Nama-nama Industri Kretek Nasional

Kretek Ekonomi Bangsa
Kretek Ekonomi Bangsa

Industri kretek di Indonesia telah melalui perjalanan panjang. Berawal dari usaha rumah tangga, industri kretek terus tumbuh dalam skala usaha yang lebih besar, pola pemasaran yang canggih, dan pola produksi yang mutakhir. Layaknya sebuah usaha, tentu ada persaingan dan kompetisi menjadi yang terbaik. Dalam catatan Mark Hanusz, dari 600 perusahaan rokok yang berkembang di Indonesia, hanya beberapa saja yang masih bertahan hingga saat ini. Era 1900-an menjadi tahun emas pertumbuhan industri kretek di Indonesia. Beberapa diantaranya masih bertahan hingga sekarang. Bahkan, beberapa diantaranya menjadi unggulan di kelasnya. Untuk dapat melihat dinamika dan persaingan pada masa itu, berikut nama-nama industry yang menjadi pemain kala itu:

1.     NV Bal Tiga Nitisemito (1908)

Beberapa tahun sepeninggal Haji Jamahri, seorag warga Kudus bernama Nitisemito berpikir untuk memasarkan rokok kretek secara masal. Idenya adalah waktu itu belum ada rokok kretek yang memiliki nama merek. Ide brilianya itu diilhami dari pengamatan pasar ketika ia memasarkan rokok buatannya.

Awalnya, Nitisemito muncul dengan ide Kodol Mangan Ulo. Saya, idenya ini tidak mendapat respon positif dari konsumen. Ia pun beralih nama menjadi Bulatan Tiga, sebelum mengubahnaya lagi menjadi Tiga Bola, hingga akkhirnya memutuskan untuk memakai nama Bal Tiga. Produksi pertama dimulai pada 1906 dengan kategori rokok terbatas pada jenis klobot kretek. Kemudian, pada 1908 perusahannya didaftarkan dengan nama NV Bal Tiga Nitisemito. Nama Nitisemito dikenal bukan hanya karena ia seorang pionir industri rokok kretek di Indonesia, tetapi juga strategi pemasaran yang kreatif dan mengilhami banyak perusahaan sejenis. Bahkan, Nitisemito, menjadi orang Indonesia pertama yang tidak pernah mendapatkan pendidikan forman tetapi mampu mempekerjakan orang asing yaki H.J Voren dan Poolman, kedanya akuntan berkebangsaan Belanda. Oleh Sejarawan ia dianugerahi “Bapak Kretek Indonesia”.

2.     Goenoeng & Klapa (1913)

Pada 1913 berdiri sebuah pabrik rokok di Kudus bernama Goenoeng & Klapa yang berarti gunung dan kelapa. Didirikan oleh Mohamed Atmowijoyo. Ia hanya memproduksi klobot, kebalikan dari perusahaan lain yang memiliki produk yang beragam. Perusahaan ini mempertahankan apa yang sudah ditinggalkan perusahaan-perusajaan rokok. Ia, bahkan masih menggunakan tali pengikat rokok yang tertinggal dari teknologi pembungkus yang berkembang.

Satu hal lagi yang kontroversial ialah resep saus perusahaan dipajang pada dinding pabrik. Saat ini, karyawan Goenoeng & Klapa berjumlah 35 orang dengan produk yang hanya dikenal terbatas di wilayah Kudus. Harga rokoknya pun berbeda jauh disbanding merek lain. Perusahaan ini sekarang dipimpin oleh generasi keempat.

3.     Nojorono (1932)

Perusahaan Nojorono memproduksi merek terkenal Minak Djinggo, nama tokok dalam pewayangan Jawa. Beberapa nama yang mungkin belum pernah kita dengar sebelumnya: Astrokoro, 555, dan Kaki Tiga. Hal ini mungkin disebabkan karena ketiganya diproduksi oleh trio, nama perusahaan awal sebelum berubah nama menjadi Nojorono.

Berbeda dengan perusahaan lain yang umumnya dikuasai oleh satu keluarga secara turun temurun, Nojorono dikendalikan secara kolektif oleh lima keluarga sekaligus. Awalnya adalah Tjoa Kang hay, yang pernah bekerja untuk Nitisemito, mengajak saudaranya, Tan Tjiep, Siang dan Tan Kong Ping untuk mendirikan Trio. Setelah itu, Kang Hay mencari rekan baru dari Kudus, yakni Ko Djie Siong dan Tan Djing Dhay untuk mendirikan Nojorono.

Didirikan pada 1932, inovasi terbesar Nojorono selama ini adala rokok tahan air. Nojorono juga memagang hak paten atas temuannya ini. Hal tersebut dimungkinkan karena parafin dalam proses produksi rokok. Karena keunggulannya ini, rokok produksi Nojorono populer di kalangan pelaut dan nelayan.

4.     Bentoel (1931)

Dikisahkan, pada suatu malam di Gunung Kawi, dihadapan makan Mbah Djugo, Hok Liong mendapatkan mimpi bertemu penjual bentoel. Setelah mengonsultasikannya dengan juru makan, Ong akhirnya memutuskan untuk menggunakan nama bentoel sebagai nama mereknya. Segera setelah diluncurkan di Malang, merek ini mendapat sambutan luar biasa.

Semenjak tiba di Malang pada 1910, Ong  langsung terjun ke bisnis tembakau dan rokok. Nama perusahannya waktu itu adalah Strootjesfabrieks Ong Hok Liong. Awalnya, ia bergerak di kategori klobot di bawah merek Burung. Perlahan ia melahirkan kategori lain dengan meluncurkan merek Tresna, Rawit, dan Spesial.

5.     Djambu Bol (1937)

Berdiri sebelum kemerdekaan, pabrik rokok Jambu Bol sempat terhenti ketika Jepang menginvasi Indonesia pada 1942. Perusahaan ini menemukan pijakannya kembali pada 1949 dengan memproduksi kretek paper wrapped, sebagai pengganti jenis klobot yang dipoduksinya sejak awal.

Berbeda dengan perusahaan lain yang dimiliki oleh warga keturunan Cina, Djambu Bol merupakan perusahaan pribumi terbesar di Indonesia yang pernah tercatat dalam sejarah. Pendirinya bernama Haji Roesyadi Ma’roef seorang warga Kudus. Djambu Bol berkosentrasi pada pemasaran di luar jawa, terutama wilayah Sumatera Utara dan Lampung  yang mencapai 95 persen dari konsumennya.

Karena persaingan yang kian ketat dan berat, membuat Djambu Bol Kudus menghentikan produksinya pada 2008.

6.     Djarum (1951) Nama aslinya, Djarum Gramophon. Pada 1951, nama tersebut diubah menjadi Drjarum oleh Oei Wie Gwan. Berbeda dengan perusahaan kretek pada umumnya, Djarum bukanlah perusahaan keluarga. Pemiliknya yang sekarang tidak mempunyai hubungan darah sedikitpun dengan pendiri pertamanya.

Wie Gwan adalah tipikal pengusaha rokok sejati yang sealu melibatkan diri pada proses produksi, misalnya dengan mencampur sendiri tembakau dengan saus. Dua merek pertama perusahaan ini diberi nama Djarum dan Kotak Ajaib. Awalnya, hanya dipasarkan di wilayah Kudus. Setelah kedatangan Wie Gwan, pemasarannya pun diperluas hingga ke wilayah Jawa Barat dan Jawa Tengah. Setelah sempat menjadi yang terbesar pada 1967, Djarum mulai menjajal pasar luar negeri pada 1972. Langkah ini mengantarnya menjadi merek kretek paling populer di luar negeri.

Tiga merek terkenal dari Djarum ialah Djarum Filter (1976), Djarum Super (1981), dan Djarum Cigarillos. Nama yang terakhir tersebut merupakan kretek berbentuk cerutu pertama d dunia. Untuk membuatnya, Djarum belajar dari Oud Kampen Cigarillo Factory di Belanda.

7.     Gudang Garam (1958)

Dilihat dari tanggal berdirinya, gudang garam termasuk yang paling muda, yakni 26 Juni 1958. Namun, dari segi volume produksi, perusahaan ini masih dianggap sebagai yang teratas. Bahkan, untuk kategori klobot kretek, Gudang Garam merupakan pemimpin pasar. Gudang Garam didirikan oleh Tjoa Ing Hwie (Surya Wonowidjojo), seorang perantau kelahiran Cina 15 Agustus 1923.

Setibanya di Indonesia, Ing Hwie bekerja pada Cap 93, sebuah perusahaan rokok berdomisili di Jawa Timur. Pada 1956, Ing Hwie memutuskan keluar dar Cap 93 dan mendirikan perusahaan sendiri di bawah nama Indhwie. Hampir sama dengan kisah Bentoel, nama Gudang garam juga memiliki dimensi mistis. Pada suatu malan, Ing Hwie bermimpi melihat sebuah gudang yang berdiri di seberang pabrik Cap 93. Sarman, karyawan setianya, menasehatinya untuk memasang gambar gudang tersebut pada kemasan rokok produksinya. Kini, Gudang Garam dipimpin oleh anak tertua Ing Hwie, Rachman Halim. []