Narasi Cengkeh dan Kretek

rokok kretek
rokok kretek

Cengkeh atau dalam bahasa latinnya, Syzgium aromaticum tidak bisa dipisahkan dalam kosakata kretek. Bisa dikatakan, selain tembakau, cengkeh adalah bagian terpenting dalam kretek. Dan, dari kombinasi keduanya pula muncul istilah kretek. Irisan bunga cengkeh yang dibakar mengeluarkan bunyi “kretek..kretek”. Dari sinilah, muncul istilah kretek untuk mempermudah penyebutannya. Selain itu, campuran cengkeh menjadi pembeda antara kretek dengan rokok lainnya. Sebab, kretek hanya ada di Indonesia sebagai bagian dari khasanah nusantara.

Bicara tentang kretek dan cengkeh, kita bisa merujuk pada dua pengalaman: kisah Haji Jamhari dan Haji Agus Salim. Nama Haji Jamhari populer sebagai penemu kretek pada akhir abad 19. Namanya dikenal melalui cerita tentang pengalaman eksperimentalnya mencampur irisan cengkeh dan tembakau untuk mengurangi rasa sakit di dadanya. Walhasil, sakit di bagian dada Haji Jamhari pun berangsur membaik. Kisah ini menyebar dan populer.

Juga, kisah seorang Haji Agus Salim ketika diundang dalam sebuah perjamuan di London. Kala itu, ia sedang menghadiri penobatan Ratu Elizabeth II sebagai Ratu Inggris. Di acara tersebut, Haji Agus Salim menyalakan dan menghisap kretek. Aroma yang semerbak membuat orang bertanya-tanya tentang apa yang dihisap Haji Agus Salim. Dikenal sebagai diplomat ulung yang cerdas dan mempunyai kritik tajam, Haji Agus Salim menjawab bahwa yang dihisapnya merupakan alasan bangsa Eropa menjelajah dunia dan menjajah nusantara.

Cengkeh merupakan tanaman asli Maluku (Ternate dan Tidore). Dalam perkembangannya, banyak daerah di Indonesia yang menjadi sentra perkebunan cengkeh antara lain: Jambi, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur, Maluku, NTT Papua, Riau, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, Sulawesi Utara, Sumatra Selatan, dan DI Yogyakarta. Ada tiga hal yang membuat cengkeh begitu istimewa:

1. Berperan dalam proses keindonesiaan

Sejarah Keindonesiaan ditandai oleh kolonialisme dan imprealisme. Sejarah mencatat, kemerdekaan Indonesia diproklamirkan karena kesamaan nasib dan sejarah sebagai sebuah bangsa yang terjajah. Pada abad 16, wangi rempah telah menarik perjalaan panjang bangsa Portugis, Spanyol, Inggris hingga Belanda ke Nusantara. Pada abad pertengahan, cengkeh merupakan komoditas paling dicari, selain pala dan merica.

Bahkan, harganya tidak kalah dengan emas. Dan, perjalanan mencari cengkeh dan rempah pada umumnya, membuat seorang Christopher Colombus menjelajah separuh dunia dan tersasar ke benua Amerika. Colombus mengira ia telah menjejakkan kaki di tanah Hindia yang dikenal sebagai tempat asal el picante (bumbu) yang misterius.

Kedatangan Belanda pada 23 Juni 1596 yang dipimpin Cornelis de Houtman berusaha memonopoli perdagangan cengkeh dan membatasi produksinya. Dari sinilah kekejaman bangsa Belanda dimulai. Hingga, memunculkan perlawanan masyarakat Nusantara selama ratusan tahun.

2. Kontribusi perekonomian

Selain sarat sejarah, cengkeh juga berkontribusi besar terhadap perekonomian. Menurut data Puslitbang Departemen pertanian, produksi cengkeh mencapai 100 ribu ton dengan harga yang fluktuatif antara Rp 30 ribu hingga Rp 120 ribu. Selain itu, Negara juga mendapatkan pendapatan cukai dari produksi cengkeh ini. bersama tembakau, cengkeh menyumbang cukai sebesar Rp 55 trilyun pada 2009, dan meningkat menjadi Rp 59 trilyun pada 2010. Selain sebagai produsen terbesar, Indonesia juga menjadi konsumen cengkeh terbesar melalui industri kretek. Hampir 90 persen produksi cengkeh nasional diserap oleh industri kretek. Permintaan yang besar ini membuat produksi cengkeh terus meningkat.

Tidak hanya negara, cengkeh juga menggerakkan perekonomian rakyat. Dalam catatan Ishak Salim tentang cengkeh di Minahasa, “emas coklat” ini telah menggerakan ekonomi tidak hanya pemilik kebun cengkeh tetapi juga para buruh tani (buruh baparas), pemetik, tukang cude (pemisah bunga dari tangkainya), pemungut cengkeh (tukang bapungu), penjemur, juru masak, mandor kelompok, mandor kerja, pencari ulat, sampai supir angkut. “Di Minahasa, dengan total area lahan cengkeh produktif 15,357 ha akan menyerap tenaga kerja 460,710 orang. Angka ini melebihi jumlah penduduk Minahasa,” tulisnya.

3. Rempah berkhasiat

Cengkeh juga dikenal mempunyai banyak khasiat. Selain untuk kretek, cengkeh juga digunakan sebagai bumbu penyedap masak, wewangian, kosmetik, obat-obatan berbagai jenis penyakit, hingga perangsang birahi. Cengkeh mengandung banyak zat yang bermanfaat seperti eugenin, asal oleanolat, asam galatanat, vanillin, kalsium, dan magnesium. Zat-zat tersebut terdapat dalam minyak atsiri yang berkhasiat membersihkan gigi dari bakteri dan bau mulut, meredakan mual di perut, menghilangka rasa sakit, sumber mineral, mencegah kanker, dan stroke.