Kisah Unik Dibalik Etiket Kretek

Kretek Ekonomi Bangsa
Kretek Ekonomi Bangsa

Etiket seringkali menjadi penanda utama sebuah produk. Etiket memuat informasi seputar produk, seperti nama, sifat, isi, dan asal. Namun demikian, etiket bukan semata-semata tanda pengenalan diri untuk membedakan satu produk rokok dengan produk yang lain, melainkan juga sebagai ekspresi budaya. Ada dua poin penting melihat sebuah etiket: pertama, makna-makna yang tersirat di dalamnya. Kedua, etiket juga dimaksudkan untuk menggugah kesadaran khalayak  tentang brand awareness.

Bisa dikatakan, etiket, selain merupakan karya seni rupa, ia juga mengandung konsep komunikasi visual. Termasuk di dalamnya etiket kretek. Etiket pada kretek menjadi bagian dalam perkembangan industri kretek di Indonesia. Unsur teks dan gambar dalam etiket-etiket lama relatif sederhana. Desainnya pun dibuat secara manual dengan menggunakan peralatan seperti pena, trekpen, mistar, jangka, kuas dan pensil.  Namun, demikian unsur itu tetap menunjukan cita rasa karya desain yang mewakili zamannya.

Maka tidak heran, sebagian kalangan memburu etiket kretek dan rokok sebagai koleksi berharga. Dasar yang dijadikan pertimbangan dalam menentukan teks, gambar utama, atau desain grafis pada etiket kretek tidak mudah untuk disingkap. Sebab, hal itu kerap kali berkaitan dengan subjektivitas pemiliknya. Ada beberapa kisah yang menarik dibalik etiket kretek dan rokok:

Angka dan Nama Hoki

Bagi pengusaha rokok dan kretek, nama dan gambar diyakini bakal membawa keberuntungan. Bagi pengusaha rokok dan kretek keturunan tionghoa misalnya, keyakinan demikian begitu merasuk dalam ranah kognisi dan spiritualitasnya. Contoh paling kentara dari ini adalah nama Dji Sam Soe atau 234 milik PT. H. M. Sampoerna. Jika angka tersebut dijumlahkan maka akan menghasilkan angka 9; jumlah hurufnya, gambar bintangnya pun 9.  Dalam kepercayaan masyrakat tionghoa angka 9 adalah angka keberuntungan.

Dari Mimpi dan Semedi

Konon, Bentoel adalah nama rokok yang diambil dari mimpi sang pemiliknya, Ong Hok Liong.  Mimpi tersebut terjadi ketika Ong dan istrinya pergi ke makam keramat Eyang Djugo, di lereng selatan Gunung Kawi pada tahun 1935. Di kisah lain yang ditutukan putrinya, nama itu diperoleh Ong Hok Liong dari hasil semedi di Gunung Kawi. Dalam semedinya, Ong Hok Liong bermimpi bertemu dengan penjual ubi bentoel. Setelah bertemu dengan juru kunci makam, Ong Hok Liong memutuskan memakai nama bentoel sebagai merek kreteknya.

Kisah serupa menjadi kisah dibalik nama Gudang Garam. Pendirinya, Tjoa Ing Hwie (Surya Wonowidjojo) bermimpi melihat gudang garam diseberang pabrik rokok Cap 93 tempatnya bekerja. Salah seorang karyawan kepercayaannya menasehati Ing Hwie untuk menjadikan gudang garam sebagai merek kretek produksinya.

Kata dan Gambar yang Membumi

Banyak pertimbangan yang dijadikan dasar untuk menentukan teks dan gambar etiket rokok, baik yang berkaitan dengan rokok maupun sama sekali yang tidak ada hubungannya dengan rokok.  salah satunya adalah agar lebih mendekatkan produk rokok kepada calon pembeli, seperti  istilah-istilah bahasa daerah, tokoh pewayangan, buah-buahan, atau nama lain yang dekat dengan kehidupan setempat. Nama-nama tersebut antara lain: Cap Togog, Tjap Goenoeng Kedoe, Tjap Delima, Jeruk, Kerbau, dan lain sebagainya.

cdn.kaskus.com

cdn.kaskus.com

 

Merek-merek Latah

Ada beberapa merek rokok yang nama atau logonya sengaja dibuat serupa dengan rokok lain terutama yang sudah terkenal. Hal itu banyak dilakukan oleh perusahaan rokok kecil dengan maksud mengecoh para konsumen. Fenomena semacam ini sudah terjadi sejak awal pertumbuhan industri rokok.

photobucket.com

 

Selera Zaman Konsumen Rokok

Pertimbangan lain dalam menentukan teks atau nama rokok adalah selera zaman para perokok. Sebagai contohnya adalah penggunaan bahasa asing dalam nama rokok, seper international, best deluxe dan premium.  Hal itu lantaran memperhatikan kegandrungan masyarakat akan bahasa asing. Selain itu, hal tersebut adalah upaya untuk memunculkan kesan yang lebih mentereng.