangan pesta biasa dikirim melalui email, Facebook, atau via BBM atau SMS. Bagi generasi melek teknologi atau sering disebut generasi gadjet undangan pesta atau di beberapa daerah di indonesia populer dengan istilah ulem-ulem dengan memanfaatkan teknologi seperti di atas adalah lumrah dan mungkin bukan hal yang patut dipersoalkan.

Namun, jangan sekali-kali Anda mempraktekan hal tersebut kepada orang-orang yang masih memegang teguh nilai-nilai tradisi dan prinsip-prinsip adat. Bukannya menyambut niat baik kita, orang tersebut bisa jadi malah marah dan dongkol. Sebab, menurut tradisi yang mereka percayai, sebaiknya undangan disampaikan secara face to face kepada pihak terkait sebagai bentuk penghormatan.

Tidak sedikit komunitas masyarakat di Indonesia yang masih melestarikan, menjaga dan mempraktekan pandangan tersebut. Uniknya, beberapa dari mereka mempunyai kekhasan tersendiri. Ulem-ulem tidak hanya datang, ketemu dan menyampaikan undangan tetapi juga memberikan sesuatu barang sebagai simbolisasi undangan. Benda yang diberikan bisa bermacam-macam, salah satunya adalah rokok.

Beberapa komunitas masyarakat daerah yang memanfaatkan rokok sebagai media undangan adalah masyarakat Kraksaan Kabubaten probolinggo. Orang sekitar menyebut tradisi tersebut dengan istilah pecotan. Hal serupa juga dilakukan oleh masyarakat Batang Selatan, Jawa Tengah yang mengganti kartu undangan dengan shampoo dan rokok.

Hal itu tidak hanya dilakukan oleh penduduk di pulau jawa, di Sumatra Barat, orang minang juga mempunyai tradisi sama. Orang minang mengenal tradisi ulem-ulem dengan rokok dengan istilah Manyiriah. Sayang, akhir-akhir ini tradisi manyiriah dengan memberikan rokok terancam punah. Terutama di daerah yang berada di bawah pemerintahan Padang Panjang. Hal itu terkait pengesahan peraturan daerah (Perda) nomor 8 tahun 2009  dan Peraturan Walikota nomor 10 tahun 2009 tentang kawasan tertib rokok dan larangan merokok ditempat-tempat tertentu.

Ritus tukar cincin mempelai laki-laki dan perempuan dalam prosesi pernikahan adat suku Talang Mamak

 3.      Pernikahan

Ritus tukar cincin mempelai laki-laki dan perempuan dalam prosesi pernikahan adat suku Talang Mamak. Menikah adalah sesuatu yang sakral. Agaknya, semua entitas budaya yang ada di Nusantara sepakat dengan pernyataan tersebut. Bukti bahwa mereka setuju dengan hal itu adalah  adanya syarat-syarat tertentu yang harus dijalani, baik dari pihak calon mempelai putra maupun putri  jauh sebelum mereka melangsungkan acara pernikahan. Bahkan, ketika prosesi akad nikah, calon mempelai harus mengikuti ritus-ritus tertentu yang terbilang saklek.

Ritual di setiap daerah pasti berbeda-beda. Namun, justru dalam keberagaman ritus-ritus itulah tergambar kekayaan nilai-nilai budaya yang luhur yang dimiliki masyarakat nusantara. Bisa jadi apa yang kita lihat di suatu daerah adalah aneh menurut pandangan kita, tapi bukan berarti kegiatan itu meaningless bagi mereka.

Sebagai contoh bisa disebut di sini adalah salah satu ritus saling tukar rokok antara calon mempelai laki-laki dan perempuan dalam tradisi pernikahan Suku Talang Mamak yang tinggal di kawasan Sungai Tunu di tanah keramat Rimba Puaka Talang Durian Cacar, Kabupaten Indragiri Hulu, Riau.

Tradisi yang hampir sama juga ditemukan dalam upacara pernikahan suku biak di kabupaten Biak Numfor, Papua. Bedanya, calon mempelai tidak saling tukar rokok, tapi justru rokok itu dihisap. Dalam tradisi Suku Biak upacara dipimpin Mananwir atau kepala adat. Seorang menanwir akan menyalakan sebatang rokok dan kemudian memberikan kepada mempelai pria dan wanita untuk dihisap.

Rokok gelas

 4.      Selamatan

Acara Selamatan merupakan salah satu wujud sinkretisme budaya yang dilakukan nenek moyang kita sekaligus menjadi bukti kegeniusan mereka dalam proses akulturasi budaya. Acara Selamatan merupakam manifestasi rasa syukur kepada sang pencipta. Selamatan juga dapat dipahami sebagai ekspresi kesadaran diri seorang hamba akan kelemahannya menghadapi kekuasan adi manusia.

Selamatan digelar untuk merayakan berbagai macam peristiwa dan kejadian dalam kehidupan, seperti kelahiran, pernikahan, pindah rumah, dan sebagainya. Namun, inti dari acara ini adalah doa bersama.  Ketika ingin mengadakan selamatan, sohibul hajat akan mengundang para kerabat dan tetangga. Kemudian, sebagai bentuk penghormatan kepada orang yang hadir, tuan rumah menyediakan hidangan. Biasanya berupa nasi tumpeng. Namun, belakangan menu makanan lain sering menjadi pengganti nasi tumpeng.

Yang unik dari tradisi ini adalah ketika semua hadirin telah selesei menyantap hidangan tuan rumah akan menghampiri satu persatu para tamu untuk memberikan rokok. Jika tidak dibagikan, rokok dimasukan di dalam gelas yang diletakkan di beberapa tempat. Dengan begitu, para tamu yang merokok bisa mengambil dan langsung menikmati rokoknya.[]