Los: Bangunan Pengeringan Tembakau di Klaten

Kalau Anda naik kereta dari Yogyakarta menuju Surakarata, Anda akan menemukan bangunan unik ketika memasuki wilayah Klaten. Bangunan ini cukup mencolok mata karena ukurannya besar dan memanjang. Suatu pemandangan yang menarik di areal persawahan yang hijau berlatarbelakang gunung Merapi dan Merababu.

Bangunan berstruktur bambu, beratap dan berdinding rampak (daun tebu kering) itulah yang disebut los. Fungsinya sebagai tempat mengeringkan tembakau setelah dipetik. Los dalam bahasa Jawa berarti luas, lega. Akar kata ini, kemungkinan besar berasal dari bahasa Belanda yang maknanya hampir sama, “ruang tanpa (banyak) penghalang”. Dalam catatan T Saraswati (2008), los sudah ada sejak jaman penjajahan Belanda atau sekitar tahun 1850-an.

Los diperkirakan ada sejak Hindia Belanda mulai menanam tembakau untuk cerutu pada pertengahan abad 19. Tembakau cerutu merupakan komoditas ekonomi yang tinggi di perdagangan dunia. Dalam konteks tembakau vorstenlanden, tembakau cerutu di Klaten tetap bertahan hingga saat ini.

Kajian Saraswati menyebut los sebagai bangunan vernakular dalam kajian arsitektural. Yang disebut dengan vernakular ialah bangunan yang dirancang dan dibangun oleh suatu masyarakat lokal dengan teknik, materi atau bahan bangunan dan merespon kondisi iklim, tradisi, serta ekonomi lokal.

Bangunan los berbentuk persegi panjang. Rata-rata ukurannya 100 meter dengan lebar 18 meter dan tinggi 12 meter. Atapnya berbentuk pelana seperti umumnya bentuk rumah penduduk dengan kemiringan 45 derajat. Letak los memanjang dari arah utara-selatan. Pengaturan letak ini untuk menghindari arah angin yang cukup kencang. Angin menjadi salah satu ancaman keberadaan los. Mengingat bahan-bahan bangunan los relatif ringan.

Di dalamnya, terdapat rentengan tembakau yang diikat dengan tali. Biasanya, dalam satu tali terdiri dari 50 lembar daun tembakau atau disebut 1 dolok. Satu los dapat memuat hingga 20.520 dolok. Di dalam los, tembakau dikeringkan dengan cara diasapi. Lama pengasapan selama 11 hari berturut-turut pada malam hari. Media pengasapan menggunakan sekam, briket, atau kayu bakar.

Los dipakai dua kali periode dalam setahun. Periode pertama antara bulan Juli-September dan periode kedua antara Desember-Maret. Lama pemakaian dalam satu kali periode cukup singkat, 23 hari. Artinya dalam satu tahun atau dua kali periode, los hanya digunakan selama 46 hari. Di luar periode itu, los diakai untuk proses pembuatan pupuk kandang. Sementara itu, los-los yang lain dibiarkan kosong. Penggantian bahan dilakukan setelah tiga tahun dengan menggunakan bahan sejenis.

(Visited 1,908 times, 1 visits today)