4 Perusahaan Rokok Raksasa Dunia

Industri tembakau adalah bisnis yang menawarkan keuntungan yang sangat menggiurkan. Pada tahun 2009 saja, secara keseluruhan pasar tembakau dunia bernilai sekitar 614 milyar dollar AS. Sehingga, tidak mengerankan jika banyak perusahaan ingin menjadi pemain utama dalam bisnis tersebut.

Salah satunya adalah National China Tobacco Corporation, perusahaan rokok milik negara yang didirikan pemerintah Cina pada tahun 1982. Perusahaan ini bertanggung jawab mengurusi dan mengontrol masalah staf, keuangan, properti, produk, pasokan, distribusi, dan perdagangan produk tembakau di dalam dan luar negeri. Melalui kebijakan monopoli tembakau di dalam negeri dan besarnya jumlah perokok di Cina yang mencapai 300 juta jiwa, perusahaan tersebut berhasil menguasai  40 persen dari total pasar tembakau dunia.

Namun, selain di Cina, persaingan pasar tembakau, terutama produk rokok, masih menjadi monopoli industri rokok multinasional bermodal besar.  Bahkan, tak jarang perebutan pasar rokok tersebut berujung pada matinya industri-industri rokok nasional di berbagai negara. Berikut adalah empat perusahaan  rokok raksasa yang menguasai pasar rokok dunia:

1. Philip Morris International

Philip Morris International atau PMI berdiri sejak tahun 18 47.  Philip Morris merupakan perusahaan keluarga di Bond Street, London.  Mereka menjual produk tembakau dan rokok siap pakai.

Setelah, Morris meninggal, perusahaan diambil alih oleh istrinya, Margaret dan Leopold, saudara Morris.  Pada tahun 1881, perusahaan ini  mulai go public.  Leopold Morris bergabung dengan Joseph Grunebaum dan membuat Philip Morris & Company and Grunebaum, Ltd.

Sejak saat itu, PMI terus berkembang dan menjadi korporasi bisnis rokok terkemuka di dunia. Berbagai produk Philip Morris International dipasarkan di hampir 200 negara di dunia.

Keberhasilan PMI tersebut tidak lepas dari kesuksesan perusahaan dalam rangka mengakuisisi perusahaan rokok nasional di berbagai negara, tak terkecuali Indonesia. Pada tahun 2005, melalui PT. Philip Morris Indonesia, mereka membeli 40% saham PT. HM Sampoerna. Ini berarti telah menguasai hampir semua saham di PT HM Sampoerna dengan kepemilikan saham sebesar 97%.

2. British American Tobacco

Perusahaan ini disebut-sebut sebagai korporasi bisnis rokok terbesar kedua di dunia. British American Tobacco atau yang akrab disebut BAT ini merupakan bisnis patungan antara Inggris Imperial Tobacco Company dan American Tobacco Company yang berdiri sejak tahun 1902.

Menurut pengakuan yang dilansir di laman http://www.bat.com, pada  tahun 2011, BAT telah menjual 705 miliar rokok.

Hingga saat ini, BAT memiliki 46 pabrik rokok yang tersebar di berbagai negara. Tahun 2009 mereka berhasil mengakuisisi perusahaan Bentoel, sebuah perusahaan rokok kretek terbesar keempat Indonesia, senilai 580 juta dollar AS.

3. Japan Tobacco International

JTI atau  Japan Tobacco International terbentuk pada tahun 1999 ketika Japan Tobacco Inc (JT), perusahaan  induk, membeli unit-unit operasional tembakau milik perusahaan multinasional R.J. Reynolds yang bermarkas di AS. Untuk akuisisi tersebut JT telah menggelontorkan 7,8 milyar dollar amerika.

Pada tahun 2007, JTI juga mengakuisisi Gallaher, perusahaan yang terdaftar di FTSE 100, indeks saham dari 100 perusahaan yang terdaftar di London Stock Exchange dengan kapitalisasi pasar tertinggi, senilai GBP 9,4 milyar. Mereka mengklaim, seperti ditulis www.jti.com, akuisisi tersebut merupakan akuisisi asing terbesar oleh perusahaan Jepang.

JTI telah memiliki 29 pabrik rokok dan 89 kantor perwakilan yang tersebar di seluruh dunia dengan jumlah tenaga kerja mencapai 25.000 orang.

4. Imperial Tobacco

Bisnis yang dibentuk pada Desember tahun 1901 adalah salah satu dari perusahaan rokok multinasional terbesar dunia. Sejak 1996, Imperial Tobacco Group PLC telah mencatatkan diri sebagai perusahaan dengan kapitalisasi pasar tertinggi di London Stock Exchange.

Perusahaan mempunyai 51 perusahaan di berbagai wilayah di dunia dan telah memasarkan produknya di lebih dari 160 negara.  Pada tahun 2009, seperti ditulis oleh Salamudin Daeng dkk. dalam Kriminalisasi Berujung Monopoli memperoleh nilai penjualan sebesar 26, 517 juta dollar Amerika.

(Visited 1,277 times, 15 visits today)

Komentar

komentar

Categories: Ragam

Tags: ,