Sejarah Korek Api

Ketika menyebut “korek api”, bisa jadi yang terlintas di kepala kita: sebatang kayu, ber”penthol” merah di ujung, geretan pada sisi-sisi bungkusnya serta kretek. Dapat dikatakan, korek api adalah pendamping setia kretek. Apa jadinya kalau kretek tak bersanding dengan korek api. Bisa jadi, pengkretek belingsatan kesana-kemari mencari api. Suasana bisa-bisa jadi runyam.

Oh, ya mungkin tidak hanya kretek yang bersanding setia dengan korek api. Tanpa harus disebutkan satu persatu, banyak kegiatan manusia yang membutuhkan benda satu ini. Nah, kita mungkin sering menganggap enteng yang namanya korek api. Bisa jadi karena bentuknya yang mungil, harga murah meriah, dan dijual di banyak tempat. Disamping itu, muncul beragam variasi korek api dengan pemantik yang lebih mudah penggunaannya.

Korek api merupakan penemuan penting dalam sejarah peradaban manusia. Api adalah sumber kehidupan manusia selain udara, tanah, dan air. Banyak sekali usaha yang dilakukan untuk mendapatkan api. Ada dengan menggesekkan batu tertentu untuk membuat percik api atau, dengan menggesekkan kayu. Sejak 577 bangsa Tiongkok telah menggunakan potongan kayu pinus berbalut belerang untuk menyalakan api. Dalam perjalanannya, bangsa Eropa mengembangkan penemuan-penemuan lain tentang korek api.

Tercatat, penemu dan penggesek korek api pertama adalah seorang ahli obat-obatan Ingrris, John Walker pada 31 Desember 1827. Sebelum itu, ada penemuan-penemuan lain yang mengawali korek api John Walker.

Hennig Brandt atau Dr Teutonicus (1669)

Brandt adalah ahli kimia asal Hamburg, Jerman yang menemukan zat kimia, fosfor. Ia menyarikan lemak dari air seni degan merebusnya. Hasilnya, berbentuk lilin putih yang berkilauan di tempat gelap. Brandt kemudian menjual temuannya tersebut kepada Krafft seorang ahli kimia juga di Jerman yang kemudian membawanya ke berbagai Negara di Eropa.

Robert Boyle (1680)

Kisah berikutnya, Boyle mencampur fosfot dengan belerang. Namun, usahanya waktu itu belum mencapai hasil sempurnya. Boyle melapisi sepotong kertas dengan fosfor dan menggesekkanya ke kayu berlapis sulfur. Hasilnya, muncul percikan api.

John Walker dan Samuel Jones (1826)

Penemuan Boyle dikembangkan lagi oleh Walker. Ia mencampur logam putih antimony sulfide dengan zat kimia potassium chlorate, getah pohon, serta kanji. Ia menggunakan kayu untuk mencampurkan zat-zat kimia tersebut kemudian keluar api yang membakar kayu. Menariknya, Walker tidak mempatenkan penemuannya itu. Ia kemudian memamerkannya ke banyak orang. Dan, seorang ilmuwan, Samuel Jones yang menangkap peluang itu. Jones kemudian mendirikan pabrik korek api, Lucifers. Korek tersebut kemudian dipasarkan di Amerika Serikat bagian selatan dan timur.

korek temuan Walker. sumber: unikdanunik.blogspot.com
korek temuan Walker
John Walker. Sumber: penemu-ilmuwan.blogspot.com
John Walker

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Gustaf Erik Pasch (1844)Kontribusinya dalam pengembangan korek api ialah menggati fosfor kuning yang beracun dengan fosfor merah yang tidak bercun. Ia juga memisahkan ramuan bahan kimia untuk ujung korek dan meletakkan fosfor pada permukaan untuk digesek. Satu lagi pengembangan dilakukan untuk menciptakan korek api yang aman. Penemuan Pasch adalah penemuan penting dan membuat Swedia terkenal. Sayangnya, produksi temuan pasch ini masih sulit dan biaya yang dikeluarkan mahal.

Gustaf Pasch. Sumber: unikdanunik.blogspot.com
Gustaf Pasch

Alexander Lagerman (1864)

Alexander Lagerman
Alexander Lagerman

Ia dikenal sebagai penemu korek api mesin otomatis pertama. Lagerman memulai babak baru perkembangan korek api. Era manual berganti. Temuannya ini diproduksi secara masal dan diekspor ke seluruh dunia.

Perusahaan korek api Vulcan AB (1868)

Berada di Swedia, perusahaan ini sekarang dimiliki oleh Swedish Match. Produksinya modern dan paling berkembang di dunia. Satu gagasan yang menarik adalah menghilangkan penggunaan bahan kimia yang tidak baik untuk lingkungan. Kertas korek api pun dibuat dari kertas daur ulang.

Pursey (1892)

Ialah penemu kotak korek api. Dia menciptakan kotak korek api yang dapat diisi 50 batang korek. Temuannya ini membuat korek lebih praktis dibawa.

Perusahaan korek api Diamond (1910)

Perusahaan ini mematenkan bahan korek api berupa sulfur tidak beracun pada 28 Januari 1911. Hal tersebut dilakukan setelah pemerintah melarang penggunaan fosfor putih sebagai bahan korek api. Sebab, fosfor putih merupakan bahan kimia beracun.