Donor Paru-paru Perokok Bantu Pasien Kritis

merokok budaya
merokok budaya

Paru-paru perokok sering dianggap tidak cocok sebagai organ transplantasi. Alasannya, paru-paru perokok aktif dianggap tidak sehat. Bahkan, dalam iklan-iklan larangan merokok, paru-paru perokok aktif ditunjukkan dengan gambaran yang menyeramkan; hitam dan berlubang. Akan tetapi, sebuah penelitian yang dilakukan di Rumah Sakit Harefield, London menemukan fakta lain: paru-paru perokok aktif layak sebagai organ transplantasi. Bahkan, dalam kondisi kritis, donor paru-paru dari perokok aktif sangat membantu.

Penelitian yang dilakukan sejak 2007 ini menunjukkan bahwa setengah dari total paru-paru yang disumbangkan berasal dari perokok aktif. Bahkan, penyumbang merupakan perokok yang mengonsumsi 20 batang rokok per harinya. Pasokan organ transplantasi ini ternyata cukup membantu ketersediaan organ transplantasi.

Sebagaimana dikutip Daily Mail,  Andre Simon, Direktur jantung dan transplantasi paru-paru dan konsultan ahli bedah jantung di Royal Brompton dan Harefield NHS mengungkapkan, paru-paru perokok berat dapat memberikan jalan yang berharga dalam meningkatkan ketersediaan organ donor paru-paru.

Dari penelitian ini didapatkan satu dari lima total paru-paru yang ditransplantasikan berasal dari perokok aktif. Sejak 2007 itu, 237 transplantasi paru-paru telah dilakukan dan 90 persen dari mereka melakukan transplantasi ganda. Dari total itu, 53 persen pasen mendapat paru-paru dari non perokok, 29 persen dari paru-paru perokok berat yang merokok kurang dari 20 tahun, dan 18 persen mendapatkan paru-paru dari perokok yang merokok sebanyak 20 batang atau lebih sehari selama 20 tahun.

Penelitian ini juga menganalisis perbedaan kelangsungan hidup jangka pendek dan menengah antara pasien yang diberi paru-paru dari perokok dan non-perokok. Hasilnya cukup mengejutkan. Pada tiga tahun pertama, seluruh pasien memiliki tingkat kelangsungan hidup yang sama. Bedanya, pasien yang mendapat donor dari non-perokok ternyata memiliki tingkat kelangsungan hidup jangka pendek yang lebih buruh dalam satu tahun, yakni hanya 77,7 persen. Sementara itu, pasien yang mendapatkan donor dari perokok, kelangsungan hidupnya sekitar 90,8 persen.

Andre Simon menambahkan, penelitian ini menunjukkan bahwa donor dari seseorang yang mempunyai riwayat merokok berat dapat memberikan pertolongan. Terlebih dibutuhkan pasien sakit kritis yang kemungkinan hidupnya berkurang setiap hari.

Andre percaya bahwa calon donor apabila menolak organ dari perokok akan mengurangi kesempatan untuk bertahan hidup secara signifikan. Kendati donor paru-paru berasal dari perokok berat, dokter tetap memastikan kualitas kesehatan organ serta keamanan maksimal sebelum melakukan operasi.

(Visited 287 times, 1 visits today)